Dulu nelayan, pemain ini sukses masuk Timnas Kolombia di Piala Dunia

Ayahnya, Gilberto, bekerja sebagai nelayan, tetapi tidak pernah ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya.

Ayahnya, Gilberto, bekerja sebagai nelayan, tetapi tidak pernah ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya. Namun, Bacca mewarisi kegemaran Gilberto pada sepak bola.

“Sejak dia berusia tiga tahun, dirinya (bacca) hanya suka bola. Kami membelikannya mobil (mainan), tetapi dia tidak menginginkannya, dia hanya menginginkan bola,” kata ibu Bacca, Eloísa Ahumada, dalam sebuah wawancara tahun 2014 dikutip dari remezcla.com.

saat masa sekolah, Bacca seringkali bolos sekolah untuk bermain di lapangan tanah di seberang blok rumahnya. Pada usia sembilan tahun, orang tua mereka mendaftarkannya di akademi sepak bola lokal.

“Kami akan menyelesaikan kegiatan akademi dan dia tinggal dan dia tidak akan pulang sampai matahari terbenam,” kata Rafael Reyes, pelatih bola pertamanya.

“Dia akan tinggal bersama beberapa anak lain dan mereka akan menyundul umpan silang, melakukan tendangan guntingnya. dia melatih dirinya sendiri,” kenang Reyes dikutip dari remezcla.com.

Namun, bakatnya yang tidak terlalu mentereng membuatnya tidak dilirik oleh klub manapun. Dirinya kembali melanjutkan sekolahnya, dan setelah lulus dari sekolah menengah, ia mencari kerja untuk membantu keluarganya.

foto: Twitter/@thorsaltato

Dia menjual ikan yang ditangkap ayahnya dan tak lama kemudian mendapatkan pekerjaan sebagai kernet sopir bus. Perusahaan bus memutuskan untuk membuat tim sepak bola dan Bacca menjadi salah satu pemainnya. Tak disangka, klub PO bus itu berhasil memenangkan kejuaraan lokal. Bos Bacca sangat senang, mereka menaikkan pangkat Bacca menjadi pengontrol jadwal bus. Karenanya, Bacca lebih punya waktu untuk melanjutkan latihan sepak bola

foto: Twitter/@KopsVeryOwn

Namun, pada turnamen lain yang diikuti, klub PO bus tersebut gagal. Salah satu momennya adalah ketika Bacca gagal mengeksekusi penalti. Hal tersebut membuat bos perusahaan bus itu kecewa dan memecat Bacca dari pekerjaannya.

Ditengah kondisi menganggur tak punya kerjaan, Bacca ditawari oleh paman pacarnya untuk tes masuk ke sebuah klub Barranquilla FC. Dirinya berhasil sukses yang kemudian sebuah klub elit di Liga Kolombia berminat untuk merekrutnya.

foto: Twitter/@GuiaFutebolPlus

Hanya dalam tiga tahun bersama Junior, Bacca sudah mencetak 74 gol dan memenangkan dua gelar juara liga. Pada musim 2011 ia diboyong Club Brugge dari Belgia. Di sana, ia menjadi pencetak gol terbanyak liga pada musim 2012-2013, dan terpilih sebagai pemain terbaik kompetisi tersebut.

Karirnya semakin menanjak ketika ia direkrut klub Spanyol, Sevilla. Bacca bermain sebanyak 72 penampilan dan mencetak 34 gol. di klub ini juga Bacca memenangkan gelar bergengsi yakni Liga Eropa pada musim dua musim berturut-turut pada 2013-14, dan 2014-2015.

foto: Instagram/@goleador70

Setelah itu ia direkrut untuk bermain di klub AC Milan dan Villareal. Kesuksesannya malang-melintang di klub-klub Eropa membuatnya dipanggil ke Timnas Kolombia. Dirinya menjadi bagian skuad Kolombia ketika berhasil melaju ke perempat final Piala Dunia 2014.

foto: Instagram/@goleador70

Carlos Bacca juga tampil 4 tahun lalu di Piala Dunia Rusia dan membawa Kolombia tembus ke babak 16 besar sebelum takluk oleh Inggris. Bersama timnas Kolombia, total Carlos Bacca sudah mengantongi 52 penampilan dan 16 gol.

 

 

 


(brl/far)