Problematika

Pendidikan
Indonesia



Sungguh miris membaca hasil penelitian Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI/New Indonesia) tahun lalu mengenai Right to Education Index (RTEI mengukur pemenuhan hak atas pendidikan di 14 negara, termasuk Indonesia.

Dari 14 negara yang disurvei (Inggris, Kanada, Australia, Filipina, Ethiopia, Korea Selatan, Indonesia, Nigeria, Honduras, Palestina, Tanzania, Zimbabwe, Kongo dan Chili) dipilih secara acak, kualitas pendidikan di Indonesia masih di bawah Ehtiopia dan Filipina!

Berdasarkan penelitian bertema “Bridging The Gap Between Education Policy and Implementation” yang menggunakan lima indikator, Indonesia menempati urutan ke-7 dengan nilai skor sebanyak 77%. Kelima indikator itu yakni governance, availability, accessibility, acceptability, dan adaptability.

Dari lima indikator itu, ada dua hal yang membuat skor Indonesia lemah yakni kualitas guru (availability) dan sekolah yang belum ramah anak (acceptability). Jelas kondisi ini menjadi tamparan bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa cita-cita nasional bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa masih butuh kerja keras untuk terwujud. Bukan rahasia jika warga negara yang cerdas akan membangun negara yang kuat bertarung di kancah persaingan global. Pada titik inilah peran pendidikan penting artinya. Sayangnya, hal ini berbanding terbalik dengan keadaan pendidikan di Indonesia.

“Soal tata kelola guru bermasalah dari sisi kuantitas dan kualitas. Belum ada pemetaan atau evaluasi secara nasional mengenai kualitas guru di Indonesia,” ujar Ubaid Matraji selaku Koordinator Nasional JPPI ketika ditemui di kantornya baru-baru ini.

Memang beberapa waktu lalu sempat ada program Uji Kompetensi Guru (UKG). Namun program itu dipertanyakan banyak kalangan. Metode itu dinilai belum cukup memotret kualitas guru secara nasional. Sedangkan program sertifikasi yang selama ini dilakukan lebih ditujukan pada insentif kepada guru agar mendapat tunjangan yang lebih layak.

Hingga saat ini, sudah 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dialokasikan untuk pendidikan. Dari jumlah itu, 80% dialokasikan untuk tunjangan guru. Mestinya ketika tingkat kesejahteraan guru sudah meningkat, harus dibarengi dengan peningkatan mutu guru. Tapi fakta yang terjadi justru sebaliknya. Hingga kini kualitas guru masih dipertanyakan.

Tapi, benarkah kualitas guru adalah problem utama pendidikan di Indonesia? Pernyataan Ubaid dibantah Retno Ambarwati, guru SMP Negeri 47 Jakarta Pusat. Menurut pengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) itu, secara umum kualitas guru saat ini sudah baik. Retno tidak memungkiri masih ada guru yang kurang memenuhi standar profesionalisme. Tapi tidak bisa digeneralisir semua guru kualitasnya minim.

Jadi, jika ukuran kualitas guru hanya disandarkan pada masalah materi akademik yang disampaikan kepada peserta didik (murid), maka hal itu harus dilihat secara holistik. Tidak bisa setengah-setengah. Menurut Retno, selain memberikan materi pelajaran, guru juga harus memperhatikan perkembangan peserta didik, seperti membantu dan menangani murid yang memiliki masalah di luar jam sekolah.

Lain lagi pendapat Supriyanto, guru Matematika SMP Negeri 47 Jakarta Pusat, dalam melihat kualitas pendidikan ada tiga faktor utama yang harus diperhatikan yakni subjek (guru, sekolah, manajerial sekolah), objek (peserta didik, keluarga, dan lingkungan), dan kebijakan (kurikulum, pendidikan dan pelatihan, serta kesejahteraan).

Kalau ditinjau dari sisi kualitas guru, ketika tiga faktor itu belum terpenuhi akan sangat berpengaruh pada kualitas guru.



“Memang masih ada faktor yang memengaruhi mutu guru. Masih banyak guru yang melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan paradigma lama dengan pola text book. Buku itu yang ditransfer ke anak. Sekarang abad 21 harus lebih global lagi,” kata Supriyanto.

Saat ini setidaknya guru harus memerhatikan faktor 4C (communication, collaboration, critical thinking and problem solving, dan creativity and innovation). Faktor inilah yang belum banyak dikuasai guru apalagi di daerah terpencil. Karena itu pendidikan dan pelatihan pendidikan guru harus terus ditingkatkan. Tapi menurutnya secara umum standar guru sudah cukup baik.

Selain guru, sebenarnya peran anak juga menjadi sorotan penting untuk perkembangan pendidikan di Indonesia. Sebagai contoh, banyak anak yang merasa tidak cocok terhadap kurikulum pendidikan di Indonesia. Pelarian mereka adalah jalur pendidikan alternatif.

Sebut saja sekolah alternatif Erudio School of Art (ESoA) yang didirikan oleh Monika Irayati. ESoA sendiri berfokus dengan sistem pembelajaran yang menggunakan seni visual dan desain sebagai perantara. Monika beranggapan banyak anak yang memiliki keinginan tidak sejalan dengan tujuan sekolah pada umumnya, yaitu belajar untuk mendapat nilai dan naik kelas yang menurutnya adalah kepentingan jangka pendek.

Ditanya mengenai tanggapan terhadap riset JPPI bahwa pendidikan Indonesia lebih rendah dari negara ketiga (Ethiopia), Monika memiliki pendapat sendiri. "Kalau kita terus berduka, bersedih, nyalahin sana-sini, untuk apa? Kalau saya orangnya practical. Lebih baik kita melakukan sesuatu dan menjadi bagian untuk perkembangan pendidikan di Indonesia daripada kita komplain terus,” tuturnya.

Dari sisi guru, pendidikan alternatif memang berbeda dalam menilai kemampuan seorang guru, tidak sama dengan sekolah pada umumnya. Menurut Monika, yang terpenting untuk menjadi guru adalah panggilan hati mereka yang memang mau berbagi ilmu kepada anak-anak, bukan karena terpaksa, yang tentunya akan meningkatkan kualitas guru.

"Di dalam jaringan pendidikan alternatif, cara kami melihat guru bisa jadi berbeda dengan pemerintah. Untuk kami, hal terpenting pada saat merekrut bukanlah berdasarkan sertifikat ataupun ijazah, tetapi lebih kepada karakternya. Apakah memang dia punya keinginan dan hasrat untuk berbagi, atau dia memiliki pengetahuan yang pas dengan cara kami dan sebagainya,” ungkapnya.

Menurut dia, jangan sampai sertifikasi atau bentuk apapun menghalangi orang yang memang sebenarnya terpanggil untuk menjadi guru, kemudian terkendala. Padahal belum tentu individu yang punya sertifikat terpanggil untuk mengajar dan memang menjiwai profesinya tersebut.

Selain karena adanya faktor guru, sekolah yang ramah anak pun perlu menjadi sorotan terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Terbukti, masih banyaknya kekerasan hingga bullying yang terjadi di sekolah.

Untuk meminimalisir kejadian tersebut, harus ada komunikasi dua arah antara guru dan siswa, seperti yang sudah diterapkan di beberapa sekolah

Tugas kami itu bukan hanya memberikan akademi, tapi di luar akademis pun lebih dominan. Terkadang banyak siswa yang whatsapp saya di luar jam sekolah untuk menceritakan masalah mereka di rumah ataupun antara teman-temannya. Dengan banyaknya masalah itu, otomatis kami memberikan materi akademis itu tidak mudah", ungkap guru SMPN 47, Retno Ambarwati.

Di sekolah alternatif seperti ESoA, pendekatan yang dilakukan terhadap anak dengan membantu mereka mencari tahu siapa dirinya. Kunci utamanya anak dibantu untuk mencari tahu, dia apa dan siapa. “Kemudian, diharapkan nantinya bisa ikut serta untuk berkontribusi di lingkungannya", ujar Monika.

Karena setiap murid berbeda dari beragam sudut pandang seperti kemampuan menyerap ilmu atau menyelesaikan masalah, maka sudah menjadi tugas guru untuk beradaptasi dan memenuhi kebutuhan pendidikan muridnya. Inilah yang dilakukan ESoA.

Artinya, people power menjadi penting, baik melalui pendidikan umum ataupun alternatif. Karena itu pendidikan harus dikelola dengan baik bukan hanya sekolah tapi juga semua pihak, masyarakat, pemerintah, dan sekolah dengan tetap mengacu pada tujuan dan arah pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Memang mengatasi problematika pendidikan di Indonesia tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak faktor-faktor yang harus diperbaiki dan memerlukan waktu yang tidak singkat.

Perlunya kesadaran masyarakat untuk berbagi juga bisa menjadi salah satu faktor untuk mendorong pendidikan Indonesia agar lebih baik. Sudah banyak lembaga yang memberikan kemudahan untuk membantu masyarakat, khususnya anak muda, untuk ikut serta berperan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Salah satunya adalah Indonesia Mengajar, yang memberikan wadah kepada generasi millenial untuk membantu mengajar di sekolah-sekolah yang berada di pelosok daerah. Kamu bisa mendaftarkan diri sebagai relawan di sini

Selain itu, kamu juga bisa ikut serta di Akademi Berbagi, sebuah gerakan sosial nirlaba yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang bisa diaplikasikan langsung sehingga para peserta bisa meningkatkan kompetensi di bidang yang telah dipilihnya. Kamu juga bisa ikut sebagai relawannya di sini

Yuk, ikut serta dalam membangun pendidikan Indonesia!

back to top

Share this article