Brilio.net - Subiyanto (58) tak menduga bisnis kuliner yang dijalankannya untuk mengisi masa pensiun justru menghasilkan laba yang menggiurkan. Dalam sebulan, bisnis kuliner rica-rica ekstrem, berupa daging tokek, codot, biawak dan bajing mampu menghasilkan omset mencapai Rp 15 juta per bulan.

Lelaki pensiunan sebuah bank tersebut mengungkap, awal perjalanannya terjun ke bisnis kuliner rica-rica sebenarnya karena minatnya dengan dunia memasak. Dan kebetulan, pria yang tinggal di daerah Pakualaman, Jogja, ini pandai memasak rica.

“Saya cuma bisanya masak rica atau goreng, “ tuturnya menjelaskan resepnya. Tidak ada resep khusus dalam mengolah makanan ekstrem ini.  Selain itu, dia juga memasak sesuai permintaan pelanggan, seperti dibakar, disate, atau dibacem.

Warung rica milik Subiyanto, juga memiliki kekhasan lain, yakni hanya buka malam hari. Dan, ketika hujan, bapak dua anak ini tidak jualan. “Karena memang tidak boleh pasang tenda di area situ,” tuturnya. Meski begitu, pelanggan banyak yang mencari.  Tidak tanggung-tanggung, beberapa pelanggan ada yang berasal dari luar kota.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Menurut Subiyanto, sebagian besar pelanggannya datang untuk berobat. Meski ada juga yang memang hobi mengonsumsi makanan jenis itu. Untuk soal harga, Subiyanto mematok antara antara Rp 15.000 – Rp 25.000 per porsi.

“Kebanyakan mereka ke sini untuk obat,” tuturnya soal respon pelanggan. “Tapi ada juga yang memang suka dengan makanan ini,”tambahnya. Harga makanan ekstrim ini berkisar antara Rp. 15.000 – Rp. 25.000 per porsi.

Untuk memenuhi bahan baku kuliner rica-ricanya, Subiyanto mengaku kerap melakukan aktivitas berburu sendiri. “Kebetulan dari kecil saya hobinya berburu,” tuturnya. Seiring berjalannya waktu, dia mengurangi aktivitas berburunya, karena mulai banyak yang menyetor bahan baku. “Sekarang banyak dipasok oleh orang,” tuturnya. Dia mengaku tidak pernah mengalami kesulitan pasokan daging. “Kan sekarang biawak banyak sekali di kali-kali (sungai-sungai)”, tuturnya.

Subiyanto tak menyangka, bisnis yang yang sudah dijalankannya selama delapan tahun ini ternyata mendatangkan omset yang besar, mencapai Rp 15 juta per bulan. Dia juga tak menduga, banyak bahan olahan rica-ricanya adalah sumber obat untuk sejumlah penyakit tertentu. “Dulu ada mbak-mbak cantik makan dua kali di sini dan penyakit yang dialaminya sembuh,” tuturnya. Meski secara medis belum diketahui benar atau tidak,  kuliner jenis ini tetap diburu orang karena dorongan sugesti. Mau mencoba?.

(brl/swh)