1. Home
  2. ยป
  3. Sosok
8 Juni 2020 17:58

Kisah Lailatul Qomariah, anak tukang becak jadi doktor muda

Lailatul Qomariah berhasil melakukan penelitian di Jepang dan memperoleh IPK 4.00 dalam gelar doktornya di ITS Surabaya. Dwiyana Pangesthi

Brilio.net - Mendapatkan gelar doktor menjadi dambaan sebagian besar orang. Namun jika membahas mengenai gelar akademik lulusan program pendidikan doktor atau srata-3 (S3), maka kebanyakan orang akan berpikir bahwa yang mendapatkan gelar tersebut sudah tua. Selain itu, stigma yang beredar di masyarakat mengenai biaya pendidikan masih menjadi salah satu batu penganjal.

Tapi hal itu ditepis oleh Lailatul Qomariah, anak tukang becak asal Madura yang telah membalikkan keadaan keluarga. Dilansir brilio.net dari merdeka.com, pada Senin (8/6), Lailatul Qomariah berhasil melakukan penelitian di Jepang dan memperoleh IPK 4.00 dalam gelar doktornya di ITS Surabaya.

BACA JUGA :
6 Fakta Ateng tukang tambal ban yang kini miliki 8 perusahan


Meski berasal dari ekonomi rendah, tak pernah memupus semangat cita-citanya menjadi dosen. Dara yang kini berusia 28 tahun, berasal dari Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Pamekasan, Madura. Laila merupakan anak pertama dari pasangan Saningrat dan Rusmiati. Bukan hal mudah diakui oleh Laila saat dirinya masih duduk di bangku sekolah. Apalagi menjadi siswa di SMA favorit di kotanya, SMAN 1 Pamekasan.

Ejekan dan cibiran menjadi konsumsi sehari-hari Laila sejak kecil. Ayahnya yang berprofesi tukang becak dan dari keluarga miskin, menjadi bahan ejekan yang kerap dilontarkan. Saat merasa pesimis, dia berusaha bankit lagi. Laila merasa harus membuktikan, meski oang tuanya miskin bukan berarti dia harus lemah.

Pernah merasa iri dengan teman-teman yang bisa memiliki motor dan fasilitas pendidikan yang mumpuni, dia berusaha menguatkan diri, bahwa perbedaan bukan berarti penghalang cita-cita.

BACA JUGA :
10 Potret terbaru Raeni, mahasiswa yang wisuda diantar ayah naik becak

foto: Instagram/@ITS_Campus via merdeka.com

Selama masih duduk di bangku SMA, setiap tahun Laila memperoleh peringkat nilai tertinggi di angkatannya. Hal ini menjadi salah satu tepisan melalui bukti nyata buat teman-teman yang telah mengejeknya.

Apalagi setelah lulus di tahun 2011, Laila berhasil meraih beasiswa untuk melanjutkan ke Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Setelah lulus S1 Fakultas Tekhnologi Industri, Laila kembali melanjutkan studi di program pascasarjana atau S2 di fakultas yang sama.

Tak tanggung-tanggung, torehan prestasi dan status cumlaude telah membawa namanya untuk memperoleh beasiswa lagi.

Demi menggapai cita-cita untuk menjadi seorang dosen, dia kembali mencari pasokan dana untuk bisa lanjut sekolah lagi. Meski menerima cibiran tetangga di kampung, karena usianya yang sudah berkepala dua tapi tak kunjung menikah, bukan jadi penghalang.

Laila berhasil masuk dalam daftar penerima Program Magister Doktor Sarjana Unggul (PMDSU). Memperoleh gelar ddoktor dari jurusan Teknik Kimia di Fakultas Teknologi Industri ITS Surabaya.

foto: Instagram/@ITS_Campus via merdeka.com

Sebuah keberhasilan yang luar biasa, hingga Laila menerima beasiswa dari pemerintah untuk menyelesaikan penelitian disertasi S3-nya di negeri sakura. Dia menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang memperoleh beasiswa penelitian tersebut.

Laila banyak dibantu di negara Jepang selama 6 bulan dalam membahas strukturasi partikel silica. Mengenal lebih dalam tentang bentuk silica dengan segala manfaatnya yang bermacam-macam. Sepulangnya ke Indonesia, dia segera menyelesaikan hasil penelitian yang diperolehnya di Jepang. Lulus dengan membawa nilai terbaik di angkatannya, sebagai doktor muda di usia 27 tahun dengan IPK 4.00.

Mengubah nasih keluarga menjadi salah satu prinsip utama Laila dalam mengemban pendidikan. Motivasinya, berusaha menjadi lebih baik untuk mengangkat derajat, serta martabat orang tua.

Apalagi dirinya yang berasal dari desa, yang notabene sebagian besar pemuda akan menikah usai lulus SMA. Dia tetap bersikeras ingin membalikkan keadaan keluarga yang dikenal miskin, menjadi sosok yang lebih dihargai.

Segala perjuangan memang dimulai oleh Laila dari bawah. Memulai karier awal, dia harus menjadi asisten dosen terlebih dahulu di ITS. Dia begitu berharap bisa menjadi tulang punggung keluarga, terutama bagi adik-adiknya.

Selain bercita-cita menjadi seorang pengajar di kampus ternama, Laila juga berharap bisa segera memberangkatkan bapak dan ibunya menjalankan ibadah umroh. Biarlah orang tua menikmati masa tuanya dengan melihat kesuksesan setiap anaknya.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags