Brilio.net - Makam Mbah Mudzakir atau KH Abdullah Mudzakir kini berada di lautan. Makam Mbah Mudzakir yang berada di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak itu dulunya daratan, namun lambat laun daratan itu terkena abrasi sehingga menjadi lautan. Konon beberapa rumah di sekelilingnya hancur terendam sehingga ditinggal pemiliknya.

Makam ini menjadi unik karena berada sendiri di laut, tidak ada bangunan di sekelilingnya. Selain keunikan tersebut, keunikan yang lainnya adalah ketika air laut sedang banjir karena pasang. Jalan menuju lokasi makam terendam, sedangkan makam Mbah Mudzakir sendiri tidak tergenang, seolah-olah makam tersebut naik dan tidak terendam oleh air.

Makam ajaib KH Abdullah Mudzakkir, 'terapung' di laut

Makam ajaib KH Abdullah Mudzakkir, 'terapung' di laut

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Makam ajaib KH Abdullah Mudzakkir, 'terapung' di laut

Salah satu orang yang pernah berziarah ketempat itu, Ahmad Muhtasib (26), mengatakan, di makam berukuran 7 x 7 meter itu terasa sejuk. Selain terlindung cungkup, angin laut yang bertiup terasa menyegarkan. "Nama KH Abdullah Mudzakir atau biasa disebut Mbah Mudzakir, di kalangan pesantren cukup dikenal," ujarnya, Selasa (23/2).

Tak heran bila banyak orang dari berbagai daerah yang datang untuk berziarah. Tidak hanya dari Demak, tetapi juga luar daerah.

Mbah Mudzakir sendiri adalah ulama pada masa penjajahan Belanda. Semasa muda, kiai yang lahir di tahun 1869 itu banyak berguru kepada ulama di berbagai daerah. Setelah selesai berguru, ia menetap di Tambaksari, Bedono, Kecamatan Sayung, Demak sekitar tahun 1900 serta menikahi gadis lokal. Di tempat itu, sang kiai mulai melakukan syiar Islam dengan langkah pertama mendirikan sebuah masjid. Konon, metode penyampaian agama yang mudah dicerna membuat banyak santri mengaji kepadanya.

Kemudian setelah meninggal, Mbah Mudzakir dimakamkan di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak. Dusun Tambaksari sendiri merupakan pecahan dari Desa Sayung yang terkena abrasi pada tahun 1998. Lokasi ini berbentuk pulau yang dihubungkan oleh jalan setapak sepanjang 700 meter, semacam jembatan yang kanan-kirinya adalah genangan air laut.

(brl/pep)