1. Home
  2. ยป
  3. Wow!
21 Januari 2022 08:08

Mengenal 10 sosok calon pahlawan masa depan 'Every U Does Good Heroes'

Para pemuda inspiratif ini mendapat apresiasi atas ide dan kontribusi mereka yang sejalan dengan tiga hal yang jadi fokus strategi besar Unilever Dwiyana Pangesthi

Brilio.net - Bertepatan dengan hari jadinya yang ke-88 pada Desember lalu, Unilever Indonesia memberikan penghargaan kepada 10 sosok 'Every U Does Good Heroes'. Para pemuda inspiratif ini mendapat apresiasi atas ide dan kontribusi mereka yang sejalan dengan tiga hal yang menjadi fokus strategi besar Unilever yang dinamakan The Unilever Compass. Pertama, membangun planet yang lebih lestari. Kedua, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ketiga, berkontribusi pada masyarakat yang lebih adil dan inklusif.

Program 'Every U Does Good Heroes' yang telah berlangsung sejak Agustus lalu ini bertujuan untuk menemukan sosok-sosok pahlawan masa depan yang mampu menunjukkan kiprah dalam menciptakan Indonesia yang lebih hijau, sehat, sejahtera, adil, dan inklusif.

Selama Oktober sampai November 2021, terdapat 100 peserta terpilih dari berbagai daerah. Mereka kemudian mengikuti rangkaian mentoring dan selanjutnya disaring menjadi 10 pemenang yang masing-masing menerima micro grant sebesar Rp 30 juta untuk mengembangkan proyek mereka.

Nah, siapa saja kesepuluh sosok pemuda inspiratif itu? Yuk ikuti kiprah mereka bersama brilio.net, Jumat (21/1).

BACA JUGA :
Yuk join! Axe X Rich Brian ajak lo kolab bikin video musik bareng


1. Ari Gunawan, Bali - Organisasi Precious Island

foto: Unilever

BACA JUGA :
5 Ide permainan seru nan gokil di sekolah ini jadi obat kangen mujarab

Sosok bernama Ari Gunawan merupakan co-founder dari Precious Island dan penggagas perhelatan Global Youth Conference dalam penerapan SDG (Sustainable Development Goals) yang telah berjalan sejak akhir 2019.

Sustainable Development Goals sendiri adalah kumpulan tujuan berkesinambungan yang digagas oleh PBB sebagai agenda pembangunan manusia dan planet bumi.

Pria berusia 27 tahun itu bersama dua co-founder lainnya di Precious Island memiliki misi mendorong dan memfasilitasi anak muda untuk membuat aksi global yang inovatif dalam mendukung SDG.

Selain itu ia juga ingin membuktikan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kapasitas dan potensi yang sangat besar dan sepatutnya memiliki tempat di panggung global pencapaian SDGs.

2. Dicky Dwi Alfandy, Lampung - Gerakan Gajahlah Kebersihan dengan program Marine Debris Ranger

foto: Unilever

Dicky Dwi Alfandy merupakan inisiator gerakan "Gajahlah Kebersihan. Yakni organisasi pemuda berbasis di Lampung yang memberdayakan masyarakat pesisir dan urban untuk mengimplementasi sirkularitas pada isu sampah laut.

Organisasi ini memiliki berbagai program dalam 4 aspek yang disebut sebagai 4E. Yaitu Evidence/Riset, Education, Engagement/kampanye dan Ecopreneurship.

Gajahlah Kebersihan sudah mengedukasi lebih dari 26 ribu warga pesisir. Melalui proyek Marine Debris Ranger, Dicky ingin menjangkau kawasan sungai Wey Belau dengan melakukan pengelolaan sampah yang sirkular di kota Bandar Lampung, menuju masyarakat yang lebih sadar lingkungan dan sungai yang lebih bersih.

3. Katrin Sovia Ifana Sari Moko, Jakarta - Gerakan Be Home Indonesia

foto: Unilever

Katrin Sovia Ifana Sari Moko, wanita 27 tahun ini membuat program A Journey of Broken Home. Sebuah platform yang bertujuan menjadi wadah bercerita teman-teman broken home dan sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat secara umum terkait teman-teman dengan latar belakang broken home.

Selain menghadirkan survivor broken home, Be Home juga menghadirkan praktisi atau profesional di bidang kesehatan mental untuk berbagi perspektifnya tentang broken home. Harapannya, cerita yang telah diproduksi menjadi konten video dan didistribusikan melalui kanal media sosial dapat membantu meningkatkan awareness terhadap isu ini dan berdampak pada menurunnya angka perceraian.

4. Erliana, Jakarta - Komunitas Bersama Lansia

foto: Unilever

Bersama Lansia hadir sebagai wadah untuk layanan dan fasilitas kepada keluarga serta generasi muda Indonesia terkait kesehatan dan kesejahteraan lansia. Bersama Lansia dibentuk menyesuaikan dengan SDGs 3: Health and Well-being, action plan WHO terkait healthy aging, dan berjalan seiringan dengan salah satu pilar kebaikan Unilever, yaitu kesehatan dan kesejahteraan.

Erliana, sebagai perwakilan yang membentuk Bersama Lansia ingin meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai aging dan lansia, serta mendapatkan bimbingan dan layanan bersama ahli kesehatan dan organisasi terkait.

5. Ni Putu Gita Saraswati, Bali - Organisasi Kolaborasi Bumi Indonesia dengan project Menstrucaraka

foto: Unilever

Kolaborasi Bumi Indonesia berfokus pada isu kesehatan dan lingkungan. Dalam program Every U Does Good Heroes, Ni Putu Gita Saraswati Palgunadi hadir dengan usulan program bertajuk Menstrucaraka. Yakni sebuah program manajemen kebersihan menstruasi dengan sasaran siswa/siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang duduk di kelas 7.

Caraka terpilih diharapkan dapat menjadi peer educator di sekolah masing-masing. Tujuan diselenggarakannya kegiatan Menstrucaraka ini adalah untuk memilih duta manajemen kebersihan menstruasi (MKM) sehingga duta terpilih dapat menjadi agen peer educator selama satu tahun.

6. Arif Fajar Saputra, Jakarta - Organisasi NUXCLE dengan program ZUBOARD

foto: Unilever

NUXCLE mengembangkan kendaraan Last-Mile Electric Vehicle yang berfokus mengkonversi kendaraan (khususnya sepeda motor) menjadi kendaraan listrik dengan menargetkan lebih dari 13 juta sepeda motor listrik pada 2030 di Indonesia.

NUXCLE memproduksi kendaraan listrik seperti skateboard listrik hingga sepeda listrik dan memberikan layanan konversi dengan menggunakan Recycled Parts untuk transportasi jarak jauh dengan biaya mulai dari Rp 2,5 juta.

Kendaraan ini juga dapat membantu pengguna berkendara hingga jarak 30 km dengan pengisian daya 3 jam sekali. Kecepatan tertinggi dari kendaraan ini adalah 35 km/jam dan tanpa emisi gas.

7. Sandi Mahendra, Sumatera Utara - Gerakan Terpandu (Tiap Orang Punya Kesempatan Kedua)

foto: Unilever

Gerakan Terpandu (Tiap Orang Punya Kesempatan Kedua) ini digagas oleh pemuda 25 tahun bernama Sandi Mahendra. Terpandu merupakan sebuah ide usaha sosial yang fokus dalam memperjuangkan isu terkait hak-hak mantan warga binaan untuk mendapatkan kesempatan kedua, terutama hak untuk mendapatkan kesempatan pekerjaan layak.

Sandi ingin membantu mantan warga binaan dengan menargetkan tiga aktivitas utama, yaitu: kegiatan riset dan kampanye, platform pencarian kerja untuk mantan warga binaan, dan memberikan pelatihan kepada mantan warga binaan yang tidak memiliki keahlian sebelumnya.

8. Akbar Trio Mahsuri, Jawa Timur - Program Student Interfaith Peace Camp

foto: Unilever

Akbar Trio Mahsuri melalui Young interfaith Peacemaker Community (YIPC) menyelenggarakan Student Interfaith Peace Camp dan serangkaian acara lanjutan untuk menuntaskan kasus intoleransi di Indonesia. Melalui YIPC ingin mendorong anak muda untuk aktif menyuarakan perdamaian kepada khalayak, baik secara offline maupun online. Hingga menciptakan ruang aman dan inklusif bagi kelompok minoritas.

Ia menyasar mahasiswa seluruh Indonesia, di mana pada camp sebelumnya sudah bergabung juga mahasiswa di beberapa daerah seperti Palembang, Bandung, Kebumen, Solo, Surabaya, dan Madura.

9. Nissi Taruli Felicia, Jakarta - Komunitas Feminis Themis

foto: Unilever

Nissi Feminis Themis, dengan program Perempuan Tulidan Berdaya meyakini bahwa teman-teman tuli bisa melakukan apa saja kecuali mendengar. Melalui programnya, Nissi ingin memberikan edukasi kepada teman-teman tuli di berbagai sektor, yaitu pendidikan seksual, kepemimpinan, validasi data, dan advokasi. Hal tersebut akan menjadi pilar program pada gerakan yang dijalani oleh Nissi Taruli.

10. Diva Asnawi, Jakarta - Organisasi KONEKIN dengan project BISA

foto: Unilever

Lewat platform sosial KONEKIN, Diva Asnawi ingin memberikan sebuah wadah yang menghubungkan komunitas disabilitas dan non-disabilitas untuk mendorong ekosistem inklusif di Indonesia. KONEKIN ingin membuat setiap orang tahu isu disabilitas, kemudian mau saling terlibat, dan akhirnya mampu menciptakan suasana inklusif.

KONEKIN menghadirkan project BISA yang ditujukan untuk anak-anak usia 3-8 tahun. Project BISA menciptakan buku cerita anak bergambar dengan karakter dan topik mengenai anak penyandang disabilitas agar dapat mengurangi prasangka, stigma, dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Buku digital ini kemudian dinarasikan setiap minggunya dalam acara #BISABercerita.

Adv.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags