Brilio.net - Tusuk gigi, barang kecil yang sederhana tersebut ternyata sudah ada sejak jaman prasejarah. Banyak bukti yang menunjukkan keberadaan tusuk gigi ini pada masa itu. Seperti yang telah dilansir brilio.net dari smithsonianmag.com, Selasa (5/5), dulu manusia menggunakan ranting pohon sebagai tusuk gigi. Tengkorak gigi manusia Neanderthal dan Homo sapiens telah menunjukkan bukti-bukti penggunaan alat untuk menusuk gigi.

Pada zaman perunggu, tusuk gigi mulai dibuat dari logam, namun pembuatannya masih manual. Kenyataan itu diketahui berdasarkan keberadaan tusuk gigi yang ditemukan di antara barang-barang yang dikuburkan dalam makam-makam prasejarah di Italia Utara dan Alpen Timur.

Di Mesopotamia, tusuk gigi logam juga digunakan secara luas sejak jaman kuno. Konon, sang tiran, Agatokles, dibunuh pada 289 SM melalui racun yang bekerja lambat yang diletakkan pada tusuk gigi oleh seorang budaknya.

Tusuk gigi sudah ada sejak jaman prasejarah, namun orang pertama yang memperkenalkan pada masa manusia modern adalah Charles Foster. Dia lahir di Charlestown, Massachusetts, pada 1826. Pada masa remaja dia bekerja menjalankan bisnis ekspor impor di Brasil. Saat itulah dia melihat gigi-gigi penduduk Brasil yang rapi dan bersih. Kemudian dia mencari tahu penyebab gigi mereka tampak rapi dan bersih. Ternyata mereka menggunakan tusuk gigi yang terbuat dari kayu. Sedangkan di tempat lain, tusuk gigi masih menggunakan logam warisan zaman perunggu.

Dari situ, Foster punya ide untuk membuat tusuk gigi kayu dalam jumlah banyak menggunakan mesin. Maka, dia menghubungi Benjamin Franklin Sturtevant, ahli mesin asal Boston yang sebelumnya telah membuat mesin pembuat sepatu dengan alas berbahan kayu.

Loading...

Berkat bantuan Sturtevant pada 1879 Foster mampu memproduksi jutaan tusuk gigi dalam satu hari. Namun masalahnya, penduduk Boston belum terbiasa dengan tusuk gigi kayu. Foster menjual tusuk giginya ke toko-toko dengan sistem konsinyasi. Restoran dan tempat makan juga ditawari produk tersebut, tapi hanya sedikit yang tertarik.

Foster terus berpikir bagaimana caranya dia dapat memasarkan tusuk gigi buatannya tersebut. Akhirnya ide cemerlang muncul di benaknya, dia membayar beberapa orang untuk makan di beberapa restoran, kemudian dia meminta orang tersebut menanyakan tusuk gigi kepada pelayan ataupun pemilik restoran.

Sementara itu Foster keliling dari restoran ke restoran untuk menawarkan tusuk giginya. Para pemilik restoran pun percaya bahwa tusuk gigi merupakan fasilitas yang harus disediakan untuk konsumen dan mereka menerima tawaran tusuk gigi buatan Foster. Sejak saat itu penggunaan tusuk gigi menjadi sangat populer dan meluas ke berbagai negara di dunia.