Brilio.net - Nasib baik yang menjadi dambaan memang tidak bisa berpihak pada semua orang. Tapi dengan ketekunan dan kerja keras, tak ada hal yang tidak mungkin. Usaha yang serius dijalani pasti akan membuahkan kemanisan. Hal tersebut mungkin cocok disandang oleh pemuda ini.

Mohammad Hamli, pemuda kelahiran Pamekasan 26 tahun lalu ini berhasil karena usaha kerasnya. Motivasi untuk bisa memulangkan orangtuanya yang sejak dia belum lahir telah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ini membuatnya pada 2012 lalu mencoba peruntungan membangun tempat kursus bahasa Inggris yang saat ini beromzet Rp 100 juta.

Kemampuan bahasa Inggris Hamli memang tidak diragukan lagi. Selain fasih berbahasa Inggris sejak SMA, dirinya semasa kuliah juga pernah dikirim di Pennsylvania, Amerika Serikat untuk mengikuti program Short Course Study of the United State Institute yang membahas masalah pluralisme. Selain itu dirinya juga beberapa kali pernah dikirim sebagai delegasi konferensi internasional baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Semasa kuliah, Hamli juga nyambi bekerja menjadi staf di lembaga kursus di Jogja. Berbekal jiwa enterpreneur dan bahasa Inggris, dia bersama dua rekan organisasinya, Waskito Jati dan Durrotul Masudah, pada 2012 mencoba membangun lembaga kursus bahasa Inggris.

Pembagian kerja ketiganya adalah Hamli di bidang manajemen dan merketing, Durrotul Masudah di bidang organisasi, dan Waskito Jati di bagian tutor.

Loading...

Tetapi keinginan kuat mereka bukan tanpa hambatan. Mereka kebingungan untuk mencari tempat yang digunakan untuk kursus. Karena keterbatasan dana mereka tidak bisa menyewa ruko. Hingga akhirnya terpikirkan untuk memanfaatkan cafe sebagai tempat kursus.

Hamli mengungkapkan bahwa ide untuk menggunakan cafe sebagai tempat kursus didapatkan dari kebiasaan para mahasiswa Jogja yang sering nongkrong di cafe usai kuliah.

Cafe-cafe pun sangat mudah dijumpai di sekitaran kampus. Terlebih cafe di Jogja memang banyak dimanfaatkan oleh pelajar dan mahasiswa sebagai tempat nongkrong sekaligus berdiskusi dan belajar kelompok.

“Saya menangkap peluang itu. Cafe menjadi tempat yang enak, nyaman dan efektif untuk belajar. Maka tercetuslah nama English Cafe,” terang Hamli.

Berjalannya waktu, akhirnya Hamli ditinggal oleh kedua rekannya. Durrotul Masudah mengundurkan diri karena diterima di sebuah perusahaan, sedangkan Waskito Jati memilih mundur karena padatnya jadwal setelah terpilih sebagai Presiden AFS, perkumpulan alumni Bina Antarbudaya Indonesia Amerika.

Hamli kemudian merekrut manajer, marketing, maupun tutor. Berjalan satu tahun, pada 2013 Hamli mencoba menjalin kerja sama dengan berbagai cafe di Jogja.

Hingga saat ini sudah ada 10 cafe di Jogja. Bukan cuma itu, dia pun sekarang sudah membuka cabang kursus cafe dengan tipe yang sama di Bandung dan Purworejo masing-masing satu. Rencana terdekat dia akan mendirikan cabang di Papua. Saat ini, dari 12 cabang cafe yang digunakan untuk kursus, Hamli bisa mendapatkan omzet Rp 100 juta tiap bulannya.

“Sampai sekarang saya dibantu oleh 26 staf dan 56 tutor. Sudah ada alumni 3000 alumni selama 3 tahun ini,” terang Hamli.

Berkat kerja kerasnya itu, keinginan untuk meminta orangtuanya berhenti menjadi TKI tercapai. Dia bisa membawa pulang kedua orangtuanya yang telah 30 tahun pulang pergi Malaysia- Madura untuk jadi TKI.

“Ketika 2013 saya wisuda, saya pulangkan kedua orang tua sekaligus saya minta mereka untuk tidak jadi TKI lagi. Konsekuensinya saya harus mensubsidi mereka tiap bulannya,” terang alumni UIN Sunan Kalijaga jurusan Sejarah Kebudayaan Islam ini.