1. Home
  2. ยป
  3. News
8 Januari 2016 16:29

Jatuh bangun dalam pekerjaan sebagai lulusan SMP, Ria pantang menyerah

Gadis yang kini berusia 24 tahun ini, ingin melanjutkan ke jenjang SMA, namun karena keterbatasan biaya, dia memutuskan merantau ke ibu kota. Agustin Wahyuningsih
Ilustrasi pekerja wanita.

Brilio.net - Dunia pekerjaan itu layaknya rimba belantara. Kita bisa tercebur ke dalam lingkungan yang begitu asing dan dituntut beradaptasi sesegera mungkin. Ada banyak kisah saat seseorang masuk ke dunia pekerjaan, baik suka maupun duka. Hal ini juga dirasakan oleh Ria (bukan nama sebenarnya) yang hanya memegang ijazah SMP.

Sebetulnya gadis yang kini berusia 24 tahun ini, ingin melanjutkan ke jenjang SMA, namun karena keterbatasan biaya, dia memutuskan merantau ke ibu kota. Pada usianya yang masih belia, 15 tahun, Ria bekerja di rumah makan di Jakarta Pusat. Dengan modal Rp 200.000 dari ibunya, Ria berangkat ke Jakarta.

Beruntungnya, di sana dia sudah mendapat jatah makan dan tempat tinggal. Tak pelak membuatnya berani memberikan seluruh gaji pertamanya kepada ibunya di kampung halaman, Gunungkidul, Yogyakarta. "Gaji pertama saya Rp 350.000, terus sisa Rp 100.000 dari uang saku Si Mbok, saya jadikan satu. Uang Rp 450.000 itu saya kirim ke Si Mbok di rumah," kata Ria kepada brilio.net melalui layanan story telling bebas pulsa ke 0-800-1-555-999, Jumat (8/1).

Tak ada kekhawatiran hidup kekurangan dalam hati Ria kala itu, hanya keinginan supaya ibunya menganggap dirinya hidup bahagia dan cukup di ibu kota.

Selain gaji yang bagi Ria lumayan, lingkungan kerja di rumah makan tersebut juga menyenangkan. Menurutnya, sejumlah 32 karyawan di rumah makan itu, sudah seperti keluarga sendiri. Bahkan kalau ada yang keluar, justru merasa kehilangan.

Selama tiga tahun bekerja di Jakarta, Ria memutuskan pulang. Sempat pulang sebentar ke Gunungkidul, Ria akhirnya bekerja sebagai penjaga counter es campur. Sialnya, selama dua bulan dia tak digaji. Bosnya berdalih semua karyawan sedang dibuatkan nomor rekening dan akan diberikan waktu berikutnya. Tak nyana, ternyata bosnya terlilit utang besar. Akhirnya, Ria memutuskan berhenti.

Ria tak patah arang. Akhirnya dia bekerja di sebuah hotel di Kota Yogyakarta sebagai tukang masak sekaligus bersih-bersih. Tapi tak lama kemudian, Ria keluar karena ada kejadian yang cukup tak mengenakkan. "Saya tahu ada kenalan yang check in di hotel dan menawari saya hal yang nggak-nggak. Saya takut sendiri, makanya keluar," katanya.

Tak berselang lama, Ria mendapat pekerjaan di toko onderdil sepeda motor di kota yang sama. Setelah bekerja selama kurang lebih dua tahun, Ria kembali menganggur sebab tak ada perubahan nominal gaji. Sekalipun sempat mendapat jatah makan sebanyak dua kali, tapi bagi Ria, gaji yang diterimanya tetap tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Selesai dari toko onderdil, Ria kembali bekerja di sebuah rumah makan di Kota Yogyakarta. Baru satu minggu bekerja, dia sudah tak betah sebab pergaulan teman-temannya yang baginya cukup mengerikan. "Jadi, beberapa teman itu suka banget jalan-jalan malam hari sama pacarnya gitu, terus pulangnya pagi. Daripada saya lama di sana terus terbawa ke pergaulan nggak baik, saya memilih berhenti aja," sambungnya dengan suara lembut.

Perjuangan dalam pekerjaan Ria tak berhenti sampai di situ. Anak bungsu dari dua bersaudara ini kembali mencoba pekerjaan di sebuah warung makan di Kota Yogyakarta. Lagi-lagi, muncul permasalahan pekerjaan yang dilakoninya pada pertengahan 2015 lalu, tepatnya sebelum bulan puasa tiba. Kali ini, juragannya benar-benar membuatnya bingung.

"Bos dan anaknya suka banget marah-marang terus adem, tapi bisa marah-marah lagi. Emosian. Terus kalau menyuruh itu selalu bareng-bareng semua pekerjaan, saya jadi bingung sendiri," ungkap Ria.

Sekarang ini, Ria sibuk membantu Si Mbok mencari rumput untuk ternak sapi dan membereskan pekerjaan rumah tangga. Namun begitu, dia ingin kembali bekerja. Dia ingin mendapatkan banyak rezeki supaya bisa memenuhi kebutuhan ibunya. Namun ke depannya, dia ingin berwirausaha sendiri.

"Saya juga ingin segera membahagiakan Si Mbok untuk bisa menikah. Si Mbok berharap saya segera mendapat orang yang bisa mengayomi. Biar Si Mbok juga hidupnya semakin tentram," pungkas Ria.

Cerita ini disampaikan oleh Ria melalui telepon bebas pulsa Brilio.net di nomor 0-800-1-555-999. Semua orang punya cerita. Ya, siapapun termasuk kamu punya kisah tersembunyi baik cerita sukses, lucu, sedih, inspiratif, misteri, petualangan menyaksikan keindahan alam, ketidakberuntungan, atau perjuangan hidup yang selama ini hanya kamu simpan sendiri. Kamu tentu juga punya cerita menarik untuk dibagikan kepada kami. Telepon kami, bagikan ceritamu!

BACA JUGA :
Kamu tipe orang kantoran yang seperti apa sih? Pelajari yuk..


SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags