1. Home
  2. ยป
  3. Serius
24 Oktober 2018 06:36

Sebuah desa di Jogja sulap limbah elektronik jadi karya seni unik

Awalnya, warga masih ragu dalam mengolah limbah elektronik lantaran kandungan kimia yang dinilai berbahaya. Farika Maula

Brilio.net - Saat ini, hampir semua daerah yang ada di Jogja menciptakan Desa Wisata yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Sebagai sebuah Desa Wisata lingkungan atau biasa disebut ecotourism, Desa Sukunan yang terletak di Gamping, Jogja menawarkan berbagai macam paket wisata berupa pelatihan berbasis lingkungan yang sarat dengan edukasi dalam balutan rekreasi. Salah satunya Gondhal Gandhul Sukunan

BACA JUGA :
5 Foto Rini Puspitawati, model cantik yang kecelakaannya jadi sorotan


foto: Farika Maula

Wisata edukasi berbasis lingkungan ini cocok bagi siswa, mahasiswa atau masyarakat umum demi menumbuhkan rasa peduli menjaga lingkungan, khususnya keberlangsungan limbah elektronik yang terus bertambah.

Terkenal sebagai pengolah limbah sejak tahun 2009, saat ini nama Desa Sukunan semakin dikenal sampai mancanegara. Selain limbah sampah, Desa Sukunan juga mengolah limbah elektronik. Awalnya, Soeharto yang merupakan Koordinator Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Desa Wisata Sukunan mengakui bahwa warga masih ragu dalam mengolah limbah elektronik lantaran kandungan kimia yang dinilai berbahaya.

"Sampah B3 itu kan beracun, kadi masyarakat masih belum diwajibkan untuk mengolah limbah elektronik. Jadi kita bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup yang datang setiap setahun sekali untuk memberi pengarahan."

Selain itu, Soeharto juga menambahkan bahwa warga telah menjalankan proses pengolahan sampah secara mandiri baik tingkat keluarga atau kelompok. Berbagai kerajian telah dibuat oleh warga Desa Wisata Sukunan, termasuk limbah elektronik.

BACA JUGA :
Tabrak mobil polisi, begini kondisi Marco Simic pemain Persija Jakarta

foto: Farika Maula

Salah satu olahan limbah dari elektronik yang sangat kreatif adalah gantungan kunci. Komponen-komponen elektronik dari radio, televisi dan alat elektronik lainnya yang sudah tidak terpakai mereka gunakan untuk membuat gantungan kunci. Bentuknya beragam, ada yang menyerupai orang-orangan bahkan berbentuk hewan.

foto: Farika Maula

Bentuk orang-orang atau hewan yang sudah terbentuk dari komponen elektronik tersebut lantas dimasukkan dalam cetakan dan disiram dengan adonan resin. Orang-orangan yang tertanam dalam resin tersebut dinamkan Gondhal-Gandhul Sukunan.

foto: Farika Maula

"Jadi Gondhal-Gandhul Sukunan itu artinya gantungan kunci dari Desa Wisata Sukunan," ujar Soeharto.

Ide pembuatan kerajinan tangan tersebut berangkat dari inisiatif para finalis Dimas-Diajeng Jogja demi mengangkat potensi yang ada di Desa Wisata Sukunan. Selain membawa angin segar, ide kreatif tersebut dapat menampik ketakutan warga tentang limbah elektronik yang berbahaya.



SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags