Brilio.net - Dunia penerbangan Indonesia dihebohkan dengan ditemukannya penyusup pada pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Selasa (7/4). Setelah diselidiki, ternyata penyusup bernama Mario Steven Ambarita (21) itu menyusup di celah roda pesawat dari Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru hingga Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Selama 1 jam 10 menit Mario berada di celah roda pesawat yang sedang terbang di ketinggian 34 ribu kaki.

Bagaimana Mario bisa bertahan pada keadaan seperti itu? Berikut penjelasan yang dihimpun brilio.net dari berbagai sumber.

Saat seseorang berada pada posisi yang lebih tinggi, maka suhu udara juga akan semakin rendah. Pada kasus Mario yang terbang pada ketinggian 34 ribu kaki tersebut, diperkirakan suhu udara sudah mencapai 0 derajat bahkan lebih.

Ketika seseorang mengalami hal itu, maka bisa jadi dia akan mengalami hipotermia dan hipoksia. Hipotermia adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Sedangkan hipoksia yaitu kondisi kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian. Pada kasus yang fatal dapat berakibat koma, bahkan sampai dengan kematian. Namun, bila sudah beberapa waktu, tubuh penderita hipoksima akan segera berangsur-angsur normal kembali.

The Federal Aviation Administration (FAA) telah mempelajari insiden serupa yang terjadi pada 2014 di Hawai. FAA menyebutkan bahwa meskipun kurangnya tekanan udara atau peralatan O2 pribadi, adanya saluran hidrolik di balik roda akan memberikan panas yang signifikan.

Loading...

Hal itulah yang membuat Mario tetap bisa bertahan. Apalagi waktu terbangnya hanya 1 jam sehingga tidak sampai menimbulkan koma bahkan meninggal. Pada kasus di Hawai, penyusup bahkan bisa bertahan hingga 5 jam di roda pesawat.

"Naiknya pesawat ke ketinggian tertentu akan menyebabkan hipoksia yang menimbulkan ketidaksadaran bertahap," kata FAA seperti dikutip brilio.net dari npr.org, Rabu (8/4).

Tapi seiring dengan turunnya pesawat pada ketinggian puncak karena akan mendarat, maka tekanan oksigen, hipoksia, dan hipotermia perlahan hilang sehingga orang tersebut akan setengah sadar.

Kondisi tersebutlah yang membuat tubuh Mario membiru dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan hingga pingsan. Untung saja Mario terselamatkan, tidak sampai koma bahkan meninggal. Tapi perilaku Mario tersebut tak patut dicontoh karena akan membahayakan penerbangan.

BACA JUGA:

Hafiz, pria berwajah cantik ini menangis karena KTP-nya tersebar

Umur manusia bisa diprediksi lho, begini caranya

VIDEO: Hal-hal yang terjadi pada jasadmu di dalam tanah usai meninggal

Hindari minum teh pada momen-momen berikut ini

Kisah anak yang tak mensyukuri hidup dan selalu meremehkan orangtua