1. Home
  2. ยป
  3. Politik
14 Juni 2019 12:08

4 Politikus Koalisi Indonesia Adil Makmur bikin geger Prabowo-Sandi

Politikus dari partai Demokrat dan PAN dinilai mendukung setengah hati. Lola Lolita

Brilio.net - Koalisi Prabowo-Sandi tampak tak terima dengan keputusan perhitungan resmi versi Komisi Pemilihan Umum (KPU), di mana mereka menentang hasil hitung cepat tersebut.

Tak hanya itu saja, banyak kabar yang beredar bahwa koalisi Prabowo-Sandi tidak solid atau setengah hati mendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Partai Demokrat dan PAN menjadi partai koalisi yang dikabarkan setengah hati mendukung Prabowo.

Ketidaksolidan Demokrat dan PAN terlihat dari pernyataan-pernyataan sebagian elite politik Demokrat dan PAN yang seolah menyudutkan Prabowo dan kerap kali membuat kubu Prabowo geram. Bahkan isu yang beredar mengatakan bahwa Demokrat dan PAN akan meninggalkan Prabowo.

Lalu siapa saja politikus Demokrat dan PAN yang membuat kubu Prabowo-Sandi geram? Berikut lansiran brilio.net dari merdeka.com, Jumat (14/6).

1. Andi Arief.

BACA JUGA :
Bambang Widjojanto sebut ajakan pakai baju putih langgar asas pemilu


foto: Liputan6.com


Politikus Partai Demokrat, Andi Arief beberapa kali membuat kubu Prabowo-Sandi kesal. Salah satunya ialah mengenai cuitannya yang menyebutkan 'setan gundul' memberi informasi sesat ke Prabowo. Pernyataan itu disampaikan ketika Prabowo mengklaim memenangkan Pilpres 2019.

"Partai Demokrat ingin menyelamatkan Pak Prabowo dari perangkap sesat yang memasok angka kemenangan 62 persen. Setan Gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen," kicau Andi dalam akun Twitternya @AndiArief__, Senin (6/5).

Hal itu mendapat tanggapan langsung dari Sandiaga Uno.

"Mungkin bisa diklarifikasi ke Pak Andi Arief, ini kan zamannya menggunakan bahasa terang, jangan menggunakan bahasa bahasa abu abu dan gelap bersayap seperti ini, menurut saya sebut nama saja," kata Sandiaga.

2. Ferdinand Hutahaean

BACA JUGA :
Soal rekonsiliasi dengan Prabowo, Jokowi sebut bisa sambil berkuda

foto: merdeka.com

Politikus Demokrat lainnya, yakni Ferdinand Hutahaean juga membuat kubu Prabowo-Sandi geram. Hal ini berawal dari pernyataan Prabowo usai melayat Ani Yudhoyono di kediaman SBY beberapa hari lalu. Kala itu Prabowo menyampaikan kenangan terhadap Ibu Ani, namun tidak hanya itu Prabowo juga mengatakan sikap politik Ibu Ani.

Namun hal ini justru mendapat pandangan berbeda dari Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat tersebut, di mana ia mengatakan bahwa pembicaraan antara SBY dan Prabowo terkait sikap politik mendiang Ani Yudhoyono hanya untuk internal.

"SBY meyakinkan Prabowo bahwa Demokrat tidak setengah hati memenangkan lu Wo (Prabowo). Cuman lu enggak serius menang, bahkan Bu Ani saja memilih lu. Kan kira-kira begitu ya. Tapi hal itu tidak untuk disampaikan ke publik itu adalah perbincangan internal," kata Ferdinand pada merdeka.com, Minggu (9/6).

3. Rachland Nashidik.



foto: Liputan6.com
Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik juga sempat membuat kubu Prabowo-Sandi geram. Hal ini karena Rachland meminta capres nomor urut 02 Prabowo Subianto untuk segera membubarkan Koalisi Indonesia Adil Makmur. Alasannya gugatan hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai persyaratan partai koalisi.

"Pak @prabowo, Pemilu udah usai. Gugatan ke MK adalah gugatan pasangan Capres. Tak terpilih sebagai anggota Partai. Saya usul, kamu segera bubarkan Koalisi dalam pertemuan yang dijadwalkan," kata Rachland dalam akun Twitter resminya, Minggu (9/6).

4. Bara Hasibuan.

foto: merdeka.com

Tak hanya itu saja, politikus PAN yang beberapa kali membuat hubungan PAN dan koalisi Prabowo memanas, yakni Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Bara Hasibuan. Ia menilai bukti-bukti yang dibawa Tim Hukum Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga untuk sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi kurang valid.

"Kalau berdasarkan apa yang kita lihat di laporan media, memang ternyata bukti-buktinya kurang valid ya," ujar Bara.

Tak hanya itu saja, Bara juga mengungkapkan bahwa partainya lebih baik daripada koalisi pemerintah. Alasannya, secara historis PAN memang selalu berada dalam pemerintahan.

"Pertimbangannya macam-macam, kita kan secara historis dari organisasi kita berdiri Agustus 98 sampai sekarang sebagian besar waktu kita ada di pemerintahan. Jadi memang sudah jadi pola dan tradisi dalam PAN buat ada di pemerintahan," kata Bara.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags