Brilio.net - Tiga orang paruh baya, Rabu (25/3) tampak beristirahat di tepian sebuah jembatan daerah Umbulharjo, Yogyakarta. Sebuah kapak, tali, dan gergaji manual berada di samping mereka. Dengan peluh bercucuran, raut muka mereka memancarkan kelelahan.

Yasim (50) dan dua orang lainnya adalah warga asli Wonosari Bejiharjo yang mengadu nasib menjadi blandong (penebang pohon) di Kota Yogyakarta. Sejak pagi buta mereka sudah bersiap dengan alat-alat untuk bekerja.

Perjuangan blandong, pantang pulang sebelum nebang

Usai sholat shubuh mereka bergegas untuk mencari kendaraan umum yang akan mengantarkan mereka ke Kota Yogyakarta kemudian dilanjutkanya dengan jalan kaki keliling Yogyakarta. Hal ini setiap hari harus mereka lakoni demi sebuah kebutuhan hidup.

Beratus-ratus kilometer mereka tempuh untuk mencari siapa tau ada yang membutuhkan jasanya. Dalam sehari bahkan belum tentu ada penghasilan yang mereka bawa pulang, karena pekerjaan itu tidak pasti ada yang membutuhkan saat itu. "Sering sekali sehari gak dapat apa-apa, ya namanya kerjaan kayak gini gak bisa pasti sehari punya uang," ujar Yasim.

Jika dalam kelompok tersebut belum mendapatkan uang dalam sehari, mereka akan melanjutkan keesokan harinya dan tetap berada di Yogya sampai mendapat uang untuk mereka bawa pulang ke Wonosari. "Pernah tiga hari belum dapet penghasilan, akhirnya tidur di mana aja kadang di SD atau numpang neduh di masjid," ujarnya.