Brilio.net - Keberadaan mesin ketik kini sangat jarang ditemui seiring dengan menjamurnya komputer dan laptop. Bisa jadi, anak muda saat ini tak pernah berurusan dengan mesin ketik yang pernah berjaya pada pada tahun 70-an hingga 90-an itu. Meski begitu, ternyata masih ada orang yang mencari nafkah dari mesin ketik.

Adalah Sumedi (61), warga Kricak Yogyakarta yang masih menekuni profesi dokter mesin ketik, istilah untuk menyebut tukang reparasi mesin ketik. Di tengah kecanggihan teknologi yang membuat mesin ketik semakin susah ditemui, ia masih setia menjadi pahlawan bagi para pengguna mesin ketik.

Sumedi belajar mengatasi penyakit mesin ketik dari saudaranya. Saat tahun 1975.  Dia mengikuti saudaranya yang ahli reparasi mesin ketik dari rumah satu ke rumah lain. Dia amati segala cara yang dilakukan saudaranya saat membetulkan mesin ketik yang bermasalah. Dari situ akhirnya Sumedi memutuskan untuk membuka jasa mandiri pada tahun 1982.

Dia menawarkan jasa secara berkeliling dari rumah satu ke rumah lain, juga dari kantor satu ke kantor yang lain. Sumedi pernah membuka kios reparasi di Jalan Magelang, namun itu hanya bertahan selama satu tahun. "Hasilnya lebih banyak berkeliling daripada nungguin kios," kata Sumedi kepada brilio.net, Jumat (28/8).

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Sumedi menyebut bahwa saat mesin ketik masih berjaya antara tahun 80-an hingga tahun 90-an, profesi ini menjadi tumpuan dirinya menghidupi keluarganya. Tapi seiring dengan merebaknya komputer, maka profesi dokter mesin ketik tak lagi menjanjikan.

"Saya buka usaha warung di rumah bersama saudara, kalau cuma mengandalkan dari sini ya nggak bisa," terang bapak tiga anak ini.

Sumedi menyebutkan jika sekali mereparasi mesin ketik, ia membutuhkan waktu antara satu hingga tiga jam. Biaya yang dipatok pun tergantung tingkat kesulitan. Tapi rata-rata sekali reparasi dia diberi Rp 100 ribu.

Saat ini, kantor-kantor instansi pemerintah dan kenotariatan  adalah pelanggan setianya. Itupun tak pasti ada panggilan dalam seminggu. Ponsel dan kartu nama jadi alatnya mendapatkan orderan. Berbekal sepeda kayuh, dia datangi kantor yang telah menghubunginya.

(brl/ani)