Link
MILENIAL | ANTARA LIFESTYLE
DAN MASA DEPAN
Dulu ada anggapan setiap orang mesti bisa memenuhi tiga kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan, dan papan. Tiga kebutuhan pokok inilah yang menjadi indikator seseorang dikatakan mapan. Namun sekarang anggapan itu agak bergeser, khususnya dalam pandangan generasi milenial. 
Share :
Mereka berpikir kebutuhan pokok saat ini adalah sandang, pangan, dan jalan-jalan (travel). Tidak heran kini banyak milenial yang sudah memiliki penghasilan, akan bekerja keras hanya untuk memenuhi keinginan traveling mereka menyambangi tempat-tempat seru.

Memang tak ada salahnya memenuhi gaya hidup semacam itu. Tapi pola ini juga yang memunculkan anggapan milenial tak pernah berpikir mengenai perencanaan keuangan. Sebaliknya, mereka dianggap sebagai generasi boros yang hanya berpikir sesaat. Bahkan ada penilaian yang menyebutkan banyak milenial yang pendapatannya selama setahun lalu habis dalam semalam. Ibarat dua mata pisau. Di satu sisi milenial mampu menciptakan peluang bisnis, tapi di sisi lain mereka juga punya kelemahan dalam memanfaatkan hasil yang mereka dapatkan.
Menurut Entrepreneur & Podcaster Thirty Days of Lunch, Fellexandro Ruby (@fellexandro), sebenarnya untuk urusan gaya hidup boros bisa dilakukan siapa saja, bukan hanya milenial. Yang jelas, seseorang dikatakan boros ketika jumlah pengeluaran jauh melebihi dari apa yang didapatkan. Ibarat pepatah, lebih besar pasak dari tiang.

“Saat kita sudah menghabiskan pengeluaran yang lebih besar dari yang kita butuh, bukan yang kita inginkan itu menurut saya sudah berbahaya (red alert). Semua orang punya batas kebutuhan yang berbeda sehingga saya tidak bisa bilang berapa persen dari pendapatan. Tergantung kebutuhan dari orangnya. Kalau sudah melewati batas kebutuhan makan bisa dibilang boros,” paparnya.
Ya, persoalan kebutuhan dan keinginan seringkali menjadi faktor seorang milenial terjebak dalam gaya hidup boros. Karena itu menurut Ruby sebaiknya milenial bisa memanfaatkan pendapatan mereka untuk kebutuhan ketimbang memenuhi keinginan yang sejatinya tak terlalu penting untuk hidupnya. 

Dengan mengatur keuangan secara bijak, bukan berarti milenial mesti membatasi diri dan dilarang menikmati gaya hidup (have fun). Yang perlu dicatat, kebanyakan milenial masih memiliki sumber daya (resources) yang terbatas baik itu uang, waktu, dan energi (tenaga).  
Sangat disayangkan jika dengan keterbatasan sumber daya itu justru milenial harus jor-joran dalam urusan pengeluaran pendapatan. Artinya, di usia produktif sebaiknya para milenial sudah memikirkan bagaimana mengatur pendapatan mereka tanpa harus mengorbankan gaya hidup yang dijalani.
Umur 20-an adalah saatnya menggunakan sumber daya yang ada baik itu uang, waktu, dan energi untuk diinvestasikan balik ke diri kita,” saran Ruby. 

Apalagi saat ini milenial dikenal sebagai generasi kreatif. Mestinya, segala kegiatan atau aktivitas bisa dijadikan momentum produktifitas. Misalnya melakukan traveling, bagimana kegiatan plesiran itu bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. 

Ruby menyontohkan, ketika sesorang melakukan traveling ke suatu destinasi wisata, bagaimana dalam perjalanan itu ia bisa membuat foto-foto yang pada akhirnya bisa dijual lewat platform photo sharing. Bukan masalah ketika seorang milenial menghabiskan sumber daya (uang) yang dia miliki untuk hal yang produktif. 

“Sangat berbahaya ketika menghabiskan sumber daya baik itu uang, tenaga, dan waktu hanya untuk sesuatu yang konsumtif. Ujung-ujungnya tidak balik ke kita. Jika sekarang sumber daya dihabiskan, maka 10 tahun dari sekarang kita nggak akan punya apa-apa,” tukasnya.
BAHAYA BERPIKIR INSTANT
Di usia 20-an kebanyakan milenial belum sampai pada pemikiran untuk merencanakan keuangan mereka. Karena itu, sebaiknya pola pikir (mindset) yang ada harus diubah. Prinsipnya, di masa muda milenial mesti sebanyak mungkin menabur benih untuk dituai di kemudian hari. 

Nah sejatinya, investasi tidak melulu bicara uang. Waktu yang ada juga harus diinvestasikan. Misalnya dengan mengikuti kursus atau workshop. Dengan begitu, milenial bisa mendapatkan ilmu yang bisa dituai hasilnya dalam 10 tahun ke depan. Sebab, lewat ilmu yang dikembangkan, seorang milenial berpeluang untuk naik kelas baik dari sisi kehidupan atau karier. 
Perkembangan teknologi, khususnya media sosial yang ada sekarang memang secara tidak langsung memengaruhi pola pikir milenial. Banyak dari mereka yang punya kecenderungan maunya serba instan. Dalam pandangan Ruby, cepat tidak masalah. Tapi instan itu berbahaya. Sudah menjadi rahasia umum jika kebanyakan milenial mau menikmati apa yang mereka dapatkan sekarang. Padahal seharusnya itu dinikmati nanti. 

“Misalnya diusia 20-an sudah mau keliling dunia. Nggak ada yang salah sih. Tapi betulkah di usia 20-an waktunya dipakai untuk keliling dunia. Kalau misalnya itu bagian dari kegiatan dia sebagai influencer travel yang menghasilkan ya silahkan. Tapi kalau tidak bahaya. Jadinya sumber daya tadi (uang) dipakai untuk hal-hal yang tidak memiliki kontribusi ke masa depan,” ujarnya.

Tentu saat ini bukan perkara gampang merayu milenial untuk mulai berinvestasi. Maklum, genarasi unik ini tak pernah mau berurusan dengan sesuatu yang dianggap ribet. Namun Ruby punya hitung-hitungan sederhana yang bisa menyadarkan milenial betapa pentingnya investasi. 

Katakanlah seorang milenial setiap hari menghabiskan uangnya sebesar Rp 50 ribu hanya untuk ngopi dan ngemil di cafe. Artinya, dalam sebulan (30 hari) ia sudah mengeluarkan kocek sebesar Rp 1,5 juta hanya untuk nongkrong di cafe.

Bayangkan berapa banyak uang yang ia habiskan dalam setahun? Jika uang sebesar Rp 1,5 juta ditabung, maka dalam 10 tahun bisa mencapai Rp 180 juta. Jika diinvestasikan pada produk investasi moderat yang benefitnya rata-rata 8% per tahun, maka dalam 10 tahun akan menjadi Rp 276 juta. Jadi bayangkan jika dana yang disisihkan setiap bulan lebih besar, berapa nilai investasi yang bisa didapatkan?
 
“Katakanlah sekarang kita berusia 20 tahun. Artinya di usia 30 tahun nilainya berkali-kali lipat kalau diinvestasikan,” jelas pria yang mulai mendapat pencerahan mengenai investasi di usia 25 tahun setelah membaca buku 100 Langkah untuk Tidak Miskin. 

Ruby juga mengaku kerap mentraktir orang-orang yang lebih sukses. Tujuannya untuk mendapatkan ilmu dan skill baru. Nah ini juga merupakan bagian dari investasi. Ilmu dan skill inilah yang bisa dimanfaatkan untuk  
meningkatkan pendapatan. 
PERLUNYA EDUKASI KEUANGAN
Di era ini, generasi yang diklaim memiliki peranan yang cukup besar adalah generasi milenial. Berbeda dengan cara berpikir generasi-generasi sebelumnya, generasi milenial dianggap sebagai generasi yang memiliki sudut pandang yang sangat kreatif untuk melihat apapun yang ada di depan mereka, termasuk salah satunya soal uang, karakter yang paling melekat pada generasi milenial ini adalah creative, confident, dan connected  (Litbang Kompas/KIK, disarikan dari buku Hasanuddin Ali, Millenial Nusantara: Pahami Karakternya, Rebut Simpatinya).
Ya, milenial adalah satu generasi yang unik. Kendati begitu, banyak yang beranggapan mereka adalah masa depan bangsa. Sekarang jumlah mereka mencapai 30% dari populasi. Dalam 2-3 tahun ke depan tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi 60% dari populasi. Namun dalam hal keuangan, mereka kerap dianggap “lalai”. Artinya, mereka belum memahami betul mengenai literasi keuangan. Nggak heran jika banyak yang menganggap mereka sebagai generasi yang boros. Karena itu perlu edukasi untuk perencanaan keuangan baik yang dilakukan pemerintah maupun lembaga keuangan seperti perbankan. 
Menurut praktisi perbankan Djumariah Tenteram, milenial merupakan generasi yang memiliki banyak cita-cita sekaligus ingin terus mengikuti gaya hidup (lifestyle). Tak heran jika banyak yang memiliki pendapatan langsung ingin dinikmati saat kini juga. Namun menurutnya, pandangan itu bukan menjadi stereotip seluruh milenial. “Ada juga yang cukup kreatif dan sadar finansial. Mereka mengerti bagaimana caranya membangun masa depan,” kata Djumariah yang kini menjabat Retail Banking Director PermataBank. 

Meski kebanyakan milenial ingin sesuatu yang instan dan cepat dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan, namun mereka juga merupakan segmen baru yang sangat menjunjung tinggi nilai (value) terutama yang menyangkut pengalaman. Kerena itu mereka perlu diberikan edukasi baik yang bersifat finansial maupun non finansial. 

Dari sisi finansial mereka perlu disadarkan bahwa menabung itu penting untuk masa depan. Perlu pemahaman bahwa mengatur keuangan dengan lebih bijak menjadi sangat penting. “Caranya bisa menabung atau investasi,” katanya. 

Dulu mungkin banyak yang beranggapan investasi itu hanya bisa dilakukan bagi mereka yang mapan dari sisi finansial. Artinya hanya bisa dilakukan mereka yang sudah sukses. Nah saat ini banyak produk perbankan yang bisa menjadi pembelajaran bagi milenial untuk mulai berpikir investasi. 
Bahkan pemerintah saat ini juga menawarkan saving bond retail (obligasi retail) yang mana bisa dilakukan mulai dari Rp 1 juta. Ini untuk menjangkau milenial yang punya pendapatan minimal karena mereka baru bekerja. 

Sedangkan dari sisi non finansial, saat ini banyak para kreator yang bisa menciptakan karya yang punya nilai keuangan. Dari hal semacam itu bisa merangsang para milenial untuk terus berkreasi agar mereka terangsang untuk berkreatifitas yang produktif. “Jadi menabunglah atau investasi sejak awal. Jangan menunggu sudah tua baru investasi,” ujarnya. 

Yang jelas, saat ini milenial mesti mulai memikirkan masa depan dengan cara bijak. Jangan mengatur keuangan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan bulanan, tanpa memperhitungkan keperluan jangka panjang hingga keperluan dadakan atau darurat. 

Tantu kamu tak mau dong disebut sebagai generasi boros yang tidak memiliki tujuan jelas. Gagal mengatur keuangan karena tidak mengetahui pengeluarannya sendiri dan tidak adanya dana darurat. Untuk itu, kamu  harus memahami simpanan, tabungan, dan investasi. Pengen tahu lebih banyak soal mengatur keuangan? 
Follow
YUK, JADI MILENIAL BIJAK DALAM URUSAN KEUANGAN!
Click Here
back to top
Share this article
Link