Brilio.net - Tragedi 1965 nampaknya akan terus menjadi polemik di Indonesia. Banyak perdebatan hingga aksi massa yang dilatarbelakangi bumbu tragedi tahun 1965 yakni dikaitkannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Salah satu kejadian terbaru terjadi Minggu (17/9) malam. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) digeruduk kelompok masyarakat. Kabarnya penyerangan itu disebabkan dugaan bahwa YLBHI mewadahi PKI. Pihak YLBHI sendiri melalui situs resminya ylbhi.or.id menyatakan bahwa tidak ada acara terkait PKI.

"Tidak ada acara terkait PKI, aparat kepolisian mulai dari Kapolsek Menteng, Kapolres Jakarta Pusat, Kabaintelkam Mabes POLRI juga Kapolda Metro Jaya telah melakukan klarifikasi langsung, melihat semua bahan, mengawasi terus menerus dan mengakui serta menjelaskan kepada massa bahwa tidak ada acara yang berkaitan sama sekali dengan PKI atau Komunisme," tulis rilis YLBHI.

Peristiwa ini menjadi salah satu bukti bahwa isu PKI terus menggelinding. Perdebatan soal tragedi 1965 juga banyak muncul di film-film yang nasibnya juga tak kalah seru dengan perdebatan di luar film. Film paling terkenal ialah "Penumpasan Pengkhianatan G30 S PKI" yang pada masa Orde Baru menjadi film tontonan wajib pelajar.

Film yang disutradarai oleh Arifin C. Noer dan dirilis tahun 1984. Film ini banyak dikenal masyarakat dan menjadi perdebatan hingga sekarang.

Loading...

Di luar film itu, ada film Jagal/The Act of Killing. Film ini menceritakan tragedi 1965 yang berbeda sudut pandang dengan film wajib era Orde Baru tersebut. Film ini disutradarai Joshua Oppenheime yang dirilis pada tahun 2015. Film yang mengambil sudut pandang berbeda dari film masa Orde Baru ini kemudian dilarang diputar di Indonesia. Film lain tentang tragedi 1965 yang dilarang adalah berjudul Senyap.

Tentang tragedi 1965 memang banyak sekali sudut pandang. Hal itu setidaknya tercermin dari film-film yang diproduksi. Meski ada yang dilarang, dan ada yang tidak. Kenapa bisa demikian?

v © 2017 brilio.net

Dosen Ilmu Komunikasi UGM sekaligus Project Director Jogja-Netpac Film Festival (2006-2016), Budi Irawanto memberikan penjelasan. Perbedaan sudut pandang mengenai tragedi 1965 disebabkan peristiwa itu sendiri masih jadi bahan perdebatan hingga sekarang dan ada upaya untuk memposisikan hanya satu versi tertentu saja.

Dalam film "Pengkhianatan G30S-PKI", kata dia, memang ada versi yang menyebutkan pembunuhan sadis para jendral. Metode pembunuhan tersebut misalnya dengan kelamin dipotong lalu korban dimasukan ke lubang buaya. Namun secara historis bukti adanya penggambaran itu tidak cukup. "Memang tentara terbunuh tapi kondisi seperti disebabkan karena beberapa faktor. Tentang bagaimana terbunuhnya jendral itu berdasarkan visum dokter tidak ada," jelas Budi Irawanto kepada brilio.net.

Setiap sudut pandnag film mengenai tragedi 1965 pun selalu menjadi bahan perdebatan karena tidak memiliki kejelasan historis. Ketidakjelasan ini juga sudah lama dikritik oleh Budi Irawanto. "Kita mulailah kembali berpikir sesuatu yang baru, kita periksa peristiwa itu dengan bukti sejarah bukan klaim mislanya ada pengakuan tentara di pengadilan. Kita tidak bisa memastikan tentara itu mengklaim dengan atau tanpa tekanan," tambah Budi Irawanto.

Mengenai perbedaan sudut pandang film-film seputar tragedi 1965, Budi Irawanto menyebutkan beberapa pemetaan yang mempengaruhi versi film seputar tragedi 1965. Pertama ada film menyajikan tragedi 1965 sebatas setting waktunya saja namun tidak terlalu mengkaji tragedi itu sendiri. Contoh film GIE dan Sang Penari. Kedua film tersebut mengenai tragedi 1965 ada yang dibuat oleh NGO sebagai dokumentasi.

Ketiga ada film seputar tragedi 1965 yang dibuat oleh mantan tahanan politik sehingga stigma yang muncul dalam film tersebut ialah mengenai tuntutan akan penebusan keadilan yang terengggut pada tahun 1965. Keempat ialah film seputar tragedi 1965, dibuat oleh mereka yang tidak mengalami langsung tragedi tersebut. Contoh film Sowan, film pendek yang rilis tahun 2014 mengekespreiskan pandangan generasi baru yang kurang tahu terhadap tragedi 1965.

Menurut Budi Irawanto, di balik peristiwa besar selalu ada banyak versi dan presepsi. Maka jika difilmkan akan muncul banyak sudut pandang. Sehingga hal itu menjadi wajar. Itu pula yang menyebabkan film mengenai perang dunia kedua pun tidak berhenti diproduksi dan selalu muncul berbagai sudut pandang. Mulai dari sudut pandang korban, pelaku, historis, dan lain sebagainya. Semua sudut pandang tersebut uniknya terangkum dalam sebuah karya film.

Peristiwa 65 sendiri termasuk sangat kompleks. "Peristiwa 1965 tidak sesimpel itu. Banyak orang yang terlibat, angkatan senjata, kelompok tertentu seperti PKI yang ada upaya untuk mengambil alih kekuatan politik, plot besar CIA era perang dingin saat itu dan adanya Soekarno menjadi ancaman baru. Ada geopolitik global yang mempengaruhi tragedi ini," jelas Budi Irawanto.

Melalui film berbagai sudut pandang dilemparkan ke publik. Hal ini dikarenakan kekuatan film dalam mempengaruhi publik. "Film punya kemampuan menkonkritkan imajinasi pada masa tertentu. Kekuatan afektif film bisa mempengaruhi dimensi emosional" jelas Budi Irawanto.

Banyaknya film-film yang memiliki perbedaan sudut pandang tak harus disikapi dengan emosional. Semua perlu dikaji dengan lebih teliti dan seksama.