Brilio.net - Cerita Aray Dwi Harjunathin bermula dari keinginan membantu para pembenih ikan nila pada saat mengalami masa-masa sulit mengembangbiakkan hewan air tersebut, yaitu sewaktu musim kemarau.

Agar mereka tetap memiliki pelanggan, maka Aray berinisiatif mengolah babyfish menjadi produk yang ia namai crispy baby nila. Usaha yang dimulai pada 2010 ini kemudian semakin berkembang dan memiliki berbagai produk khas olahan ikan seperti abon ikan, keripik ikan, serta stick tulang ikan.

Balibu Food besutan Aray kini punya berbagai produk olahan ikan seperti abon ikan, keripik/crispy ikan, jajanan tulang ikan, teri ndelik. Outlet milik Aray ini turut menjual olahan ikan titipan rekan-rekan peciinta ikan seperti nuget dan presto.

Lima tahun berjalan, Balibu sudah memiliki distributor di beberapa kota di luar Yogyakarta yaitu Semarang, Bekasi, Tangerang, Bireun, Surabaya sampai Jakarta. Untuk skala produksinya, Aray mengaku sesuai pesanan dari distributor tetapnya tersebut sehingga produksi tidak menentu. "Masing-masing daerah rasanya kita sesuaikan, semisal untuk keJakarta manisnya kita kurangi dan sebagian kita buat yang rasa pedas," ungkap Aray.

Dengan konsisten menyediakan kuliner olahan ikan ini, rumah produksi Balibu Food di Jalan Godean Sleman ini pernah didatangi oleh Laptop Si Unyil, Jejak Si Gundul, serta Fish and Chef Trans 7.

Untuk memproduksi abon, 10 kg ikan bisa dibuat 2-2,5 kg abon. Sekali produksi bisa menghabiskan 50 kg ikan. Ikan segar dibagi menjadi badan dan kepalanya. Dagingnya dibuat abon dan kepala serta tulang dibuat jajanan.

"Tulang ikan itu kaya kalsium. Terus di bagian kepala juga kita sisakan dagingnya sedikit biar sebagai tambahan protein. Jadi secara nggak sadar orang sedang makan ikan yang kaya protein dalam bentuk snack ini," aku Aray.

Pria yang sempat 8 tahun bekerja di Perhutani ini mengaku, kendala yang kini dihadapinya adalah SDM/karyawan yang hanya tinggal 2 orang sehingga menjadikan produksi lebih lambat. "Kemaren sempat punya 6 karyawan, tapi pada keluar."

Diakui Aray, mendekati lebaran akan banyak permintaan untir-untir. "Kita mau menggalakkan lagi jajanan tradisional yang dulu sering dijumpai ini karena makanan ini sebenarnya mengandung filosofi yang baik. Dilihat dari bentuknya yang saling berkaitan erat itu melambangkan silaturahim dan jalinan kedekatan antar sesama," tutup Aray.

BERITA TERKAIT:

Tulang ikan dibuat makanan ringan nan gurih dan enak, kreatif!