Brilio.net - Generasi Bakti Negeri (GBN) merupakan salah satu komunitas kepemudaan yang berlandaskan rasa kepedulian dan berbasis pengabdian kepada masyarakat. GBN terbentuk pada tahun 2013 yang berasal dari inisiasi mahasiswa-mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mereka adalah Deni Febrian (Hubungan Internasional/Ketua), Muamar Irfan Aulia (Hubungan Internasional/Wakil Ketua), dan Weni Septi Susanti (Ilmu Ekonomi/Sekretaris).

Niatan mereka yang awalnya hanya untuk melakukan pengabdian, akhirnya menjadi sebuah komunitas dengan anggota yang sudah mencapai 30 orang. Ketiga founder komunitas kemasyarakatan ini memiliki tujuan dan visi yang sama untuk mendedikasikan apa yang mereka punya untuk pendampingan kepada masyarakat khususnya di bidang sosial.

Awal mula kegiatan dari GBN adalah melakukan berbagai kegiatan pengabdian masyarakat untuk di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun beberapa hari terakhir ini mereka mencoba melakukan kegiatan pengabdian yang lebih besar seperti pengabdian kepada masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatya di Desa Aji Kuning dan Desa Maspul Pulau Sebatik, Provinsi Kalimantan Utara.

"Ada pun fokus program dari kegiatan ini ada tiga yaitu, pendidikan, ekonomi kreatif, moral dan intelektual," jelas Deni Febrian kepada brilio.net, Rabu (26/8).

Program pengabdian ini mereka jalankan selama tiga bulan, mulai Agustus hingga Oktober 2015. Untuk program pendidikan sendiri terbagi menjadi lima program yaitu, pendidikan nasionalisme dan budaya, pendidikan karakter, pendidikan IT, pendidikan kesehatan dan pendidikan moral serta agama.

Loading...

Kemudian Program ekonomi kreatif ada beberapa bagian yaitu pendampingan terhadap pengolahan, produksi, packaging dan pemasaran terhadap sumber daya alam andalan Pulau Sebatik, yakni pisang, durian, dan rambutan. Selain itu, mereka juga memperhatikan isu yang berkembang di masyarakat seperti masalah narkoba, sehingga mereka mencoba melakukan pencegahan narkoba dengan pendekatan dakwah.

Diakui Deni Febrian, selama berada di pulau perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut ada banyak pengalaman hidup yang dia dan timnya peroleh, seperti melihat fonomena aktivitas masyarakat dua negara dalam satu pulau, penggunaan dua mata uang, ketimpangan pembangunan antara Indonesia dengan Malaysia di wilayah Pulau Sebatik Indonesia dan Tawau Malaysia, sampai kepada masalah kebergantungan ekonomi masyarakat Pulau Sebatik kepada Malaysia.

Di lain sisi, pendidikan juga masih menjadi permasalahan di sini. Tim GBN harus menenempuh jalan kaki selama 4 km setiap harinya untuk mencapai sekolah dasar di mana mereka setiap harinya mengajar. "Masyarakat Pulau Sebatik sangat antusias terhadap program-program GBN, karena mereka anggap tamu adalah pembawa rezeki," jelas Deni.

[crosslink_1]