Brilio.net - "Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain" itulah prinsip yang dipegang Sulastri Ningsih, dalam beraktivitas. Warga Suryodiningratan, Mantrijeron, Yogyakarta saat ini tengah disibukkan dengan usaha pemberdayaan masyarakat yakni pemanfaatan sampah anorganik menjadi aneka produk kreatif. Tak hanya masyarakat di DIY yang dia ajak, tapi juga masyarakat di luar Jawa. Wajar, kiranya jika dia mendapat penghargaan local hero dari Pertamina tahun 2014 lalu dalam kategori Pertamina Berdikari.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sudah ia tekuni sejak 2008 ini berawal dari keresahannya terhadap sampah-sampah yang ada di sekitarnya. Sulastri kemudian mengajak ibu-ibu yang ada di sekitar tempat tinggalnya untuk memberdayakan sampah rumah tangga seperti kantong belanja, plastik bungkus-bungkus makanan, bumbu dapur juga sampah-sampah organik sisa-sisa sayur, dan buah.

Kegiatannya ini tak hanya berkutat pada sampah anorganik menjadi karya kreatif tapi ada kegiatan yang lain. Seperti pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, juga ada program bank sampah, yakni menabung dengan cara menyetorkan sampah yang sudah dipilih berdasarkan kategorinya masing-masing.  tentu saja sampah yang disetor tersebut tak cuma-cuma. Ada harga yang disepakati bersama dengan syarat minimun pengambilan uangnya setiap 1 bulan sekali.

Bukan tanpa tantangan ia melakoni kegiatan ini. Sulastri bilang memotivasi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan tentang pengolahan daur ulang sampah lebih sulit daripada masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan. Selain mengingatkan tentang pengolahan daur ulang sampah dia juga tak henti-hentinya mengingatkan anggota bimbingannya untuk selalu memperhatikan kualitas karyanya meskipun bahannya berasal dari sampah, agar bisa bersaing dengan produk lainnya. Kini komunitasnya telah merangkul 30 ibu rumah tangga dengan total  omset berkisar Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per bulan. Karya yang dihasilkan pun beragam, mulai dari bros, wadah tisu, tas, bunga, hingga baju.

Kini Sulastri sedang mempersiapkan showroom untuk hasil karya mereka. Harapannya showroom tersebut tak hanya untuk pemasaran produk daur ulang."Tapi juga untuk menarik minat masyarakat untuk ikut peduli lingkungan," ujar perempuan berusia 36 tahun ini.