Brilio.net - Jalan yang harus dilalui Birrul Qodriyyah hingga menjadi seperti sekarang, penuh liku. Gadis yang dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi nasional paling inspiratif 2013 dari UGM ini nasibnya pernah akan ditentukan lewat undian daun.

Gadis yang kini sibuk sebagai motivator (simak video di bawah terkait aktivitas Birrul menjadi motivator) itu kepada brilio.net, menceritakan, saat masih duduk di SMA 2 Bantul, nasibnya untuk melanjutkan kuliah pernah akan diundi dengan sebuah daun.

Ketika itu dirinya dan satu temannya jurusan IPA dipanggil guru BK. Birrul diberitahu bahwa dia dan temannya itu lolos seleksi sekolah untuk dikirim seleksi masuk UGM jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM).

Rasa bahagia pasti ada pada Birrul dan temannya karena mereka berdua memang mendambakan bisa kuliah. Lantaran mereka sama-sama dari keluarga kurang mampu, nasib untuk kuliah hanya bisa digantungkan lewat beasiswa, jalur PBUTM salah satunya.

Tapi kebahagiaan itu berubah menjadi kekhawatiran. Guru BK memberi tahu bahwa hanya satu di antara mereka berdua yang akan dipilih. Hal itu karena sekolah Birrul hanya akan mengirim dua siswa, satu untuk siswa IPA dan satu lagi untuk siswa IPS.

Birrul dan temannya yang selalu jadi juara kelas itu pun diminta untuk menentukan keputusan siapa di antara mereka berdua yang mengalah. Birrul diminta untuk mengalah lantaran dirinya yang lebih banyak prestasi juara lomba, sehingga masih terbuka kesempatan untuk masuk lewat jalur lainnya. Seketika itu Birrul menolak. Sejak dulu dia memimpikan untuk mendapatkan beasiswa kuliah di UGM.

Karena tidak ada keputusan maka Birrul dan temannya diberi waktu sehari untuk mengambil keputusan. "Kalau sampai besok enggak ada keputusan siapa yang mengalah, nasib kalian berdua akan saya undi dengan daun," tutur Birrul sambil senyum menirukan perkataan gurunya dulu.

Esok harinya ketika mereka di sekolah, kabar baik datang. Guru BK tersebut mengatakan bahwa setelah dilakukan pemeringkatan dari delapan siswa IPA dan IPS, nilai tertinggi tetap ada pada Birrul dan temannya dari kelas IPA tadi. Sehingga tidak ada siswa kelas IPS yang dikirim PBUTM UGM. "Tapi baru kali ini siswa yang dikirim seleksi dari kelas IPA semua. Kalau tiba-tiba enggak lolos enggak apa-apa ya," tiru Birrul dengan ucapan gurunya.

Birrul akhirnya masuk di UGM. Di salah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia ini, Birrul berhasil menorehkan prestasi dengan menjadi salah satu mahasiswa berprestasi nasional. Bisa jadi jalan cerita Birrul akan berbeda jika saat itu rencana mengundi memakai daun benar-benar dilakukan.

(brl/swh)