1. Home
  2. ยป
  3. Sosok
13 Agustus 2021 12:55

5 Fakta pelukis penderita autis yang berbagi pengalaman lewat galeri

Ia sukses membongkar keterbatasan yang ada pada dirinya Yani Andriansyah
Foto-foto : dok Vinautismgallery

Brilio.net - Memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) seperti penderita autis, bukan perkara mudah. Peran orang tua menjadi sangat penting. Maklum, ABK umumnya sangat sulit bersosialisasi, sibuk dengan dirinya sendiri, bahkan emosinya sangat sukar untuk dikendalikan. Karena itu kesabaran, perhatian, dan dukungan ekstra dari orang tua dalam mendidik dan merawat ABK menjadi kuncinya.

Selama ini banyak orang tua yang terkesan pasrah dalam mendidik buah hati mereka yang didiagnosa sebagai ABK. Malah ada juga yang beranggapan anak ABK tidak punya talenta yang bisa dikembangkan. Pandangan inilah yang harus diubah.

BACA JUGA :
Rindu kasih orangtua, remaja autis ini tidur di makam sang ayah


Masih ingat kisah Simon Lynch dalam film Mercury Rising? Bocah autis berumur sembilan tahun itu dikejar-kejar FBI lantaran berhasil membobol sistem keamanan negara senilai USD 2 miliar. Setidaknya film tersebut memberikan gambaran penderita autis ternyata dapat memiliki kemampuan luar biasa. Lantas bagaimana pada kehidupan nyata? Tidak sedikit para penderita autis justru mampu menunjukan talenta yang sangat menakjubkan.

Sebut saja Vincent Prijadi Purwono, remaja kelahiran Surabaya, 13 Oktober 2003 yang didiagnosa sebagai penderita autis sejak berusia 13 bulan. Ternyata Vincent punya bakat seni yang mumpuni. Bahkan ia sudah beberapa kali menggelar pameran, baik di Tanah Air maupun di luar negeri. Malah sejumlah karya lukisnya sudah ada yang dijadikan merchandise untuk berbagai aktivitas termasuk kegiatan para penggemar bersepeda.

BACA JUGA :
Joshua Beckford, bocah usia 6 tahun jadi mahasiswa Oxford University

Jersey pesepeda yang merupakanmerchandise karya Vincent

Kemampuan anak ke 2 dari 3 bersaudara ini tidak begitu saja muncul. Berkat kesabaran orang tuanya dalam mendidik dan merawatnya, Vincent yang baru-baru ini membuka galeri pribadi, VinautismGallery di rumahnya di Surabaya, mampu membongkar keterbatasan (break the limits) yang ada pada dirinya.

Lantas bagaimana orang tua, khususnya sang ayah, Rudy Purwono selama ini mengarahkan talenta sang anak? Dalam sebuah acara bincang virtual VG Talk bertema Welcome to Vincent World baru-baru ini, Rudy menceritakan bagaimana ia dan keluarganya harus berjuang ekstra keras dengan penuh kesabaran membimbing Vincent hingga sukses seperti sekarang.

Anak saya (Vincent) didiagnosa sejak kecil. Saat sekolah dia mengalami kesulitan akhirnya kami menyalurkan kebutuhan dan pendidikannya melalui melukis, ujar Rudy.

Berikut lima fakta perjuangan Vincent selama ini dalam menjalani kehidupan sebagai penderita autis dan perjuangan keluarga yang tak kenal lelah.

1. Orang tua kaget dan berpikir negatif

Ketika awal didiagnosa menderita autis, orang tua Vincent kaget dan sempat berpikir berbagai hal negative tentang perkembangan anak mereka. Mungkinkah Vincent bisa berteman? Apakah Vincent bisa mandiri? Sederet pertanyaan tersebut berkecamuk dalam keluarga Rudy. Akhirnya Rudy dan keluarga sepakat untuk menjalani treatment dan terapi agar Vincent bisa berkembang.

Namun dalam perjalanannya mereka menemui berbagai hambatan seperti tantrum (ledakan emosi) dan cara berkomunikasi Vincent yang tidak sewajarnya layaknya anak-anak. Vincent juga kerap malu tampil di depan publik.

Setelah kita mengetahui apa yang menjadi kebutuhan ABK, maka perkembangan Vincent jauh lebih baik sampai sekarang. Bahkan ia bisa berkarya terus, lanjut Rudy.

Sebagai orang tua, Rudy selalu beranggapan pendidikan formal adalah yang utama. Sayangnya masih banyak yang mengabaikan kebutuhan ABK dengan bakatnya. Misalnya Vincent yang suka menggambar. Bakatnya sudah terlihat sejak ia duduk di kelas 6 SD. Sebagai orang tua pada umumnya, saat itu Rudy dan keluarga tetap mengutamakan sekolah formal.

Hingga pada akhirnya saat kelas 3 SMP, pihak sekolah tidak bisa lagi menangani perilaku Vincent. Saat itu Vincent sudah tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah. Sejak itulah awal perjalanan Vincent menggeluti dunia melukis dan menggambar.

2. Lukisan mulai terjual dan pameran

Sejak itu, orang tua Vincent mengintensifkan anaknya untuk melukis dan menggambar. Vincent pun mulai sering melukis dan menggambar di atas kertas ukuran A4. Setelah itu ia mulai memilih media kanvas berukuran kecil. Memasuki bulan keenam, Vincent melukis di atas kanvas berukuran 1x1 meter. Tak disangka, lukisan yang ia buat laku terjual.

Dari situlah jalan terang mulai terkuak. Vincent pun diundang pameran di Galeri Nasional di Jakarta. Kiprah berkesenian yang tak pernah dibayangkan orang tua Vincent sebelumnya. Bukan cuma sekali. Pada tahun berikutnya, Vincent diundang untuk kedua kalinya pameran di Galeri Nasional. Puncaknya pada Januari 2020, ia mendapat undangan kompetisi internasional di Amerika Serikat.

Dengan pencapaian tersebut, kita sebagai orang tua sangat bangga. Ternyata dia bisa menyalurkan bakatnya dan dapat menunjukkan kepercayaan dirinya menjadi remaja pada umumnya, ungkap Rudy.

3. Mengetahui cara berkomunikasi

Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk bisa menemukan cara berkomunikasi yang tepat dengan ABK. Salah-salah, justru bisa membangkitkan ledakan emosi yang berdampak pada psikologis si anak.

Torando Rodina, guru yang menangani Vincent sejak kecil mengisahkan bagaimana ia harus bersabar untuk memahami dan menghadapi Vincent kecil. Menurutnya tidak mudah untuk mengomunikasikan sesuatu pada Vincent.

Saya harus belajar memahami cara dia berkomuniaski. Melihat perilaku dan kebiasaannya. Dengan begitu saya tahu betul karakter Vincent dan akhirnya mudah mengajari dan membimbingnya sampai sekarang, ujar Torando.

4. Berpikir di luar kebiasaan

Sebagai orang tua, untuk mengetahui talenta ABK harus berpikir di luar kebiasaan (out of the box). Maklum, ABK punya cara berpikir dan berkomunikasi yang berbeda. Karena itu ada satu itik tertentu, ABK tidak bisa lagi mengandalkan sekolah formal. Karena itu bakat, kemampuan, dan cara berkomunikasi ABK yang harus diakomodasi. Selain itu orang tua juga harus berperan sebagai pelindung si anak, khususnya dari aksi perundungan (bullying).

Kalau kita sebagai orang tua bisa mengerti dan memahami cara berkomunikasi dan cara berpikir ABK, paling tidak kita bisa membuat dia bahagia. Ada bonding (ikatan emosional) antara orang tua dengan anak yang membuat anak ini menjadi seseorang, kisah Rudy.

5. Berbagi lewat galeri

Sebagai ABK, Vincent tergolong produktif dalam berkarya. Hingga saat ini sudah ratusan lukisan yang ia buat. Fakta ini membuat ia dan orang tuanya akhirnya mendirikan sebuah galeri, VinautismGallery. Pembuatan galeri ini berawal dari salah satu kamar di rumahnya. Awalnya hanya untuk menampung lukisan yang telah dibuatnya.

Namun karena jumlah lukisan terus bertambah, satu ruangan kamar dirasa tak cukup. Sang orang tua akhirnya harus menambah satu lantai lagi. Belakangan, lantai tersebut juga tidak cukup karena jumlah lukisan karya Vincent semakin bertambah. Tapi karena Vincent aktif melukis akhirnya ruangan yang sudah disediakan juga kembali tidak cukup untuk menampung karya-karyanya. Akhirnya kami buatkan galeri, papar Rudy.

Selain sebagai untuk menampung karya-karya Vincent, galeri ini juga berfungsi untuk tempat belajar dan berbagi pengalaman kepada para orang tua yang juga memiliki ABK.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags