Brilio.net - Terserang Cerebral Palsy (demam tinggi yang menyerang saraf) dan divonis lumpuh dari usia 4 tahun, tidak membuat Risnawati Utami (43) putus asa begitu saja. Keterbatasannya tersebut justru dia jadikan sebagai kelebihan dan motivasi untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain.

Selain berprestasi sejak SD hingga perguruan tinggi, Risna juga berhasil mendapat beasiswa S2 di Brandeis University di Waltham, Amerika Serikat. Di sana dia magang di lembaga non-profit yang pernah memberinya kursi roda yaitu UCP (United Cerebral Palsy) Wheels for Humanity. Dari sanalah jalan lebar terbuka untuknya.

UCP Wheels for Humanity AS didukung dana dari USAID ( United States Agency for International Development) menunjuk Risna untuk mendirikan UCP Wheels for Humanity Indonesia. Intinya, UCP Indonesia bertugas mengembangkan program pengadaan kursi roda di negeri ini melalui pelatihan dan pemberdayaan dan Risna sebagai Manajer Program.

"Tentu saya nggak melewatkan kesempatan itu, karena itu adalah kesempatan besar untuk menolong sesama difabel di Indonesia," ujar Risna kepada brilio.net Jumat (17/4).

Risna menceritakan awal berdirinya lembaga yang dipimpinnya tersebut. Sejak selesai menuntaskan S2 nya dia pulang dan melakukan penelitian di kampungnya, Gunungkidul. Dari 50 kasus difabel yang dia teliti, hampir setengahnya disebabkan kesehatan reproduksi si ibu yang buruk. "Jadi dalam satu keluarga, dari 5 anak yang lumpuh ada 3," ujarnya lagi.

Dari penelitian itulah, disusun proposal yang selanjutnya diajukan kepada UCPWFH di AS agar membuka cabang di Indonesia. Bersama David Richard, presiden UCPWFH Internasional, Risna memformulasikan program UCP Indonesia dan mencari gedung untuk berkantor. Pilihan jatuh ke eks gedung registrasi UGM, Jalan Kaliurang Km 4,5 Yogyakarta. Fokusnya adalah memprioritaskan bantuan bagi keluarga tidak mampu.

Perjuangan Risna tidak semata-mata berjalan lancar, rintangan yang dihadapinya adalah ketika kursi roda yang didatangkan dari AS malah ditahan di pelabuhan. Agar bisa bebas Risna harus mengurusnya ke empat kementrian, yaitu kementrian perdagangan, keuangan, sosial dan kesehatan. Berbekal tekad dan keberanian Risna berangkat ke Jakarta sendirian untuk mengurus segalanya.

"Saya heran, mau mengurus untuk bantuan orang yang tidak mampu kok sangat ribet prosedurnya. Padahal barang tersebut sudah jelas dari lembaga Internasional," kata Risna.

Semua kursi roda itu bantuan dari UCP Internasional bekerja sama dengan USAID yang juga lembaga donor AS untuk Indonesia. Sejak didirikan, UCP Indonesia sudah menyalurkan 1.500 kursi roda ke seluruh pelosok nusantara. Hingga kini UCP yang berbasis di Jogja itu masih menjadi satu-satunya penyalur kursi roda untuk para difabel di Indonesia.

(brl/pep)