Brilio.net - Penyesalan. Itulah kata yang selalu menghantui wanita yang sebut saja namanya Melati. Tinggal jauh dari orangtua sejak kuliah, membuat Melati terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Hingga pada suatu hari, dia dan kekasihnya melakukan perbuatan terlarang yang akhirnya menghasilkan benih di luar ikatan pernikahan.

Test pack yang menunjukkan dua garis merah tersebut seketika membuat dunia Melati hancur. Perasaan bingung, sedih, takut, bercampur aduk dalam diri Melati. Belum lagi dengan kekhawatirannya akan kemungkinan sang kekasih menolak untuk bertanggung jawab. Rasa takut membuatnya terpaksa menyembunyikan kehamilannya pada orangtuanya.

Melati sedikit lega ketika kekasihnya berkata akan bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Tapi, beberapa teman kost yang mengetahui kejadian ini menyarankan untuk menggugurkan kandungannya, namun Melati menolaknya. "Aku nggak mau nambah dosa lagi dengan menggugurkan kandunganku," katanya.

Delapan bulan lamanya, orangtua Melati masih tidak tahu tentang kehamilan putri tercintanya. Ketika ditanya mengapa tidak pulang kampung berbulan-bulan, Melati selalu menjawabnya dengan alasan kesibukan kuliah yang sangat padat. Padahal, saat mengandung, kuliah Melati terbengkalai.

Tiga hari sebelum melahirkan, Melati baru memberi tahu orangtuanya melalui telepon karena membutuhkan biaya untuk persalinan. Seketika, orangtuanya sangat shock mendengar berita itu, bahkan ibunya sempat pingsan dan teus menerus menangis.

Loading...

Setelah kelahiran, keadaan semakin parah. Baik orangtua Melati dan orangtua kekasihnya, tidak ada yang mau membantu mengurus bayi malang tersebut. Bahkan, menggendong saja mereka tidak mau. Keputusan mereka adalah Melati dan kekasihnya segera dinikahkan kemudian orangtua mereka akan lepas tanggung jawab. "Aku mohon sama orangtua untuk bantu aku biaya kuliah karena aku masih mau melanjutkan kuliah, untunglah mereka mau walau untuk keperluan lain aku harus usaha sendiri," kata Melati.

Di kamar kost ukuran 3x3, pasangan muda tersebut mengurus anak mereka. Kerja sebagai operator warnet dijalani oleh keduanya. Seringkali putra mereka hanya dititipkan ke teman kost yang sedang tidak kuliah. Pola hdup dan makan yang kurang teratur membuat bayi mungil tersebut menjadi sering sakit-sakitan. Beratnya hidup membuat keduanya sempat terbesit fikiran untuk memberikan anak mereka ke panti asuhan.

Di tengah situasi yang sulit, bantuan datang. Ibu adalah ibu. Dia akan selalu menyayangi anaknya walau bagaimana pun keadaannya. Demi anak, sekeras apa pun hati ibu akan luluh. Itu yang dirasakan Melati. Saat bayinya berusia empat bulan, ibunda Melati datang ke kost dan menawarkan bantuan mengurus sang cucu.

Sehingga Melati dan suaminya dapat konsentrasi penuh ke pendidikan. "Saat ini aku mau fokus menyelesaikan kuliah, walaupun aku telat lulus yang penting aku bisa selesai S1. Walau di kampus aku sering dijadikan bahan omongan karena berita tentang aku udah nyebar, aku nggak peduli," ujarnya.

Saat ini Melati tidak ingin mengecewakan orangtua untuk kedua kalinya. Penyesalan yang amat besar tidak pernah hilang dari hatinya, dia hanya bisa mencoba untuk memperbaiki kesalahannya. "Pesan aku buat teman-teman, manfaatin masa muda dengan serius kuliah. Tolong jangan pernah khilaf karena kalian nggak akan tahu bagaimana sakitnya melihat ibu kalian menangis karena perbuatan kalian," tutupnya.