Brilio.net - Ujian Nasional (UN) merupakan perhelatan ujian yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Setiap tahunnya selalu ada perbaikan untuk pelaksanaan UN, mulai dari proses penilaian hingga persiapan teknisnya. Bahkan saat ini UN telah berbasis komputer atau online.

Jika kamu pernah bersekolah di Indonesia, tentu kamu akan punya pengalaman tersendiri tentang momen UN, bukan? Apa yang akan kamu ceritakan jika ditanya tentang UN? Rasa tegang? Bahagia? Sedih? Atau bahkan kecewa?

Andri Rizki Putra, lelaki kelahiran Medan, 20 Oktober 1991 ini mengaku sempat kecewa dengan sistem Ujian Nasional (UN) yang ada di Indonesia. Andri merasakan betapa UN kadang membuka peluang untuk tidak berbuat jujur alias curang.

"Saya kecewa dengan pelaksanaan UN di SMP saya yang penuh dengan praktik kecurangan, yang naasnya dimotori oleh guru sekolah yang memberikan kunci jawaban bagi seluruh siswa. Semata-mata untuk mempertahankan reputasi sekolah unggulan dan favorit," kata Andri kepada brilio.net beberapa waktu lalu.

Ternyata kekecewaan terhadap UN tidak hanya dirasakan oleh mereka yang dinyatakan tidak lulus UN. Siapa sangka, lulusan cumlaude Fakultas Hukum (konsentrasi Hukuum Bisnis) Universitas Indonesia (UI) ini pernah merasakan kekecewaan terhadap sistem UN yang ada di Indonesia saat itu.

Loading...

Kekecewan yang dirasakannya tentu menjadi fakta kondisi pendidikan di Indonesia. Bahkan yang semakin membuatnya kecewa adalah kecurangan yang terjadi malah dibantu oleh pihak-pihak yang seharusnya mendidik.

Mahasiswa cumlaude UI ini pernah bongkar kecurangan UN

Usianya saat itu masih tergolong muda, anak kelas 3 SMP. Namun di usia yang terbilang cukup muda, Andri menyadari bahwa yang terpenting dari suatu pendidikan adalah pendidikan moral. Kejujuran adalah segala-galanya.

Kekecewaan Andri saat UN SMP ternyata berdampak pada keberlanjutan pendidikannya di tingkat SMA. Meski berhasil lulus SMP dan masuk ke SMA yang terbilang cukup unggulan, namun Andri akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah di bulan kedua masuk SMA.

Keputusan Andri saat itu bukanlah keputusan yang tidak bertanggungjawab dan hanya didasari emosi belaka. Keputusan berhenti sekolah kemudian membuatnya terpacu untuk belajar secara otodidak selama satu tahun dan akhirnya terbukti dia berhasil lulus ujian kesetaraan paket C atau setara SMA.

Tidak cukup sampai di situ, Andri akhirnya berhasil diterima di Universitas Indonesia. Selama kuliah, dia dikenal sebagai mahasiswa yang cukup aktif dengan berbagai kegiatan penelitian dan mengabdikan diri untuk lingkungan sekitar.

Bahkan kini Andri berhasil merintis Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB). YPAB adalah yayasan yang dikelolanya bersama beberapa relawan untuk membantu pendidikan anak-anak yang putus sekolah. Andri juga menjadi salah satu pemenang Kick Andy Young Heroes 2015. Sungguh luar biasa.