Brilio.net - Bermula dari kegelisahan ketika menangani penerbitan yang didirikannya sejak 2001, Diva Press, setiap bulan Edi bisa menerima ratusan naskah. Namun, yang layak terbit tak lebih dari lima persennya. Melihat dari waktu ke waktu antusisme pengiriman naskah meningkat, namun penolakan juga meningkat, Edi menyimpulkan bahwa ada informasi yang tidak terpublikasi luas di masyarakat terkait penerbitan karya.

Alasan lain adalah keprihatinannya tentang perhatian pemerintah terhadap penulis. Harapannya akan pemerintah memberikan pelatihan menulis pun tak kunjung terwujud. Tak mau hanya diam menunggu, Edi memilih bergerak.

BACA JUGA: Gabung Komunitas Penjelajah Langit bikin kamu pintar astronomi

"Masalah umumnya, satu, cara penulisan yang kurang baik. Yang kedua, pengetahuan mereka (para penulis) tentang pasar buku Indonesia kurang baik. Ya saya karena penulis (jadi) bisa merasakan, menulis 150 halaman itu capek. Ujung-ujungnya ditolak. Ini mereka harus diberi 'pencerahan'," ucapnya pada brilio.net, Kamis (6/2).

Prihatin dengan dunia literasi, Edi gagas pelatihan kepenulisan gratis

Loading...

"Lalu saya kira harus ada orang yang melakukan sesuatu. Dalam konteks ini saya kira penerbit yang paling dekat dengan dunia ini," tambah kandidat doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Pada April 2013, didirikanlah pelatihan kepenulisan yang dinamai Kampus Fiksi (KF). Kampus Fiksi reguler diadakan setiap dua bulan sekali dengan lama dua hari tiga malam. Pelaksanaannya di asrama Kampus Fiksi yang letaknya tidak jauh dari Penerbit Diva Press di Yogyakarta.

Calon peserta ditugaskan untuk mengirim cerpen selama masa pendaftaran satu minggu. Jika dinyatakan lolos, bisa saja mendapat kelas dua tahun kemudian karena waiting list yang panjang. Setiap angkatan pelatihan dibatasi 20 orang intensif. Sekali rekrutmen adalah untuk penerimaan beberapa angkatan, sehingga wajar, dalam sekali pembukaan, pendaftar KF reguler bisa mencapai ratusan.

"Paling muda SMP kelas 2, paling berumur usia 30, rata-rata usia kuliah," Aku pria asal Sumenep, Madura ini. Peserta ynag mendominasi adalah dari Jakarta. Sejauh ini Kampus Fiksi baru mengadakan tiga kali pembukaan.

Ada pula Kampus Fiksi Roadshow yang mendatangi audiens dan tanpa seleksi, seperti seminar. KF model ini melakukan keliling ke kota-kota besar seperti Semarang, Bandung, Surabaya, Malang, Solo, Makassar. Durasi penyampaiannya adalah kisaran empat jam.

Prihatin dengan dunia literasi, Edi gagas pelatihan kepenulisan gratis

"Ada banyak orang yang sudah ikut seleksi (KF reguler) berkali-kali dan nggak lolos. Saya kan kasihan, tapi saya nggak mau ngelolosin kalau nggak punya bekal sama sekali. Itulah sebabnya saya berinisiatif mengunjungi mereka, karena itulah lahir (Kampus Fiksi) roadshow tadi," jelas dia.

Nama kampus fiksi berawal dari basic fiksi yang dimiliki Edi dari belajar otodidak, yang mana diarahkan untuk menjadi wadah bagi teman-teman yang punya passion di fiksi. Namun dalam perjalannnya karena untuk nonfiksi banyak peminatnya, maka program nonfiksi juga diadakan di dalam Kampus Fiksi, meskipun porsinya tetap lebih banyak fiksi.

Pria yang mengenal dunia sastra sejak di bangku kuliah tahun 1995 ini mengaku senang program serupa Kampus Fiksi diikuti oleh penerbit-penerbit lain. "Alhamdulillahnya tahun pertama (2013) event-event kepenulisan yang digagas penerbit itu rame sekali, sampai 2014 masih. Tapi pada nggak bertahan lama," tutur Edi.

"Kerja kayak gini ini capek, nguras biaya, nguras waktu, hasilnya belum tentu. Itu alumni Kampus Fiksi kalau ditotal ribuan, dari ribuan anak itu berapa yang benar-benar bisa nulis menghasilkan karya, 5% aja nggak ada. Dari 5% itu berapa yang bukunya saya terbitin dan laku," terangnya.

Untuk biaya, Edi mengaku siap. Namun tantangan paling berat adalah konsistensi. "Sayangnya, kalau boleh saya mengklaim, kawan-kawan literasi itu kendur di istiqomahnya. Tapi saya tidak dalam posisi menyalahkan mereka ya," urai dia.

Edi menganggap segala pembiayaan pribadi darinya baik untuk konsumsi peserta maupun menghadirkan pembicara sebagai amal jariyah. Dia tak pernah mengharap profit sama sekali.