Brilio.net - Bagi sebagian orang, mungkin kuliah merupakan salah satu tahapan yang dilakukan untuk menjadi orang yang lebih sukses. Namun tampaknya hal tersebut tidak berlaku bagi seorang Indra Setiawan. Lelaki yang berusia 23 tahun ini memilih untuk tidak melanjutkan kuliahnya demi mengejar passion atau kepuasan batinnya.

Indra dulunya merupakan seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di Malang yang mengambil jurusan teknik mesin. Lelaki yang memulai kuliah pada tahun 2009 ini memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah pada semester 7.

"Waktu itu saya awalnya cuti dulu semester 5, terus kuliah lagi semester 6 terus berhenti di semester 7. Alasan berhentinya itu gara-gara masalah keuangan dan nggak nyaman sama bidangnya. Saya nggak minat sama teknik mesin," ujar Indra pada brilio.net, Senin (13/4).

Indra mengaku bahwa dia sangat mencintai seni sejak tahun 2011 di mana dia mulai belajar semua hal terkait desain, dan juga mulai ingin bisa menggambar. Kemudian dia memutuskan untuk bergabung di sebuah UKM seni di kampus yang akhirnya dapat membantunya mengembangkan bakatnya itu.

Pada tahun 2014 saat dia sudah tidak lagi kuliah. Dirinya sempat melakukan beberapa pekerjaan seperti menjadi pengajar kesenian di sekolah dan juga bekerja di sebuah LSM sampai akhirnya pada Desember 2014 dia bekerja sebagai penanggungjawab di sebuah galeri seni di kota Malang.

Loading...

"Saya lebih pilih jaga galeri daripada kuliah di teknik, soalnya kerjanya menyenangkan dan fleksibel. Biasanya aku pagi ngajar dulu di TK sampai siang, terus tidur sampai sore baru buka galeri sambil gambar sampai pagi. Kalau di kerjaan formal kan nggak bisa fleksibel gini," kata lelaki asal Mojokerto tersebut.

Indra juga bercerita bahwa meskipun nantinya ada pekerjaan yang juga fleksibel tapi jauh dari dunia seni, dia tidak akan mau menjalaninya. Karena menurutnya melakukan sesuatu yang jauh dari seni sama halnya dengan kehilangan hal yang selama ini dia bangun. Menurutnya seni itu adalah hal yang lebih berharga daripada banyak hal lain.

Keputusan berhenti kuliah itu awalnya sebenarnya ditentang oleh orangtua Indra. Namun karena Indra dapat membuktikan bahwa dia bisa tetap berhatan hidup, barulah orangtuanya mengizinkan.

Dia bercerita bahwa pendapatannya selama ini tidak tentu, hanya berkisar Rp 500.000 per bulannya. Namun jika ada karyanya yang laku terjual atau ada proyek lainnya, dia bisa memperoleh lebih dari Rp 2.000.000 per bulan.

"Berapapun itu yang penting bisa kirim ke orangtua sebagai bukti. Sebenarnya dulu di LSM gajinya melimpah tapi karena nggak nyeni ya keluar deh. Kecukupan itu bukan uang tapi kepuasan hati dan berkesenian itu bukan idealisme saya, tapi itu naluri. Esensi hidup pokoknya berkesenian, dimana aku bisa hidup dari seni dan menghidupi kesenian."

Indra juga berpesan bahwa hidup seseorang itu bertumpu pada proses, bukannya hasil. Kalau seseorang itu serius dengan impiannya pasti keraguan itu tidak akan pernah muncul. Kalau seseorang akan mengambil keputusan, mereka harus yakin dan positif. Tapi jangan hanya nekat, tetap selalu siapkan plan B dalam semua keputusan.