Brilio.net - Masih ingat dengan Sultan Gustaf Al Ghozali yang beberapa saat lalu sempat bikin heboh. Ghozali meraup keuntungan miliaran rupiah dari penjualan non fungibel token (NFT) foto diri (selfie)-nya. Sejak itu, banyak orang, terutama anak muda mulai ramai membicarakan NFT yang sejatinya adalah aset digital di jaringan blockchain.

Sebenarnya, jauh sebelum heboh “keberuntungan” Ghozali, NFT sudah dikenal di kalangan tertentu, terutama para pelaku teknologi digital. Bahkan, NFT sudah ada sejak 2012. Hanya saja saat itu belum sepopuler sekarang. Popularitas NFT semakin meningkat sejak munculnya cryptocurrency ditambah lagi banyak seniman digital yang menjual karyanya melalui NFT. Semakin tenarlah aset computerized ini.

NFT dan blockchain © 2022 brilio.netnews.bitcoin.com

Nah saat ini semakin banyak orang yang penasaran dengan NFT. Bahkan peminatnya di Indonesia semakin meningkat. Tentu saja, untuk bermain NFT dan blockchain diperlukan pengetahuan yang mumpuni. Hal inilah yang membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo) melalui Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi baru-baru ini memperkenalkan seri webinarnya yang memuat berbagai pengetahuan tentang NFT dan blockchain.

Diluncurkan sebagai bagian dari kampanye #MakinCakapDigital, program ini bertujuan untuk mengedukasi publik, khususnya dalam merespons lonjakan minat terhadap cryptocurrency dan blockchain di kalangan anak muda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Bertajuk Obral Obrol liTerasi Digital (OOTD), program yang tayang perdana di Youtube pada 17 Februari lalu ini membicarakan topik Mengenal Dunia NFT dan Blockchain. Pembicara yang hadir antara lain Syammas P Sarbini dari Komunitas NFT Indonesia, Bhredipta Socarana dari Youth IGF (forum tata kelola Internet), dan kolektor NFT Indonesia Dennis Adhiswara.

Indonesia, negara dengan minat terbesar pada crypto

NFT dan blockchain © 2022 brilio.netOpenSea/@Ghozali Everyday

Seiring dengan pertumbuhan cryptocurrency yang berlangsung di seluruh dunia, Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan khususnya dalam mengadopsi teknologi baru. Tahun lalu, sebuah laporan startup pendidikan blockchain Australia menempatkan Indonesia pada peringkat tertinggi dalam daftar negara dengan minat terbesar pada crypto.

Menurut laporan tersebut, jumlah pencarian Google pada cryptocurrency, NFT, dan blockchain di Indonesia melonjak selama dua belas bulan terakhir dibandingkan dengan negara lain. Indonesia juga mengalami salah satu peningkatan tertinggi terkait keterlibatan dengan artikel crypto secara global.

Makanya nggak heran dalam acara webinar OOTD dihadiri ratusan peserta. Bahkan ribuan orang telah menonton rekaman video webinar ini. Pada webinar tersebut, Syammas membuka diskusi dengan topik mengenai dasar-dasar NFT dan bagaimana pengaplikasiannya di dunia saat ini.

Sementara Bhredipta berbicara tentang literasi digital seputar sistem blockchain, implementasinya, serta sejauh mana pengguna di Indonesia paham mengenai manfaat dan potensinya.

Perlu diketahui, pada tahun 2021, tercatat lebih dari 7,4 juta pemilik cryptocurrency yang ada di Indonesia, atau meningkat 85% dibandingkan tahun 2020. Pada awal tahun ini, Indonesia juga menjadi sorotan global awal setelah pemilik akun Ghozali Everyday di situs Opensea berhasil menjual swafoto dirinya dalam bentuk NFT “Ghozali Everyday” dan meraup untung hingga USD1 juta. Namun Syammas mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru dalam berinvestasi.

NFT dan blockchain © 2022 brilio.net@siberkreasi

“Ghozali Everyday adalah anomali. Siapa pun yang ingin menjelajahi dunia NFT dan blockchain perlu fokus pada komunitas dan pertumbuhan, bukan pada menghasilkan uang dengan mudah,” ujarnya.

Dennis Adhiswara, sebagai kolektor NFT juga mengungkapkan pendapat serupa. Dalam webinar tersebut, ia berbagi pengalaman dalam memilih dan mengoleksi karya seni NFT.

“Nilai dan potensi nyata NFT terletak pada teknologinya. Masyarakat perlu memahami dan mengetahui seluk beluk teknologi yang mendukungnya, memahami tantangannya, dan melindungi diri dari penipuan,” ujar Dennis.

Untuk mengantisipasi risiko dalam berinvestasi NFT, pemerintah juga telah menjalankan berbagai program literasi digital untuk mengedukasi masyarakat Indonesia, khususnya terkait keamanan navigasi teknologi dan keterampilan digital yang diperlukan untuk dapat mengoptimalkan inovasi.

(brl/red)

(brl/red)