Brilio.net - Makanan yang kamu konsumsi sehari-hari umumnya mengandung gula. Makanan pokok mayoritas orang Indonesia pun merupakan penyumbang gula bagi tubuh. Dalam jumlah tertentu, gula dapat memenuhi kebutuhan tenaga. Namun jika dikonsumsi berlebihan juga akan berdampak kecanduan. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Simak penjelasan yang dikutip dari Science Alert, Sabtu (7/11) berikut ini.

Ketika gula masuk, reseptor di lidah aktif, kemudian mengirim sinyal ke korteks serebral yang merupakan daerah pemroses rasa. Dari sini, sistem reward yang dimiliki serebral korteks memberi sinyal agar otak menentukan apa yang selanjutnya dilakukan. Rasa senang atau puas yang dirasakan setelah memakan makanan yang mengandung gula, semisal cake, merupakan kerja sistem reward otak. Selain makanan, hal lain seperti seks dan interaksi sosial juga mampu menstimulus sistem reward yang menciptakan rasa senang ini.

Masuknya gula ke dalam tubuh juga mengirim sinyal ke otak untuk mengatur seberapa kadar insulin yang harus dihasilkan. Hormon ini berperan dalam pengaturan gula darah.

Konsumsi gula yang berlebihan dalam jangka waktu lama akan memberikan sinyal ke otak yang mendorong keinginan yang lebih, peningkatan, bahkan lepas kontrol atas konsumsi gula. Salah satu komponen yang berperan penting dalam sistem reward adalah dopamin, yang dikenal sebagai hormon pemberi rasa senang, semisal ketika memakan coklat atau melakukan seks. Jika stimulus yang dilakukan terlalu banyak, maka dopamin akan mendorong candu yang menyebabkan tubuh berusaha untuk menginginkan lebih dan lebih.

Untungnya, gula tidak mendorong lonjakan produksi dopamin yang terlalu besar seperti minuman keras, sehingga tingkat kecanduan yang bisa dihasilkan gula bisa dikatakan tidak terlalu parah.