Brilio.net - Didorong oleh kewajiban dan panggilan hati untuk merawat pasien virus corona, seorang dokter berusia muda asal Indonesia rela menempatkan diri untuk berada di garis depan rumah sakit di kota London.

Dokter berusia 26 tahun tersebut diketahui bernama Ardito Widjono. Putra pertama pasangan Argo Onny Widjono dan Endang Nurdin itu telah bertugas di rumah sakit Barnet di London utara sejak akhir Maret lalu. Kala itu, kasus infeksi Covid-19 di Inggris baru sekitar 17 ribu dengan jumlah meninggal sekitar 1.000 orang.

"Tak ada yang bisa memprediksi kapan corona berakhir," kata Dito, sapaan akrabnya kepada Antara di London, dilansir brilio.net pada Senin (1/6).

Dikutip dari laman Merdeka, Dito sendiri berhasil menyelesaikan pendidikannya di program studi kedokteran King's College London pada tahun 2017 silam. Ia lalu bertugas di bagian ortopedi atau bedah tulang.

Selanjutnya, ketika pandemi virus corona merebak di Inggris, ia pun dipindah tugas untuk menangani bagian gawat darurat Covid-19.

Loading...

"Menjelang akhir Maret 2020, setelah menghabiskan empat bulan bekerja di bedah ortopedi, saya menerima email dari direktur medis rumah sakit yang menjelaskan bahwa saya akan dipindahtugaskan ke bagian gawat darurat," katanya.

Kendati demikian, Dito mengaku bahwa dirinya tidak merasa khawatir ataupun mempermasalahkan pemindahan tugas tersebut. Alih-alih, ia justru merasa bangga karena diberi kepercayaan yang begitu besar dengan menjadi garda terdepan melawan corona.

"Saya senang dengan kepindahan tersebut dan saya merasa bisa berada di tempat yang paling dibutuhkan dan saya bangga akan dapat menggunakan keterampilan saya untuk membantu para penderita penyakit yang belum ada obatnya," ujar Dito.

Lebih jauh, ia lalu bertutur bahwa pada hari pertama bertugas dirinya merasa seperti memasuki tugas militer dengan pengarahan sebelum pergi ke laga pertempuran. Pasalnya, saat itu bertepatan dengan minggu pertama di mana puncak kasus corona melanda Inggris.

"Banyak dari kami belum pernah melihat pasien dengan gejala Covid-19 sebelumnya dan beberapa dari kami tidak bekerja di bangsal medis selama bertahun-tahun," katanya.

Namun begitu, bersama dengan rekan-rekan sejawatnya, ia tetap bersemangat untuk menghadapi tantangan sekali seumur hidup ini. Di luar segala keterbatasan yang ada, ia dan teman-temannya selalu mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan pasien.

"Terlepas dari situasi keterbatasan APD, kami semua bertekad untuk memberikan pasien kami perawatan terbaik," katanya.

Untungnya, Dito yang sempat jadi pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom dan pengurus Young Indonesian Professionals Association (YIPA) ini pun mulai terbiasa merawat pasien corona setelah beberapa hari bertugas.

"Kami merasa lega mendapati bahwa sebagian besar pasien kami membaik dan akhirnya dipulangkan. Tetapi bagi mereka yang memburuk, itu adalah pilihan yang sulit antara perawatan intensif atau tinggal di bangsal untuk perawatan paliatif, memastikan mereka bisa senyaman mungkin meskipun menjelang akhir hidup mereka. Saya sering menghabiskan malam hari untuk berdoa agar semua ini segera berakhir," katanya.