Brilio.net - Diare seringkali dikaitkan dengan permasalahan pemilihan makanan. Baik karena alergi maupun dikarenakan kurangnya menjaga kebersihan pada makanan. Ketika diare muncul, biasanya diikuti dengan rasa sakit pada perut. Nggak jarang keringat dingin juga dirasakan bagi sebagian pasien. Biasanya mengonsumsi obat diare menjadi solusi bagi orang dewasa. Namun bagaimana jika diare terjadi pada anak? Apakah penanganannya akan tetap sama?

Ya, diare pun bisa menyerang anak-anak. Terlebih lagi, anak-anak kerap penasaran dengan berbagai hal dan sering memasukkan banyak benda ke dalam mulutnya. Hal ini juga yang bisa menjadi salah satu penyebab diare pada anak. Namun perlu diketahui juga, ada beberapa gejala yang menjadi tanda bahwa diare anak perlu segera ditangani oleh dokter.

Diare biasanya berlangsung selama 1-2 hari. Namun apabila anak mengalami permasalahan ini lebih lama, maka sebaiknya periksakan anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Dilansir brilio.net dari hopkinsmedicine.org, berikut poin yang perlu diperhatikan orangtua mengenai diare yang dapat terjadi pada anak.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

1. Diare jangka pendek.

Diare berjangka pendek biasanya terjadi selama 1-2 hari saja. Diare yang berlangsung 1 atau 2 hari dan hilang, mungkin disebabkan oleh makanan atau air yang terkontaminasi oleh bakteri (infeksi bakteri). Atau mungkin terjadi jika anak sakit karena virus.

2. Diare jangka panjang.

Waspadai apabila anak mengalami diare lebih dari 2 hari. Sebab, diare jangka panjang atau kronis bisa terjadi hingga berminggu-minggu. Permasalahan ini bisa disebabkan oleh masalah kesehatan lain seperti sindrom iritasi usus besar atau gangguan lain yang berkaitan dengan usus.

Maka dari itu, orangtua pun perlu waspada dengan penyebab dan gejala yang timbul pada anak. Untuk menghindari rasa panik orangtua saat menghadapi anak diare, ketahui penjelasan selengkapnya, yuk. Berikut ulasan brilio.net dari hopkinsmedicine.org dan berbagai sumber pada Kamis (22/7).

Penyebab diare pada anak.

1. Infeksi virus.

Penyebab diare pada anak © pexels.com

foto: pexels.com

Virus seperti rotavirus, bakteri seperti salmonella dan tak jarang parasit seperti giardia dapat menjadi penyebab diare pada anak. Virus merupakan penyebab paling umum dari diare anak.

Seiring dengan berlangsungnya diare, gejala yang timbul bisa termasuk muntah, sakit perut, sakit kepala, dan demam. Kondisi ini dapat terjadi sekitar 5-14 hari.

2. Obat-obatan tertentu.

Penggunaan obat-obatan tertentu juga bisa menjadi pemicu diare pada anak. Jika obat menimbulkan diare ringan, pastikan agar kecukupan cairan anak tetap aman, sehingga terhindar dari dehidrasi. Studi menunjukkan bahwa yoghurt dengan probiotik dapat membantu meringankan diare yang disebabkan oleh antibiotik.

3. Keracunan makanan.

Penyebab diare pada anak © pexels.com

foto: pexels.com

Keracunan makanan menjadi penyebab yang banyak menyerang anak-anak. Hal ini bisa bersumber dari mengonsumsi jajanan yang tidak sehat, kurang memperhatikan kebersihan makanan, sampai dengan kurangnya pengawasan dari orangtua.

Keluhan sakit perut dan muntah menjadi gejala yang mudah dikenali. Gejala diare karena keracunan makanan biasanya datang dengan cepat dan cenderung hilang dalam waktu 24 jam. Untuk mengatasi permasalahan ini, pastikan anak tetap terhidrasi dan hubungi dokter apabila diperlukan perawatan khusus.

4. Alergi pada makanan.

Perhatikan ketahanan tubuh anak. Hindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan timbulnya alergi kembali. Beberapa gejala yang muncul dari alergi adalah mual, sakit, perut, muntah, hingga diare. Maka lakukan konsultasi dengan dokter untuk memastikan alergi pada anak.

Untuk meminimalisir hal ini terjadi, orangtua bisa melakukan pengamatan terhadap makanan yang dikonsumsi anak dan reaksi yang ditimbulkan. Selain itu bisa juga dengan melakukan tes alergi dengan pengawasan dokter untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

5. Intoleransi makanan.

Penyebab diare pada anak © pexels.com

foto: pexels.com

Intoleransi makanan atau kesulitan mencerna hal-hal tertentu bisa juga menjadi salah satu penyebab diare pada seorang anak. Berbeda dengan alergi yang timbul secara mendadak, intoleransi makanan justru biasanya datang secara bertahap. Untuk gejala yang muncul terdiri dari mual, sakit, perut, muntah, hingga diare.

6. Kolitis ulseratif.

Kolitis ulseratif merupakan penyakit radang usus kronis yang menyebabkan peradangan di saluran pencernaan. Seseorang yang mengalami gangguan ini biasanya merasakan nyeri di daerah perut atau sendi, demam, kram perut, hingga diare berdarah. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat dalam mengatasi permasalahan ini.

7. Penyakit celiac.

Penyakit celiac memiliki gejala umum diare. Namun di sisi lain juga bisa menimbulkan kembung, kelelahan, kekurangan darah, dan osteoporosis. Namun banyak juga pasien yang tidak menunjukkan gejala. Penyakit ini merupakan gangguan autoimun yang muncul akibat mengonsumsi makanan yang mengandung gluten.

Gejala diare pada anak.

Penyebab diare pada anak © pexels.com

foto: pexels.com

Selain adanya gejala pada masing-masing penyebab, secara umum juga timbul beberapa tanda yang menunjukkan anak mengalami permasalahan ini. Meskipun masing-masing anak memiliki gejala yang berbeda, namun orangtua bisa memperhatikan beberapa di antaranya agar bisa memberikan penanganan yang tepat.

1. Kram.

2. Sakit perut.

3. Perut kembung.

4. Mual.

5. Penggunaan kamar mandi berkali-kali.

6. Demam.

7. Tinja berdarah.

8. Kehilangan cairan tubuh (dehidrasi)

Cara mengatasi diare pada anak.

Penyebab diare pada anak © pexels.com

foto: pexels.com

Cara mengatasi diare pada anak dapat berbeda-beda, tergantung dari faktor penyebabnya. Namun, seperti dilansir brilio.net dari hopkinsmedicine.org, pada umumnya saat mengalami diare, seseorang akan kehilangan banyak cairan. Sehingga pastikan anak tetap terhidrasi untuk mengganti cairan yang hilang.

Selain itu hindari pemberian minuman yang mengandung soda karena dapat memperburuk keadaan. Selanjutnya jika kondisi belum membaik, disarankan untuk segera menghubungi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.