1. Home
  2. »
  3. Sosok
9 November 2018 13:45

20 Tokoh penerima gelar pahlawan nasional di era Presiden Jokowi

Jasa mereka sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia. Nur Luthfiana Hardian

Brilio.net - Pahlawan adalah pejuang yang berani berkorban demi kemerdekaan Indonesia. Mereka bakal diganjar dengan gelar pahlawan nasional. Gelar ini tidak sembaranga karena orang tersebut bakal dilihat kontribusinya di masa perjuangan.

Setiap tahun untuk menyambut Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, Presiden Indonesia selalu memberikan gelar pahlawan nasional kepada para tokoh yang sudah berjasa untuk bangsa dan negara. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2014 hingga sekarang sudah memberikan gelar pahlawan nasional kepada beberapa tokoh pejuang di Istana Negara, Jakarta.

BACA JUGA :
6 Tokoh diberi gelar pahlawan nasional, ini profilnya


Tercatat sudah ada 20 tokoh yang menerima gelar pahlawan nasional di era Jokowi. Siapa sajakah para tokoh tersebut? Berikut sudah brilio.net rangkum dari berbagai sumber, deretan tokoh yang menerima gelar pahlawan nasional, Jumat (9/11).

1. Letjen (Purn) Djamin Ginting.

BACA JUGA :
10 Potret Susi Pudjiastuti dan asistennya ini bukti keduanya klop abis

foto: wikipedia.org

Tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2014, penganugerahan gelar pahlawan nasional atas segala jasa Djamin Ginting kepada Indonesia. Djamin adalah tokoh pejuang dari Provinsi Sumatera Utara. Djamin Ginting berhasil memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh dan melancarkan perang gerilya pada masa melawan Belanda dalam Agresi Militer I.

Djamin pernah menjabat sebagai Komandan Pertama Komando Pangkalan atau Komando Basis Kota Medan (KBKM) yang kemudian diubah menjadi Komando Militer Kota Besar (KMKB) Medan. Pada tahun 1966, Djamin Ginting menduduki jabatan non-militer, mulai dari Sekretaris Presiden merangkap Wakil Sekretaris Negara. Djamin wafat di Kanada ketika menjabat sebagai Duta Besar RI di Kanada tahun 1974.

2. Sukarni Karto Kartodiwirjo.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasioal untuk Sukarni Karto Kartodiwirjo tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2014. Sukarni adalah tokoh pahlawan berasal dari Blitar, Jawa Timur. Sukarni berperan dalam mendesak Soekarno dan Bung Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Sukarni sejak sekolah sudah bergabung dalam Partai Indonesia. Ia juga pernah dikirim ke Bandung untuk pelatihan dengan Soekarno. Setelah itu ia mendirikan organisasi Persatuan Pemuda Kita dan bergabung dengan Indonesia Muda. Jabatan terakhirnya sebagai Duta Besar RI untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia. Sukarni wafat di Jakarta pada 1981.

3. Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah.

foto: istimewa

Gelar pahlawan nasional untuk Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2014. Abdul Wahab lahir di Jombang. Ia berperan aktif dalam perumusan Resolusi Jihad dan meningkatkan dukungan Nahdlatul Ulama kepada Pemerintah Indonesia di masa penjajahan Belanda. Abdul Wahab adalah salah satu kiai besar NU dan berperan membentuk Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Abdul Wahab wafat di Jombang pada 1971.

4. HR Mohammad Mangundiprojo.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasional untuk HR Mohammad Mangundiprojo tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115/TK/ Tahun 2014. Tokoh yang berjasa saat revolusi yang terjadi di Surabaya pada masa penjajahan Jepang ini lahir di Sragen, Jawa Timur. Selain itu, ia memiliki peran besar dalam mengambil alih aset pribadi orang-orang Belanda untuk kepentingan perjuangan Indonesia. Seblumnya Mangoendiprojo adalah sosok pamong praja dan sempat bergabung di dunia militer. Ia wafat di Bandar Lampung pada 1988.

5. Bernard Wilhelm Lapian.

foto: istimewa

Gelar pahlawan nasional untuk Bernard Wilhelm Lapian tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015. Bernard Wilhelm Lapian lahir di Kawangkoan pada 30 Juni 1892 dan meninggal di Jakarta pada 5 April 1977 di usia 84 tahun. Bernard merupakan pejuang nasionalis berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Perjuangannya dilakukan dalam berbagai bidang sejak zaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, sampai kemerdekaan Indonesia.

6. Mas Isman.

foto: istimewa

Gelar pahlawan nasional untuk Mas Isman tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015. Mas Isman dikenal sebagai pejuang asal Jawa Timur dan pendiri TRIP. Pasca kemerdekaan, TRIP menyesuaikan diri dari brigade pertempuran menjadi brigade pembangunan.

7. Komjen Pol Moehammad Jasin.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasional untuk Moehammad Jasin tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015. Dia dikenal sebagai Bapak Brimob Indonesia karena sebagai pucuk pimpinan pertama satuan tersebut. Dulu nama kesatuan itu adalah pasukan polisi istimewa yang pernah memberontak kepada kekuasaan Jepang.

Awalnya satuan ini dibentuk Jepang pada tahun 1943 dengan nama Tokubetsu Keisatsu Tai. Peran M Jasin dan pasukan polisi istimewa sangat besar dalam pertempuran Surabaya.

8. I Gusti Ngurah Made Agung.

foto: istimewa

Gelar pahlawan nasional untuk I Gusti Ngurah Made Agung tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015. I Gusti Ngurah Made Agung adalah Raja Badung. Dia bersama dengan rakyat Bali berjuang habis-habisan melawan penjajah Belanda dalam perang Puputan Badung selama 1902-1906. I Gusti Ngurah Made Agung lahir di Puri Agung Denpasar, 5 April 1876. Dia merupakan Putra I Gusti Gede Ngurah Pemecutan atau Ida Tjokorda Gde Ngurah Pemecutan yang merupakan Raja Badung V.

9. Ki Bagus Hadikusumo.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasional untuk Ki Bagus Hadikusumo tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015. Ki Bagus Hadikusumo lahir di Yogyakarta pada 24 November 1890 dan meninggal di Jakarta pada 4 November 1954 di umur 63 tahun. Ki Bagus merupakan tokoh BPUPKI yang mendapat pendidikan sekolah rakyat dan pendidikan pondok pesantren di Yogyakarta.

Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).

10. KH Raden As'ad Syamsul Arifin.

foto: wikipedia.org

Presiden Joko Widodo memberikan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada KH Raden As'ad Syamsul Arifin atas seluruh jasa yang sudah diberikan kepada Indonesia. Keputusan ini tertulis melalui Kepres RI No 90/TK/tahun 2016.

Raden As'ad Syamsul Arifin adalah tokoh yang berasal dari Provinsi Jawa Timur. Almarhum putra dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah. As'ad belajar di pondok asuhan KH. Abdul Hamid dan Kiai Abdul Majid di Banyuanyar sejak usia 13 tahun. Setelah usianya beranjak 16 tahun, As'ad diminta ayahnya ke Makkah untuk belajar di Madrasah Shaulatiyyah.

Sekitar tahun 1924, As'ad kembali ke Indonesia dan belajar ke banyak pesantren, dan mulai berteman dengan para ulama. As'ad merupakan salah satu pendiri NU, komando Laskar Sabilillah dan Hizbullah. Di masa penjajahan Jepang ia bersama Kiai Abdus Shomad berhasil menyusun strategi perlawanan bersama para santri setelah mendapat pelatihan militer di Jember.

11. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasional untuk Zainuddin Abdul Madjid tertuang dalam Keputusan Presiden Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2017. Berasal dan lahir di Nusa Tenggara Barat pada 5 agustus 1898, dia adalah pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi massa Islam terbesar di provinsi tersebut. Jasa-jasa sosok yang wafat pada tahun 1997 itu adalah memberikan pendidikan untuk masyarakat di Lombok.

12. Laksamana Malahayati.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasional untuk Laksamana Malahayati tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 11/TK/Tahun 2017. Malahayati adalah pejuang perempuan dari Aceh. Pada masa pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam, ia memimpin dan memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (perkumpulan janda) melawan kolonial Belanda pada tanggal 11 September 1599. Dia berhasil membunuh Cornelis de Houtman. Nama Malahayati sebelumnya telah diabadikan sebagai pelabuhan di Teluk Krueng Raya, Aceh dan universitas di Bandar Lampung.

13. Sultan Mahmud Riayat Syah.

foto: istimewa

Gelar pahlawan nasional untuk Sultan Mahmud Riayat Syah tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2017. Sultan Mahmud Riayat Syah merupakan pejuang dari Kepulauan Riau. Sultan Mahmud berjuang melawan VOC di Tanah Lingga. Dia dikenal sebagai pejuang yang sangat berani dan pintar berperang di laut. Tak heran, jika beberapa sejarahwan menyebut Sultan Mahmud adalah 'hantu laut' karena kemahirannya mengatur strategi perang.

14. Prof. Drs. H. Lafran Pane.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasional untuk Lafran Pane tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2017. Lafran Pane dikenal sebagai pendiri organisasi Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI). Sosok kelahiran Sumatera Utara, 5 februari 1922 dan wafat pada tahun 1991 ini juga dikenal sebagai guru besar beberapa universitas di Yogyakarta.

15. Abdurrahman Baswedan.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasional untuk Abdurrahman Baswedan tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018. Abdurrahman Baswedan adalah tokoh yang berasal dari Yogyakarta. Ia sempat bekerja di surat kabar Sin Tit Po. Kemudian ia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan Soeara Oemoem, milik dr.Soetomo.

Abdurrahman Baswedan tercatat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tak hanya itu, ia juga aktif dalam gerakan pemuda peranakan Arab untuk berperang melawan Belanda.

Perjuangannya untuk bangsa Indonesia tak hanya sampai di situ. Ia pernah rela mengorbankan dirinya dengan membawa dokumen pengakuan kemerdekaan Indonesia ke Mesir pada tahun 1948. Pada saat pemeriksaan petugas Belanda, ia berhasil lolos, karena dokumen tersebut disembunyikan di kaus kakinya. Atas kenekatan dan semangatnya, Indonesia bisa mendapat pengakuan sebegai negara secara penuh, baik secara de jure maupun de facto.

16. Agung Hajjah Andi Depu.

foto: istimewa

Gelar pahlawan nasional untuk untuk Andi Depu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018. Andi Depu adalah tokoh dari Provinsi Sulawesi Barat. Depu lahir di Tinambung, Polewali Mandar pada 1907 dan meninggal pada 1985 di Makassar. Andi Depu merupakan sosok wanita yang telah berjuang dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Aksi-aksinya yang heroik mengantarkannya menjadi ketua Operasi Gerakan Wanita Mandar.

Wanita hebat ini sangat berpengaruh di Mandar. Sehingga ia berhasil menggerakkan masyarakat untuk menumpas penjajah. Keterlibatan Andi Depu benar-benar memberikan kobaran api semangat yang begitu besar.

17. Depati Amir.

foto: istimewa

Gelar pahlawan nasional untuk Depati Amir tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018. Depati Amir adalah tokoh yang berasal dari Bangka Beltung. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda dalam rentang tahun 1820-1828 bersama saudaranya Depati Hamzah.

Pemerintah Belanda sangat khawatir atas keberadaan Depati Amir. Pasalnya ia memiliki strategi untuk mengusir para penjajah. Berbagai upaya pemerintah Belanda gagal dalam menjatuhkan pasukan yang dipimpim oleh Amir dan Hamzah.

Amir sempat ditangkap oleh Belanda ketika pasukannya melemah akibat kukurangan pangan. Meski dalam tahanan Belanda, Amir dan adiknya tetap berusaha menularkan semangat perjuangan kepada rakyatnya.

18. Mr. Kasman Singodimedjo.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasional untuk Kasman Singodimedjo tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018. Kasman Singodimedjo adalah tokoh penerima gelar pahlawan nasional dari Jawa Tengah. Dia adalah Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yakni perintis parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, ia diangkat menjadi Jaksa Agung Indonesia. Prestasinya yang gemilang di bidang hukum mengantarkannya menjadi Menteri Muda Kehakiman di era Orde Lama. Selain itu, Kasman juga aktif berpolitik di Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

19. Ir. H. Pangeran Muhammad Noor.

foto: istimewa

Gelar pahlawan nasional untuk Pangeran Muhammad Noor tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018. Pangeran Muhammad Noor adalah tokoh berasal dari Kalimanatan Selatan keturunan bangsawan Banjar. Muhammad Noor dikenal sebagai pejuang yang memimpin Devisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan pada 1945-1949. Ia bergerilya di bawah kepemimpinan Hasan Basry. Namanya juga sangat dikenal sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI. Pangeran Mohamad Noor juga pernah menjabat Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik pada masa Soekarno.

20. Brigjen KH Syamun.

foto: wikipedia.org

Gelar pahlawan nasional untuk KH Syamun tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 123/TK/Tahun 2018.
Brigjen KH Syamun merupakan tokoh berasal dari Banten. Ia yang pernah bergabung dengan kelopok Pembela Tanah Air (PETA) pada tahun 1943-1945. KH Syamun merupakan keturunan KH Wasid, yang pernah bergerilya menentang penjajah Belanda.

Brigjen Syam'un merupakan pemimpin perjuangan Geger Cilegon pada 1888 melawan Belanda. Lahir pada tahun 1883, KH Syam'un menjadi pelopor pengajaran Islam tradisional melalui Al-Khairiyah di Banten yang kemudian tersebar di Jawa sampai Sumatera. Bagi masyarakat Banten, Syamun dikenal sebagai Bupati Serang usai kemerdekan Indonesia.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags