lll
HOAX
si racun digital
Share :
Dunia sepak bola Tanah Air kembali dirundung duka. Seorang pendukung Persija Jakarta, Haringga Sirilla (23) harus meregang nyawa di area parkir Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Bandung, Minggu (23/9) sekitar pukul 13.00 WIB atau sebelum laga antara Persib vs Persija digelar. Pria asal Cengkareng, Jakarta Barat yang merupakan anggota Jakmania, sebutan pendukung Persija Jakarta dikeroyok oleh sejumlah oknum Bobotoh, pendukung Persib. 
Sumber Foto : brilio.net
Berdasarkan keterangan Polisi, korban meninggal setelah sekerumunan mengeroyok korban menggunakan balok kayu, piring, botol dan benda-benda lainnya. Dalam peristiwa ini, Polisi pun telah menetapkan delapan tersangka. Tak menutup kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah

Akibat peristiwa ini, ucapan duka marak untuk Haringga di media sosial, termasuk dari basis suporter Persib dalam situs resminya di vikingpersib.co.id.
Sumber Foto : vikingpersib.co.id
Sayangnya, di tengah duka itu media sosial juga ramai dengan adanya isu sweeping yang dilakukan Jakmania terhadap kendaraan berpelat D (Bandung) di Jakarta. 

Malah dalam postingan yang disebarkan disertai gambar kerumunan orang berkumpul di tengah jalan di bilangan Jakarta Timur itu membuat risau warga Bandung yang sedang berada di Jakarta. Mereka pun mengingatkan sesama warga Bandung agar berhati-hati. 
Mengetahui adanya kabar itu, anggota Jakmania pun mengklarifikasi bahwa berita di media sosial itu bohong alias hoax. Malah lewat akun Twitter, salah seorang suporter Persija, @Jak Tanjung Barat, mempersilakan warga Bandung untuk tetap berkunjung ke Jakarta karena kabar tersebut hoax.
“Untuk warga Bandung atau warga Jawa Barat silahkan berkunjung ke Jakarta, di Jakarta tidak ada masalah seperti yg diinfokan ini, informasi yang disampaikan ini hoax karena ini foto penyambutan bis pemain Persija semalam @AlionelMessi_ @MafiaWasit @infosuporter," tulis akun tersebut.
Untuk mempertegas bahwa berita sweeping itu hoax, akun Facebook Perkumpulan The Jak Mania dan Jak Angel Persija Jakarta juga menegaskan bahwa Jakmania tidak melakukan sweeping kendaraan berpelat D. Mereka juga membagikan bukti berupa video kejadian yang sebenarnya yaitu prosesi penyambutan pemain Persija.
Sumber Foto : brilio.net
Bahkan Sekretaris Umum Pengurus Pusat The Jakmania Diky Soemarno seperti dilansir Liputan6.com, (24/9/2018) di Jakarta membenarkan bahwa berita sweeping itu hoax. 

“Perlu diluruskan bahwa berita yang menyebar tentang isu aksi balasan atau sweeping mobil berpelat D di Jakarta adalah hal yang tidak benar. Kegiatan di Halim adalah kegiatan menyambut pemain Persija dari Bandung yang sudah menjadi tradisi setiap selepas pertandingan Persib melawan Persija di Bandung,” ujar Diky.

Diky juga secara tegas meminta kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan segala hormat untuk dapat menahan diri tidak melakukan penyebaran isu-isu hoax mengenai serangan balasan.
Polisi pun mengimbau kelompok Jakmania maupun Bobotoh mampu menahan diri dan bersikap dewasa usai peristiwa tersebut. Sebagai negara hukum, masyarakat diminta menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus tersebut ke aparat penegak hukum.

Polisi akan bertindak tegas siapa pun yang menyebarkan hoax tersebut karena bisa memperkeruh suasana. “Jangan terjadi hoax-hoax yang tidak perlu ini akan kami terlusuri dan nanti kalau ada upaya-upaya membikin onar, kami akan lakukan tindakan hukum juga kepada yang menyebarluaskan informasi seperti itu,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Senin (24/9/2018). 
ciri - ciri berita hoax
Infografik : Bimsky (brilio.net)
aturan hukum terkait berita hoax
Sebelumnya, video hoax juga sempat menggegerkan media sosial terkait aksi demonstrasi mahasiswa yang berakhir ricuh di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK) pertengahan September lalu.   

Dalam postingan video itu pelaku mempublikasikan video dan memberi caption “Jakarta Sudah Bergerak, Mahasiswa Sudah Bersuara Keras Dan Peserta Aksi Megusung Tagar #TurunkanJokowi Mohon Diviralkan Karena Media Tv Dikuasai Pertahanan”.

Dalam video itu seakan-akan ada demo rusuh di sekitar Mahkamah Konstitusi, Jumat (14/9/2018). Padahal, kegiatan di depan MK merupakan kegiatan simulasi pengamanan Pemilu 2019. Malah pengambilan gambar video simulasi itu dilakukan tahun lalu. 
Polisi pun bertindak tegas dan cepat dengan mengamankan para penyebar video tersebut. Setidaknya Polisi menangkap tersangka SA alias Suhada Al Syuhada Al Aqse di sebuah warung kopi dekat rumahnya di Jalan Muara II RT.005/005, Kelurahan Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Penangkapan dilakukan setelah penyidik gabungan Cyber PMJ mengantongi dua alat bukti terkait perbuatan tindak pidana tersangka.
Modus yang digunakan tersangka adalah menyiarkan atau mengeluarkan pemberitaan bohong dan menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian terhadap individu atau kelompok berdasarkan antargolongan melalui akun Facebook tersangka. 

Tersangka pun dijerat Pasal 14 dan Pasal 15 UU RI No.01 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 28 Ayat (2) jo Pasal 45A Ayat (2) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) .

Larangan menyebarkan berita hoax juga sudah diatur di dalam Undang-Undang No.11 tahun 2008 tentang ITE. Perbuatan yang dilarang tersebut ditekankan pada pasal 28 ayat 1 dan 2. 
Ketentuan pidana pun telah disebutkan pada Pasal 45A Ayat (2) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No.11 Tahun 2008 tentang ITE, dimana berbunyi, "Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.
berita hoax dan masyarakat
Sementara, Founder Rumah Perubahan, Rhenald Kasali menilai berita hoax sebenarnya sudah punya akar yang tumbuh dalam masyarakat kita. Namun kini diperekuat oleh adanya teknologi dan kapitalisasi suara, baik untuk pesta demokrasi maupun persaingan usaha.

Rhenald yang belakangan getol menyuarakan pentingnya kecerdasan masyarakat menyikapi kebenaran informasi berita menilai akar hoax itu sejatinya muncul karena persaingan, kompetisi yang tidak sehat, saling jegal dan menjatuhkan secara tidak terbuka dengan cara menghasut agar membenci atau lawannya kalah.

“Jadi basisnya adalah kebiasaan-kebiasaan buruk dalam persaingan. Dulu bentuknya adalah sas-sus, gosip, fitnah lisan, lalu berubah menjadi surat kaleng dan selebaran gelap. Dalam pers disebut sebagai gosip, atau unverified news,” kata Rhenald kepada Brilio.net, Senin (24/9/2018). 

Berita bohong belakangan menjadi marak karena adanya robot, kecerdasan buatan, filter bubble dan community of internet yang membuat manusia bisa menyembunyikan identitasnya dan menyebarluaskan kebohongan tanpa tatap muka. Dalam dunia maya, lanjut Rhenald, ada tendensi “everybody lies”. 
Di Indonesia hoax marak dalam persaingan bisnis dan politik. Yang paling marak diserang hoax adalah Presiden Joko Widodo lewat isu agama, pemerintahannya mendatangkan banyak Tenaga Kerja Asing (TKA), menumpuk utang, menjual BUMN, pro PKI, bukan Islam. “Kalau kita lihat hoax itu memang disasarkan pada tokoh-tokoh yang punya prestasi. Dan nada hoax adalah menyampaikan keadaan yang sebaliknya,” jelas Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu. 

Jadi, apa yang harus dilakukan masyarakat? Kita harus selalu kritis dan jangan menyebarkan berita-berita tidak benar atau yang belum tentu kita tahu kebenarannya. Karena itu setiap kali menerima berita, cek terlebih dahulu profil para penyebar. Penyebar hoax biasanya hanya dibayar untuk menyebarkan berita-berita negatif. 
“Bukalah profil mereka dan lihat info apa saja yang mereka sebarkan. Jika info sepihak dan mereka sangat aktif sampai sering diundang tampil dalam membicarakan topik-topik negatif, maka dapat dipastikan mereka adalah bagian dari penyebar hoax yang menerima bayaran ataupun mendapatkan keuntungan,” tegas Rhenald.

Zaman sekarang, ada kecenderungan lahirnya profesi pembuat cerita yang akan disebarluaskan para pembuat hoax. Profesi ini diadakan memang untuk menjatuhkan manusia-manusia berprestasi, bukan karena panggilan hati nurani.

Nah, terkait berita-berita yang masuk, masyarakat perlu tahu bahwa ponsel mereka adalah ponsel pintar (smartphone). Ponsel itu bisa membaca pikiran para pemiliknya. Jadi, dengan adanya filter bubble, telepon pintar akan menyortir berita-berita yang ada dan mengirimkannya kepada pemilik sesuai dengan kebiasaannya. 
Jadi, jika sudah beberapa kali menerima dan mengklik info atau berita negatif dengan kata kunci tertentu, maka ponsel pemilik akan secara selektif memilih berita-berita serupa ke hadapan pemiliknya. Akibatnya dunia yang ia baca akan semakin kelam dan asyik dalam kebenaran subjektif.
BIJAK MELAWAN berita hoax
Karena itu, saat ini diperlukan kecerdasan dan kehati-hatian masyarakat agar tak termakan tipuan informasi hoax dan menyebarkannya. Konten berita mungkin saja diambil dari berita media resmi, tapi dimanipulasi agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

Selain itu, perlu juga mengamati alamat situs penyebar berita, termasuk akun media sosial si penyebar. Jika situs tersebut belum terverifikasi sebagai media resmi, maka informasinya meragukan. Sebaiknya jangan mudah percaya dengan informasi yang tidak jelas sumbernya. Dalam sebuah berita, sudah ada aturan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, tentu saja pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.
Seperti melaporkan melalui email ke Kementrian Informasi dan Informatika Republik Indonesia di
aduankonten@mail.kominfo.go.id
dengan mencantumkan screen capture disertai dengan link berita. Kalau mau yang lebih mudah, kamu juga bisa mengunjungi website
turnbackhoax.id
dan langsung mengisi data dan mencantumkan berita yang menurut kamu termasuk dalam ciri-ciri berita hoax. Gampang banget kok.  Jadilah pengguna media digital yang cerdas ya Sobat Brilio. 
Yuk, berantas berita hoax !
back to top
Share this article