Brilio.net - Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Muhammad Agus Setiadi mengatakan, limbah ovarium sapi di rumah potong hewan bisa dimanfaatkan untuk dijadikan embrio yang kedua kali. Hal itu artinya hewan tersebut masih dapat menghasilkan anak.

"Melalui teknologi embrio in vitro, hewan yang dipotong masih bisa untuk kali terakhir menghasilkan keturunan," kata Agus dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB di Kampus, Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat beberapa hari lalu.

Dijelaskannya, jika sapi betina dipotong akan meninggalkan dua ovarium yang rata- rata bisa diperoleh 12,2 sel telur. Jika ditumbuhkan, makan akan menghasilkan 4,6 embrio.

Ia mengatakan, ovarium yang tidak mempunyai nilai ekonomis dapat dimanfaatkan menjadi embrio dengan mengembangkan sapi impor yang memiliki kualitas bagus, dan mengoptimalkan sapi lokal yang dipotong.

"Banyak limbah ovarium di lapangan, tapi karena undang-undang belum ada, jadi tidak terlalu dijalankan," terangnya.

Lanjut dia, teknik pembuahan in vitro diambil dari sel telur hewan yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan. Sel telur dimatangkan dulu lalu digabungkan dengan sperma. Terjadi pembuahan dan tumbuhkan di media kultur dan jadilah embrio yang diharapkan.

Embrio yang sudah terbentuk dibekukan untuk jangka waktu yang tidak terbatas atau di transfer dengan meminjam rahim induk yang akan melahirkan anakan.

"Kalau pada manusia, teknik ini disebutkan bayi tabung," ujarnya dikutip Antara.

Agus menambahkan, ada beberapa aspek yang harus dicermati bersama dalam penerapan teknologi ini. Embrio yang ditansfer ke resipien belum tentu jadi, harus ditemukan hewan yang cocok.

"Pemilihan resipien penerima embrio harus selektif, dengan memperhatikan kesehatan dan catatan reproduksinya. Kalau tidak, ya mati juga. Tetapi sudah jadi embrio sudah final pembuahannya," pungkas dia.