Brilio.net - Galau, perasaan satu ini memang sering dirasakan oleh semua orang. Kegalauan sebenarnya hal yang lumrah. Apalagi jika dirasakan para prajurit angkatan udara yang sedang sibuk-sibuknya menempuh pendidikan demi karir yang moncer.

Meski punya postur tubuh yang kekar dan selalu tampak gagah, mereka jelas tak luput dari yang namanya galau. Perasaannya bisa sama rapuhnya dengan orang biasa dalam masalah asmara.

Berikut pemaparan RM (24) kepada brilio.net, perihal kegundahan yang dirasakannya selama menjalani pendidikan angkatan udara.

Awal tahun 2013, saya memutuskan untuk mendaftar menjadi prajurit angkatan udara. Alhasil cita-cita dari kecil ini akhirnya menemui titik terang. Semua keluarga pun saat itu mendukung. Saya pun mengikuti tahap demi tahap pelatihan, mulai dari pelatihan fisik dan mental.

Saya pikir saya hanya perlu menyiapkan fisik yang kuat untuk melalui segala bentuk pelatihan dan pendidikan. Ternyata saya keliru, hal yang kadang paling menyiksa untuk proses pelatihan ini adalah kita harus jauh dari keluarga dan terisolasi dari dunia luar. Saya yang selama sekolah tidak pernah jauh dari rumah pun sangat merasakan betapa tersiksanya berada jauh dari rumah. Ya, manja ya? Tidak hanya itu, sesampai di asrama tempat pendidikan saya baru tahu bahwa kami tidak dapat memegang alat komunikasi dengan leluasa, menelepon keluarga sekalipun harus terjadwal.

Loading...

Saya mencoba memantapkan hati untuk memilih profesi ini, abdi negara, ya, itu yang menjadi tujuan utamaku. Saya paham bahwa menjadi seorang angkatan udara memang sesuatu yang sulit. Saya harus menjalankan pelatihan hingga beberapa puluh bulan. Sejauh ini saya sudah menempuh pendidikan kurang lebih 24 bulan, sudah cukup bisalah menyesuaikan dengan suasana pendidikan dan lingkungan yang ada. Memberi kabar kepada keluarga sekali seminggu ataupun sekali dalam dua minggu.

Terkadang ada hal yang menimbulkan kegalauan buat kami selama menjalani pendidikan. Kalian tahu, untuk beberapa acara resmi angkatan udara kami diwajibkan membawa pasangan dan jika tidak akan mendapatkan hukuman. Ah, di situ kadang kami merasa sedih!

Bagaimana tidak, kami yang berada dikarantina tidak leluasa memegang alat komunikasi dan tiba-tiba saat ada acara resmi kami diwajibkan membawa pasangan. Nah lho, pendekatan dengan cewek aja jarang dan bisa dikatakan nihil, eh kami malah diharuskan punya pasangan, kan bingung alias galau. Apalagi yang kami temui selama pelatihan hampir seluruhnya adalah laki-laki, jangan berharap bertemu perempuan selama pendidikan.

Saat tiba pengumuman harus membawa pasangan kami yang tidak punya pacar pun kebingungan harus mengajak siapa untuk tidak terhindar dari hukuman. Kadang juga saya harus menerima dengan lapang dada dihukum karena tidak punya pasangan. Lebih tepatnya sih lapang dada menerima kenyataan jomblo.

Ya, kami kadang menertawakan diri kami saat harus menerima hukuman karena tidak membawa pasangan. Hahaha, lucu juga, bahwa kami dihukum karena kami jomblo, dan kami jomblo karena tidak ada waktu untuk komunikasi atau dekat dengan seseorang. Jangankan waktu untuk mendekati seorang perempuan, telpon genggam saja kami tidak pegang. Tapi, kadang di bagian kegalauan ini, saya sadar bahwa seorang prajurit angkatan udara sekalipun memiliki kekhawatiran yang sama dengan anak muda lainnya, perihal kegalauan tidak memiliki pasangan.

Saya memaparkan ini bukan untuk maksud apa-apa ya, saya hanya ingin menceritakan sebagian kegelisahan dari prajurit angkatan udara. Ya, kenyataanya pun kami merasakan kegalauan yang kalian rasakan sebagai jomblo. Tapi sepertinya kalian harus bersyukur deh, kalian selama ini jomblo nggak dapat hukuman kan? Nah, saya di pendidikan sering dapat hukuman loh karena jomblo, hehehe.