Brilio.net - Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata buku? Buku adalah sebuah jendela sederhana yang membuat kita bisa melihat banyak hal di luar sana tanpa harus mendatanginya satu demi satu. Tapi, tidak semua anak bisa mendapatkan buku. Banyak anak-anak di daerah pelosok kesulitan untuk mendapat akses membaca buku.

Hal ini yang mendorong kumpulan anak muda untuk mencarikan solusi. Mereka yang peduli dengan hal ini salah satunya adalah Komunitas Book For Mountain (BFM). BFM memberikan salah satu solusi untuk ikut berperan langsung dalam kepedulian terhadap minat baca yang tinggi di beberapa pelosok negeri.

Pada awal BFM terbentuk karena kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) Universitas Gadjah Mada tahun 2010 di Lombok Timur. Di luar kegiatan KKN, muncul inisiatif untuk membuka program mengajar bagi anak-anak. Ternyata anak-anak di desa mereka memiliki semangat yang sangat tinggi untuk belajar dan membaca, namun akses untuk mendapatkan buku sangat sulit.

Nyatanya banyak sekolah dasar di Indonesia yang tidak memiliki perpustakaan, atau memiliki perpustakaan namun dengan jumlah buku yang sangat terbatas dan kurang terawat, terutama SD di pelosok Indonesia. Inilah salah satu terbentuknya komunitas ini. "Harapannya semoga lebih banyak anak Indonesia yang terbantu dengan kehadiran komunitas ini, dan masyarakat tetap mempercayakan donasinya kepada kami," ujar Anindita Dhamastri (22) salah satu anggota BFM, Kamis (21/5).

Komunitas ini mempunyai agenda Hari Kumpul Buku, kegiatan yang ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat unuk mendonasikan buku, sekaligus berkumpul dengan donator lainnya dan relawan BFM. Tidak hanya menyalurkan buku, salah satu agendanya juga Sekolah Berjalan (SekBer). "Selain kumpul buku, kita juga ada Sekolah Berjalan tiap dua minggu sekali, fokus pada Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya," ujar Anin.

Loading...

Hingga kini sudah diadakan 22 kali SekBer bertempat di daerah Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo, Magelang dan lain-lain. Kegiatan SekBer ini juga menjadi salah satu ajang untuk mengembangkan kemampuan micro-teaching para volunteer dan juga untuk memfasilitasi para volunteer yang belum dapat mengikuti project.