Brilio.net - Kasarnya aspal dan teriknya matahari tak menyurutkan niat Mbah Jiyem untuk membanting tulang. Di usianya yang sudah menginjak 85 tahun, Mbah Jiyem rela berjalan sejauh 7 kilometer keliling Kota Ponorogo setiap hari tanpa alas kaki untuk berjualan sayur-sayuran.

"Saya berangkat biasanya jam 4 subuh, masih gelap terus lewat kuburan buat ke pasar," ungkap Mbah Jiyem saat ditemui brilio.net, Selasa (24/03). "Di pasar ambil dagangan dulu ya kayak sayur dan kerupuk."

Tanpa alas kaki, Mbah Jiyem dari subuh berjalan 7 km jualan sayur

Warga asli Kota Reog ini setiap hari menjajakan dagangannya dengan cara digendong di punggung dan dijinjing. Akibat tubuhnya yang sudah renta, berjalannya pun harus pelan-pelan dan membungkuk. Tak jarang Mbah Jiyem beristirahat setiap jam di pinggir jalan karena memang sangat lelah. Hasil yang didapat pun juga tidak banyak. "Ya cuma Rp 20 ribu sehari, cuma cukup buat makan bersama suami di rumah," ungkap nenek berkerudung ini.

Berbagai rintangan pun harus Mbah Jiyem hadapi saat berjualan, mulai cuaca yang tidak menentu hingga pembeli yang nakal. Mbah Jiyem pernah ditipu oleh pembelinya. Ada pembeli yang berpura-pura menyuruh Mbah Jiyem untuk membeli sesuatu di sebuah toko, namun ketika kembali beberapa barang dagangannya jusru hilang diambil pembeli tersebut.

Loading...

Tanpa alas kaki, Mbah Jiyem dari subuh berjalan 7 km jualan sayur

Meski begitu tak jarang juga pembeli yang merasa iba dengan dirinya, salah satunya Wati (58). "Ya kasihan sehari cuma dapat segitu, biasanya kalau ke sini saya kasih nasi dan sayur buat dibawa pulang biar nanti di rumah tidak masak lagi," ungkap Wati.

Walaupun diterpa banyak rintangan, Mbah Jiyem tetap bersyukur atas rezeki yang diterimanya. Menurutnya asal pekerjaan yang dilakukan halal dan bisa untuk makan tak menjadi masalah. "Ya dilakoni saja sesuai kehendak yang kuasa," pungkas Mbah Jiyem.