1. Home
  2. ยป
  3. Ilmiah
10 September 2021 22:22

5 Fakta anyar penelitian virus corona di China, dibiayai AS sejak 2014

Fakta ini dari bocoran dokumen tentang keterlibatan EcoHealth Alliance, organisasi kesehatan yang berbasis di AS dalam pendanaan penelitian. Hapsari Afdilla

Brilio.net - Virus corona sampai saat ini masih menjadi pusat perhatian pemerintah di seluruh dunia. Upaya mengendalikan virus yang muncul sejak akhir tahun 2019 itu terus dilakukan secara bertahap. Mulai dari pembatasan sosial, penerapan protokol kesehatan yang ketat, sampai dengan vaksinasi.

Kendati demikian sampai saat ini virus corona tersebut masih belum jelas juntrungannya. Berbagai spekulasi bermunculan terkait asal muasal virus yang telah menginfeksi ratusan juta orang di dunia itu.

BACA JUGA :
5 Fakta Varian Mu Covid-19, berpotensi kebal terhadap vaksin


Namun, baru-baru ini media The Intercept membuat laporan terbaru terkait penelitian virus corona di laboratorium China. Dalam artikel tersebut, Amerika Serikat (AS) disebut telah mendanai studi tentang virus corona pada kelelawar di Laboratorium Virologi Wuhan, China.

Lantas apa saja fakta terbaru terkait penelitian virus corona di China yang ditemukan pada bocoran dokumen tersebut? Berikut ini rangkuman brilio.net dari media The Intercept, Jumat (10/9).

1. Amerika Serikat membiayai sejak 2014.

BACA JUGA :
Persentase kematian pasien Covid-19 Indonesia masih tertinggi di dunia

fotoilustrasi: Pixabay.com

Dokumen yang berisi lebih dari 900 halaman itu menjabarkan keterlibatan EcoHealth Alliance, organisasi kesehatan yang berbasis di AS, telah menggunakan uang federal untuk mendanai penelitian virus corona kelelawar di laboratorium China.

Dokumen itu dirilis sehubungan dengan litigasi undang-undang kebebasan informasi yang diajukan oleh The Intercept terhadap National Institutes of Health. Dari dokumen yang bisa diakses secara umum, proyek yang dinamai 'Understanding the Risk of Bat Coronavirus Emergence' itu sudah dimulai sejak tahun 2014.

Hibah yang diberikan untuk periode 2014-2019 oleh EcoHealth Alliance untuk penelitian virus corona kelelawar, totalnya mencapai $ 3,1 juta atau setara Rp 44 miliar untuk nilai tukar dollar ke rupiah sebesar Rp 14.200 pada Jumat (10/9) , termasuk $ 599.000 (Rp 8,5 miliar) yang digunakan sebagian oleh Institute Virologi Wuhan untuk mengidentifikasi dan mengubah virus kelelawar yang kemungkinan menginfeksi manusia.

2. Bahaya tentang penelitian virus corona pada kelelawar sudah tertuang dalam dokumen proposal.

fotoilustrasi: Pixabay.com

Melakukan penelitian atau eksperimen tentang virus corona ini bagi sebagian ilmuwan dianggap terlalu berisiko, bahkan jauh sebelum pandemi dimulai. The Intercept dalam dokumen tersebut menemukan beberapa risiko atau bahaya yang dikhawatirkan oleh para ilmuwan itu bahkan sudah tertuang dalam proposal.

"Pekerjaan lapangan melibatkan risiko tertinggi terpapar SARS atau CoV lainnya, saat bekerja di gua dengan kepadatan kelelawar yang tinggi di atas kepala dan potensi debu tinja untuk terhirup," begitu tulisan yang tertera dalam dokumen, dikutip dari The Intercept, Jumat (10/9).

EcoHealth Alliance lewat dokumen tersebut bahkan sebenarnya tahu persis akan ada potensi kebocoran di laboratorium. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Alina Chan, ahli Biologi Molekuler di Broad Institute.

"Dalam proposal ini, mereka sebenarnya menunjukkan bahwa mereka tahu betapa berisikonya pekerjaan ini. Mereka terus berbicara tentang orang yang berpotensi digigit - dan mereka menyimpan catatan semua orang yang digigit," kata Chan.

3. Penelitian ini melibatkan orang yang bekerja dengan hewan hidup.

fotoilustrasi: Pixabay.com

Eksperimen yang dipimpin oleh Presiden EcoHealth Alliance, Peter Daszak, itu menyaring ribuan sampel kelelawar untuk virus corona baru. Bahkan orang-orang yang bekerja dekat dengan hewan juga dilibatkan dalam proyek ini.

Detail lain yang dibongkar oleh dokumen yang bocor itu adalah fakta bahwa eksperimen utama dengan tikus yang dimanusiakan dilakukan di Laboratorium keamanan hayati level 3, Pusat Percobaan Hewan, Universitas Wuhan, dan bukan di Institute Virologi Wuhan yang seperti sebelumnya diasumsikan.

4. Pembuatan virus baru dan informasi penting terkait penelitian di Wuhan.

fotoilustrasi: Pixabay.com

Menurut Richard Ebright, seorang ahli Biologi Molekuler di Rutgers University, dokumen tersebut berisi informasi penting terkait penelitian di Wuhan, termasuk pembuatan virus baru.

"Virus yang mereka buat diuji kemampuannya untuk menginfeksi tikus yang direkayasa untuk menampilkan reseptor tipe manusia di sel mereka," tulis Ebright dikutip dari The Intercept, Jumat (10/9).

Ebright juga mengatakan dokumen itu memperjelas bahwa ada dua jenis virus corona baru yang dapat menginfeksi tikus yang dimanusiakan.

"Ketika mereka bekerja pada virus corona terkait SARS, mereka melakukan proyek paralel pada saat yang sama pada virus corona terkait MERS," lanjutnya.

5. Respons dari EcoHealth Alliance.

foto ilustrasi: Instagram/@ecohealth_alliance

Disinggung mengenai persoalan hibah ini, Robert Kessler selaku Manajer Komunikasi di EcoHealth Alliance ikut memberikan tanggapannya.

"Kami mengajukan hibah untuk melakukan penelitian. Instansi terkait menganggap itu sebagai penelitian penting, dan dengan demikian mendanainya. Jadi saya tidak tahu bahwa ada banyak hal untuk dikatakan," ungkapnya dilansir dari The Intercept.


SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags