Brilio.net - Setiap orang pasti ingin menikmati masa tuanya dengan bahagia. Tapi apalah daya, hal itu belum bisa diraih Mbah Mujito, kakek yang mengaku warga Desa Sidodadi, Garum, Blitar, Jawa Timur ini. Ia hidup sebatang kara di jalanan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Tak ada tempat permanen yang ditinggalinya. Rumahnya yang habis dilalap si jago merah, menjadikan Mbah Mujito hidup sebatang kara di jalan. Istri tercintanya pun telah meninggal saat kejadian kebakaran itu.

Mbah Mujito ditemukan Ahmad Arif Afandi (30) bersama teman-temannya Komunitas Wajah Pribumi Solidarity di pinggir jalan Desa Tambakan, Ganjursari, Blitar pada Minggu (3/5). Saat itu, bau busuk dari berak dan kencing menempel pada celananya.

Di kaki kirinya, terdapat bekas luka bakar parah akibat tragedi kebakaran itu. Luka yang tak pernah tersentuh penanganan medis membuat luka itu menggerogoti kakinya.

Mbah Mujito bukanlah orang yang menderita sakit jiwa. Ia bisa berkomunikasi dengan baik. Tapi faktor usialah yang membuatnya menjadi agak pikun.

Loading...

Mbah Mujito menggelandang sebatang kara usai rumah & istrinya terbakar

Mbah Mujito menggelandang sebatang kara usai rumah & istrinya terbakar

Tak kuasa melihatnya, Arif dan kawan-kawan lalu memandikannya di sungai pinggir jalan. Mereka lantas mengganti pakaiannya dengan pakaian layak pakai lalu diobati lukanya secara seadanya. Tetesan air mata pun tak kuasa ditahan Mbah Mujito saat dimandikan hingga selesai.

"Mungkin ia merindukan perhatian orang, utamanya keluarganya, karena sepertinya memang tak pernah ada orang yang memperhatikannya," kata Arif, ketua Wajah Pribumi Solidarity saat dihubungi brilio.net, Senin (4/5).

Arif pun tak tahu apakah Mbah Mujito memiliki anak atau tidak. Saat ditanyakan di desa tersebut, belum ada orang yang mengenali kakek yang mengaku berusia 92 tahun itu. Ia pun merasa kebingungan jika ingin kembali membangunkan rumah kakek tersebut jika bekas tanah rumahnya yang terbakar tak ditemukan.

Lantaran saat itu komunitas Wajah Pribumi Solidarity tak bisa membawa Mbah Mujito ke pengobatan medis untuk ditangani serius, Mbah Mujito diminta untuk tak berpindah tempat agar mudah jika ditemukan nantinya. "Hari ini saya dan teman-teman baru akan mencari Mbah Mujito lagi untuk dibawa ke dokter," terang Arif.