Brilio.net - Menjadi penderita autis tak menghalangi Vincent Prijadi Purwono untuk menyalurkan bakat seninya. Buktinya, pria kelahiran Surabaya, 13 Oktober 2003 ini sudah menghasilkan 190 karya seni lukis. Dari semua karya yang ia ciptakan, sudah terjual 50 lukisan, termasuk merchandise yang layak jual di masyarakat.

Vincent, anak ke 2 dari 3 bersaudara terlahir normal seperti bayi pada umumnya. Tetapi, sang ibu melihat gejala autis Vincent sejak bayi. Ia didiagnosa menderita autis sejak umur 13 bulan. Situasi tersebut dihadapi keluarga dengan sikap positif bahwa Vincent adalah pribadi yang spesial.

Remaja autis pameran lukisan © 2021 brilio.net

Lalu, keluarga menemukan dan melihat melukis menjadi pilihan Vincent dalam berekspresi. Ia sangat serius dalam belajar sketsa dan teknik melukis. Semua dilakukan dengan senang hati tanpa tekanan, sangat berbeda ketika Vincent harus belajar seperti di sekolah.  

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Kini Vincent yang berusia 17 tahun, sudah bisa menghasilkan ratusan karya lukis. Hal ini membuktikan bahwa anak autis yang tidak bisa diatur dan cuek, kini menjadi seorang remaja dewasa yang punya tujuan, jati diri dan berkembangnya rasa empati.

Remaja autis pameran lukisan © 2021 brilio.net

Tak hanya itu, berbagai pameran telah ia lakukan di berbagai kota, termasuk pameran tunggal yang digelar sejak 5 Juni hingga 20 Juni di Langgeng Art Foundation, Gallery 2 di Jl Suryodiningratan No. 37 A, Yogyakarta. Dalam pameran di kota seni dan budaya ini Vincent mengambil tema “Berkendara ke Dunia Vincent”.

Di sini pengunjung dapat menikmati 14 karya Vincent yang bercerita tentang kereta api, pesawat terbang, peta, hal-hal yang berkaitan dengan kendaraan dan perjalanan. Hal yang sangat ia sukai dan nikmati selama ini. Pameran ini pun cukup menarik perhatian pengunjung.

Remaja autis pameran lukisan © 2021 brilio.net

Salah satunya, Nindya Paisan, seorang penikmat seni asal Bandung. Ia pun menyempatkan berkunjung saat sedang berlibur dengan teman-temannya.

“Saya suka yang ini, lukisan ini sangat detail, jalur, bentuk pesawat. Persis seperti apa yang saya lihat waktu menggunakan pesawat terbang Thailand,” ujarnya sambil menunjukan lukisan berjudul Trasportasi 2.

Remaja autis pameran lukisan © 2021 brilio.net

Selain menikmati pameran, pengunjung juga mendapatkan merchandise berupa tas serut dan masker yang menampilkan lukisan Vincent. Tentu menjadi nilai artistik tersendiri untuk pemakainya.

Ya, karya seni memang tidak mengenal usia. Siapa pun dapat menjadi penikmati maupun pelaku seni, baik muda dan orang tua, termasuk mereka para penderita autis seperti Vincent. Melalui seni, gagasan, perasaan, kekuatan emosi, aspirasi dan berbagai hal dalam benak dan jiwa manusia tersalurkan dengan keindahannya tersendiri. Yuk ajak keluarga terutama anak-anak berkendara memasuki dunia Vincent.

(brl/red)