Brilio.net - Warga di seluruh dunia berduka. Rentetan tembakan yang membabi buta di Las Vegas, Amerika Serikat telah menewaskan 59 nyawa manusia. Kekacauan yang mengerikan saat digelar konser itu menjadi tragedi yang tak terlupakan di awal Oktober 2017.

Steve Paddock, pelaku tunggal penembakan di sebuah konser musik dekat kasino Mandala Bay, Las Vegas ini sedikit misterius. Steve yang menembak dari kamar hotelnya ditemukan sudah meninggal. Saat polisi mendobrak kamarnya, Steve ternyata menggunakan modifikasi ilegal di senjata yang dipakainya. Modifikasi dengan memakai 'bump stock' ini memungkinkan penembak untuk memuntahkan peluru dari senjata semi otomatis menjadi seperti senapan mesin.

Publik dan media Amerika Serikat tidak melabelinya dengan 'teroris' tapi sebagai penembak massal atau hanya 'si penembak' saja. Sebut saja New York Times atau The Guardian, mereka menggunakan frasa gunman atau si penembak.

Hampir tidak ada media di AS yang menganggap kejadian ini sebagai aksi terorisme. Kebanyakan mereka menyebut insiden di Las Vegas ini sebagai penembakan massal.

 

mass shooting steve © 2017 brilio.net
foto: nytimes,theguardian


Labelasi media yang jarang menyebut Steve sebagai teroris menjadi pertanyaan banyak kalangan. Salah satunya adalah artikel di atlantic.com yang ditulis Graeme Wood yang mengkritisi fenomena ini. Dia melihat bahwa identitas Steve sebagai seorang dengan kulit putih membuat dia sebagai 'penembak massal' dan bukan teroris. Sebaliknya, bila si penembak mempunyai nama berbau Timur Tengah seperti Omar atau Abd Al-Rahman dipastikan media akan langsung melabelinya sebagai teroris.

Artikel tersebut mempertanyakan kenapa publik Amerika Serikat sangat takut dengan kata 'teroris'. Dilansir dari Vox, antara tahun 2001-2015, warga Amerika yang terbunuh oleh ekstrimis jihad lebih kecil jumlahnya dibanding dengan kekerasan organisasi sayap kanan di Amerika Serikat.

The Investigative Fund sebuah lembaga investigatif merilis data dari terorisme domestik di Amerika Serikat dari 2008-2016. Dilansir dari Vox, ini datanya.

 

mass shooting steve © 2017 brilio.net
foto: Vox

Dalam data tersebut terlihat jelas bahwa terorisme yang mengatasnamakan Islam atau jihad malah kalah jumlah dengan terorisme yang dilakukan oleh organisasi sayap kanan. Vox juga melihat bahwa pelaku terorisme yang dicap jihadis itu juga ternyata warga AS yang sah. Dan dari data di atas, tidak ada yang secara terbuka mengatasnamakan Islam. ISIS atau Al-Qaeda lebih sering ditunjuk sebagai alasan terorisme ini.

Walaupun data di atas mengatakan bahwa lebih banyak orang yang terbunuh oleh warga Amerika sendiri daripada ekstrimis atas nama jihad. Amerika tetap saja ketakutan dengan ancaman dari terorisme ini. Presiden Donald Trump juga membuat banyak kebijakan tentang ini. Contohnya adalah membatasi warga dari 7 negara mayoritas muslim untuk mengunjungi Amerika Serikat. "Kita tidak menginginkan mereka di sini," ucap Donald Trump dilansir dari Vox. Padahal sesuai data tersebut, warga Amerika banyak dibunuh oleh warga Amerika sendiri.

 

mass shooting steve © 2017 brilio.net
foto: theatlantic

Data dari statistik membuktikan bahwa ancaman domestik lebih besar dari ancaman terorisme atas nama jihad. Tapi anehnya publik Amerika tetap menerapkan kebijakan-kebijakan terorisme yang berfokus pada ancaman dari jihad. Padahal, revisi kebijakan kepemilikan senjata di Amerika sendiri lebih penting untuk dijalankan. Tanpa adanya perubahan dari dalam, publik Amerika tetap akan mengecap segala aksi terorisme dengan jihad. Sedang aksi yang dilakukan oleh warganya sendiri bukan disebut sebagai teroris.