Brilio.net - Tim “Purwo salacca” yang terdiri dari sekumpulan mahasiswa UGM yang mendampingi warga Purwobinangunan, Sleman, Yogyakarta, mengolah  salak menjadi berbagai olahan berhasil meraih berbagai prestasi.

Hardi, Fandi, Hanna, Titi, Iqbal, dan Duha yang tergabung dalam Tim Purwo tersebut mengaku tak menyangka bahwa niatnya membantu masyarakat dalam mengolah produk pertaniannya, salak, akan berbuah prestasi di berbagai ajang kompetisi nasional dan bergengsi.

Tim yang terdiri dari enam orang tersebut merasa prihatin, pasalnya salak yang dipanen dijual dengan harga yang sangat rendah, yaitu pada kisaran Rp 3.000-Rp 7.000/kg, bahkan ketika panen raya, yang terjadi selama beberapa bulan dalam setahun, harga salak bisa anjlok hingga menembus angka Rp 700/kg.   

Para mahasiswa itu pun  berinisiasi untuk melakukan sebuah inovasi baru terhadap hasil panen salak dengan berbasis kemasyarakatan. Mereka mengajari dan mendampingi masyarakat Purwobinangun, yang merupakan salah satu desa di lereng Merapi, yang sebagian besar lahan pertaniannya merupakan perkebunan salak.

Hasilnya, masyarakat yang sejak tahun 2012 didampingi tersebut dapat membuat produk makanan hasil olahan salak menjadi berbagai jenis olahan, seperti stik, kerupuk, manisan bahkan limbah kulit dan isinya juga dimanfaatkan untuk kerajinan seperti bros dan gantungan kunci. Hingga saat ini, bisnis yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat tersebut masih eksis.

Tak di sangka-sangka, program pengabdian masyarakat yang di kompetisikan dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) itu, berhasil menyabet medali emas. Bahkan tim Purwo salacca ini juga memenangkan kompetisi bergengsi wirausaha muda dari Bank Mandiri.

“Dengan adanya program ini, kami berharap masyarakat petani salak akan mendapatkan nilai tambah yang lebih besar, karena tidak sekedar menjadi pembudidaya, namun juga sebagai pengolah salak” ujar Duha kepada brilio.net, Rabu (27/5).

(brl/swh)