Brilio.net - Gunung Agung 'bangun' dari tidurnya. Gunung tertinggi di Pulau Bali, 3.031 mdpl, itu berstatus awas setelah beberapa kali menunjukkan fase erupsi. Lontaran batu dan abu vulkanik dari kawah bahkan dinilai membahayakan penerbangan sehingga otoritas penerbangan sempat menutup Bandara Ngurah Rai Bali. Begitu juga dengan Bandara Lombok Praya. Pariwisata Pulau Dewata pun diperkirakan bakal terkena dampak dari erupsi ini.

Di balik kengerian yang bisa ditimbulkan dari letusan gunung berapi tipe stratovolcano ini, ternyata menyimpan magnet tersendiri bagi wisatawan. Panorama yang terjadi saat erupsi menjadi momen langka untuk bisa disaksikan.

gunung agung Instagram

foto: Instagram @redgank.swadaya

Alhasil, banyak turis di Bali yang menjadikan erupsi Gunung Agung sebagai kesempatan untuk berfoto dan memvideokannya. Tapi untuk bisa mengabadikan momen langka ini juga nggak gampang. Kamu harus berada di lokasi yang tepat untuk bisa melihatnya secara jelas, tapi juga tetap aman. Saat ini zona bahaya adalah radius 8 km dan perluasan sektoral 10 kilometer ke arah Utara-Timur Laut dan Tenggara-Selatan-Barat Daya.

Loading...

Salah satu lokasi untuk mendapatkan foto terbaik ada di Amed, sebuah daerah di arah Timur Laut dari Gunung Agung. Sejumlah fotografer menjadikan tempat ini sebagai lokasi mengabadikan pesona keindahan dan kemegahan Gunung Agung.

Selain itu, bisa juga dari Desa Datah di Kecamatan Abang, sekitar 3 km dari Amed. Di sini, puncak Gunung Agung dan kepundannya yang mengepulkan uap putih dan abu kelabu bisa terlihat jelas.

Bisa menyaksikan momen erupsi gunung berapi adalah pengalaman yang langka. Karenanya, sejumlah turis asing tak ingin melewatkan itu di Bali. "Ini sangat menarik, kita tidak pernah tahu kapan lagi akan menyaksikan peristiwa semegah ini," kata Angus dikutip dari bnpb.go.id yang dituturkan ulang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (30/11).

Angus (19) jauh-jauh dari Sidney, Australia untuk menikmati Bali bersama pasangannya Lexy (19). Dia pagi-pagi buta pergi ke Datah untuk menyaksikan kemegahan Gunung Agung. Dia datang dengan persiapan kelengkapan perlindungan diri, seperti masker, pakaian lengan panjang, dan penutup kepala.

Lebih lanjut Sutopo menerangkan, fenomena alam seperti yang terjadi di Gunung Agung tergolong langka. Oleh sebab itu, masyarakat di seluruh dunia pun tertarik untuk menyaksikannya. Apalagi peristiwa ini terjadi di Bali, sehingga gaungnya pun makin menggema ke seantero jagad.

Namun demikian, wisata bencana mengandung dilema. Langkah Sutopo sendiri dalam megnampanyekan wisata erupsi Gunung Agung di media sosial, menuai pro dan kontra.

Padahal, sebenarnya fenomena alam ini bisa dikelola sebagai destinasi. Indonesia dapat belajar dari Islandia bagaimana mengelola dan mengubah letusan gunung menjadi obyek wisata. Di sana, Gunung Eyjafjallajokull yang erupsi telah mendatangkan jutaan turis dari seluruh dunia. Publikasi mengenai erupsi gunung ini berkontribusi pada lonjakan wisatawan yang datang ke Islandia.

Pada fenomena di Eyjafjallajokull, dikutip dari icelandmag.visir.is, Kamis (30/11), awalnya banyak orang di Islandia yang khawatir erupsi tersebut berdampak buruk bagi pariwisata di sana. Tapi ternyata yang terjadi sebaliknya. Berita tentang letusan Eyjafjallajokull yang tersebar ke berbagai negara, memicu ketertarikan orang untuk datang.

Hasilnya adalah jumlah wisatawan asing yang mengunjungi Islandia tumbuh sebesar 15% di tahun 2011 dibandingkan tahun 2010, sebesar 19% pada tahun 2012, dan 20% pada tahun 2013. Pada 2016 Islandia, yang telah dikunjungi oleh kurang dari 500.000 orang setiap tahun di tahun 2008, dikunjungi oleh 1,8 juta wisatawan asing.

Eyjafjallajokull Istimewa

Erupsi gunung Eyjafjallajokull/foto: jamesappleton.co.uk

Sutopo kembali menuturkan, terlepas dari pro dan kontra, sesungguhnya wisata bencana perlu dikelola dengan baik. Persiapan wisatawan sebelum berkunjung dan rambu-rambu yang menunjukkan zona bahaya perlu disosialisasikan. Karenanya, penyebaran informasi mengenai dua hal tersebut menjadi mutlak diperlukan.

Selanjutnya berkaitan dengan penanganan pengungsi atau warga yang terdampak. Pemenuhan kebutuhan mereka juga menjadi kewajiban yang tak bisa ditinggalkan.

Apabila dua hal ini dapat dipenuhi, maka fenomena alam seperti letusan gunung bisa menjadi objek wisata tanpa mengabaikan pengungsi. Dengan begitu, maka tak hanya pengungsi yang terbantu, namun juga membantu kehidupan banyak orang di Bali yang sebagian besar hidup dari kegiatan pariwisata.

Di masa depan, apabila wisata bencana dikelola dengan baik, maka akan dapat kita lihat harmoni antara wisatawan dan pengungsi. Wisatawan menikmati pemandangan langka yang tak pernah ditemui dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengungsi pun tak hanya merana di lokasi pengungsian, mereka bisa menerima pelukan dan uluran tangan dari para wisatawan.

Sementara itu, Deput I BNPB, Wisnu Widjaja dikutip dari bnpb.go.id, mengharapkan agar pengungsi tak hanya menjadi objek, tetapi juga sebagai subjek atau penyintas. Manakala pengungsi menjadi penyintas, maka mereka aktif terlibat dalam berbagai aktivitas pariwisata ketika dan pascaletusan. Penyintas dapat berperan sebagai pemandu wisata, penyedia berbagai kerajinan dan jasa untuk wisatawan.

Harapannya, fenomena alami seperti keangungan Gunung Agung tak sampai mengganggu kehidupan dan penghidupan warga terdampak serta warga lain di sekitarnya. Mereka, wisatawan dan penyintas diharapkan mampu memberikan ruang kepada alam untuk melaksanakan aktivitasnya tanpa menimbulkan korban jiwa.