Penyakit Mental

Tanpa
Pandang Bulu


Dunia geger ketika desainer ternama Hollywood, Kate Spade ditemukan tewas di apartemennya di kawasan Manhattan, Amerika Serikat, Selasa (5/6/2018) karena gantung diri.

Wanita 55 tahun yang dikenal sebagai desainer tas ikonik dengan corak penuh keceriaan itu ternyata mengalami depresi sejak lama akibat perceraian dengan suaminya.

Kematian Spade menambah panjang daftar pesohor yang tewas bunuh diri. Banyak yang tidak menyangka kalau di balik desain ceria, spade mengalami depresi yang mengakibatkan suicidal thought atau pikiran bunuh diri.

Tentu masih lekat dalam ingatan bagaimana vokalis sekaligus frontman Linkin Park, Chester Bennington juga mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di rumah pribadinya pada 20 Juli 2017 silam. Penyebabnya diduga karena Bennington depresi. Ada juga yang mengatakan, ia menjadi korban bully semasa kecil, bahkan pelecehan seksual.

Sumber Foto: Instagram/@shinee

Pesohor lain yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri termasuk Jonghyun SHINee. Pesohor K-Pop itu ditemukan tak sadarkan diri di apartemennya di Cheongdamdong, Seoul, Korea Selatan, 18 Desember 2017. Jonghyun tewas akibat menghirup gas karbon monoksida dari briket batubara yang dibakarnya. Cara ini banyak dilakukan warga Korea Selatan untuk bunuh diri.

Bunuh diri memang bisa terjadi pada siapapun tanpa memandang kasta. Kisah bunuh diri sambil membawa anggota keluarga juga dilakukan Evy Suliastin Agustin (26) warga Jombang, Jawa Timur yang mengajak tiga anaknya dengan menenggak obat nyamuk cair, Senin 15 Januari 2018. Aksi nekat korban dipicu persoalan dengan suaminya.

Warga Dusun Karobelah 3, Desa Karobelah, Mojoagung Jombang ini bisa diselamatkan. Namun ketiga anaknya tewas. Depresi lagi-lagi menjadi penyebab Evy melakukan aksi nekatnya itu.

Mengenal berbagai macam penyakit mental

Tindakan bunuh diri merupakan salah satu akibat dari penyakit mental yang tidak tertolong. Ada banyak penyakit mental yang mungkin kamu nggak tahu, atau bahkan ternyata pernah kamu alami. Beberapa macam penyakit yang cukup sering di alami banyak orang adalah adalah Depresi, Bipolar Disorder, Obsesif Compulsif Disorder (OCD), Anxiety, Eating Disorder, Schizophrenia hingga Suicide (Bunuh diri).

Infografik: Aditya Bebe Permana (Brilio.net)

Penyakit mental yang dirasakan oleh seseorang dalam tingkat yang parah, dapat menyebabkan gangguan jiwa ataupun tindakan bunuh diri.

Tingginya angka bunuh diri memang membuat miris. Setidaknya berdasarkan catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka bunuh diri di Indonesia mencapai 2,9 kasus dari 100.000 populasi pada 2015. Memang secara umum, angka tersebut masih lebih rendah dibanding Thailand (16 kasus dari 100.000 populasi). Namun, sejatinya ada banyak kasus bunuh diri di Indonesia yang tidak dilaporkan.

Alasannya, masih banyak yang berpikir bahwa bunuh diri adalah hal yang sangat tabu untuk dibicarakan di masyarakat dan juga keluarga. Pemikiran ini membuat

psikolog, psikiater dan juga para peneliti mengalami kesulitan mengumpulkan data dan juga mencari solusi untuk masalah ini.

Penyakit mental bisa dialami siapa saja

Ingat! Penyakit mental tidak memandang umur, ras, jenis kelamin dan juga status. Bahkan orang-orang sesukses Chester Bennungton atau Kate Spade tidak kebal dari penyakit mental seperti pemikiran bunuh diri.

Penyakit mental merupakan hal penting yang harus disadari semua orang, khususnya para generasi milenial yang memiliki risiko lebih tinggi, khususnya pemikiran untuk bunuh diri.

Banyak faktor yang membuat anak muda lebih rentan untuk mengambil keputusan bunuh diri. Salah satunya karena soal kegagalan dalam percintaan. Hal ini yang pernah dialami Indah Mustikasari, peneliti di perusahaan startup asal Malaysia, iPrice.

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Dalam wawancara khusus dengan Brilio.net beberapa waktu lalu, Indah mengaku pernah memutuskan untuk bunuh diri gara-gara dicampakkan sang pacar. “Beberapa waktu lalu saya ada di posisi yang mungkin tidak semua orang pernah mengalami. Saya pernah depresi dan juga berpikir menyudahi hidup saya,” katanya.

Kisahnya bermula ketika sang pacar memutuskan hubungan dengannya saat masih kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung pada 2014 silam. Indah menjalani LDR dengan sang pacar yang merupakan teman semasa SMA. Sang pacar tinggal di Yogyakarta. “Selama pacaran saya lebih merasa mental abusive. Sering didiemin. Kalau dia marah nggak pernah ada penjelasan,” ungkapnya.

Padahal selama menjalani LDR, Indah selalu berusaha menyiapkan waktu untuk ketemu. Sampai-sampai ia rela pergi ke Yogyakarta untuk menemui sang pacar. Namun, pacarnya kerap bertindak sebaliknya. Tidak mau ketemuan. Malah belakangan ia tahu sang pacar selingkuh.

Hal inilah yang membuat ia sakit hati. Tanpa disadari rasa sakit hati itu terus tumbuh dan mengganggu pikiran dan perasaannya. Puncaknya terjadi pada 2016 saat ia merasa depresi berat.

Sampai-sampai ia merasa mendapat bisikan bahwa dirinya sudah nggak berguna. Dia merasa nggak berharga. Bisikan-bisikan itulah yang terus menghantuinya hingga terbersit niat untuk bunuh diri.

Beruntung saat dalam kondisi depresi, ada seorang teman yang menganjurkan agar ia pergi ke psikolog. Ia pun mengikuti saran temannya itu. Dari situ akhirnya gadis yang saat ini tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia menjalani terapi untuk mendestruksi pikiran-pikiran negatif itu.

“Karena terapi itu pikiran-pikiran saya yang tadinya ingin bunuh diri mulai teralihkan. Saya pun mulai produktif. Kepercayaan diri saya tumbuh lagi,” jelas cewek yang kini kerap berbagi pengalaman.

Melihat berbagai kasus yang muncul, sudah saatnya semua elemen masyarakat mulai meningkatkan kesadaran akan peristiwa bunuh diri. Bukan tak mungkin, aksi bunuh diri terjadi pada orang-orang terdekat kita.

Saatnya peduli dengan penyakit mental

Nah, buat kamu yang merasa pernah mengalami salah satu penyakit mental, ingat bahwa kamu nggak sendiri. Tidak ada persoalan yang tak selesai. Kamu bisa melakukan beberapa hal yang bisa meringankan bebanmu.

Pertama, cari orang yang bisa kita percaya. Sadarlah, setiap orang umumnya memiliki orang-orang dekat dan bisa dipercaya. Mereka adalah orang-orang yang bersedia mendengarkan curahan hati dan juga masalah yang sedang kita alami. Jangan sungkan untuk menghubungi mereka, jelaskan bahwa kamu membutuhkan bantuan mereka. Jangan memendam permasalahan sendiri, ceritakan hal-hal tersebut ke orang-orang terdekat.

Sebab, berdasarkan penelitian, berbagi cerita ke orang-orang yang dekat dengan kita dapat menurunkan tingkat stres.

Mereka dapat menjadi pendengar dan juga memberikan masukan yang membantu kita agar merasa lebih baik.

Di era digital, hal penting yang juga mesti diperhatikan adalah menjauhi media sosial. Sebab, media sosial terbukti dapat meningkatkan tingkat stres dan mendorong depresi. Berdasarkan penelitian Univesitas Brown, risiko depresi orang yang secara aktif menggunakan media sosial 3,2 kali lebih besar dibanding

yang tidak menggunakan media sosial. Kita bisa mulai melakukan “diet” media sosial. Batasi waktu penggunaan media sosial.

GIF: Giphy.com

Penyakit mental sering kali muncul karena seseorang merasa kesepian. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk keluar dari perasaan kesepian adalah melakukan berbagai aktivitas.

Kamu bisa melamar pekerjaan untuk magang, ikut kompetisi, menjadi volunteer, ikut kelas-kelas pelatihan singkat, atau olah raga. Aktivitas fisik reguler dapat memperlancar aliran darah yang bermanfaat untuk berbagai hormon yang ada di otak lho.

Setidaknya, buat diri sibuk dengan berbagai kegiatan untuk menghilangkan pikiran dan juga perasaan negatif dan mengubahnya menjadi positif. Tidak mudah memang, namun kamu terus memaksa diri agar dapat tetap berpikir positif tentang hidup ini.

Jika sudah melakukan hal-hal di atas namun masih tidak menolong, maka ini saatnya mencari bantuan tenaga profesional. Hal ini sangat penting untuk dilakukan jika penyakit mental dirasa udah mencapai tahap yang serius, hingga memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.

Jika belum siap untuk berbagi masalah ini secara langsung ke psikolog karena merasa tidak percaya, kamu bisa mendaftar ke konsultasi online gratis dan menjadi anonim. Pastikan mencari konsultasi psikolog online yang terpercaya.

Nah, buat kamu yang memiliki teman atau kolega yang mengalami depresi, kamu bisa banget menolong mereka. Caranya, kamu bisa menjadi pendengar yang baik.

Sebab, kesalahan yang sering kali terjadi adalah kita mendengar untuk merespons, bukan untuk mengerti. Orang-orang yang sedang mengalami penyakit mental, khususnya depresi sering kali tidak membutuhkan saran, mereka hanya ingin didengarkan.

Bersimpati atas keadaanya saat ini, sabar, tenang dan coba terima semua cerita-cerita yang mereka bagikan. Kamu bisa merespon cerita mereka dengan “Apa yang bisa saya bantu?”, “Iya, saya mengerti”, atau “Saya selalu di sini kalau kamu butuh”. Beri tahu mereka bahwa kita benar-benar peduli akan kondisi mereka, dan mereka tidak sendiri.

GIF: Giphy.com

Terpenting adalah jangan pernah menghakimi. Salah satu alasan banyak orang enggan bercerita mengenai kondisi mental mereka, adalah ketakutan akan dihakimi.

Apapun yang mereka alami pada masa lalu, seburuk apapun itu, walaupun hal itu tidak sesuai dengan nilai moral yang kita anut, jangan sekali-sekali menghakimi mereka.

Ambil waktu untuk mendengarkan apa yang sedang mereka rasakan. Ini bukan soal apa yang mereka sudah lakukan, namun lebih mengenai bagaimana perasaan mereka akan hal tersebut dan juga apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka.

Selain itu, jangan mem-bully pada orang yang sedang depresi. Sudah sering terbukti bahwa bully dapat memicu tindakan bunuh diri.

Efek bully terhadap perasaan dan kualitas diri dari korban sangat destruktif. Mereka akan merasa tidak bernilai, tidak dicintai, tidak diinginkan. Coba kita menempatkan diri di posisi mereka. Apa kita mau dipermalukan di depan umum? Jika tidak, maka jangan lakukan itu ke orang lain.

Langkah selanjutnya bisa membujuk orang yang memiliki penyakit mental untuk mendapat pertolongan tenaga profesional. Jika kondisi teman atau keluarga tidak juga membaik, kita harus secara perlahan menasehati mereka untuk mendapatkan pertolongan yang serius.

Yakinkan mereka bahwa pertolongan itu ada dan juga pemikiran buruk yang mereka pikirkan hanya sementara. Beri tahu bahwa hidup mereka sangat penting.

Setiap tahun, ada jutaan orang di dunia yang mengalami masalah dengan kondisi mental. Mereka bisa jadi teman, keluarga, pasangan, atau bahkan diri kita sendiri. Terus belajar mengenai tanda-tanda penyakit mental dan juga bagaimana cara menghadapinya.

Yang jelas, pemahaman mengenai kesehatan mental berperan besar bagi lingkungan yang positif dan juga dapat menyelamatkan banyak jiwa. Bayangkan jika kesehatan mental bukan hal yang tabu dan negatif, akan banyak orang-orang yang mulai angkat suara dan berbagi mengenai pertarungan yang mereka lalui.

Apalagi, sekarang udah banyak konseling online yang bisa kamu coba.

Seperti di sehatmental.id ataupun pijarpsikologi.org

Saatnya kita sama-sama sadar dan lebih terbuka terhadap pemahaman kesehatan mental dan juga pemikiran bunuh diri.

Banyak orang-orang yang sayang dengan kita. Tetap kuat dan jangan menyerah. Jangan disimpan sendiri,
share your thought!

back to top

Share this article