Brilio.net - Jam belum genap menunjukkan pukul delapan pagi. Lalu lalang kendaraan yang melintas di Jalan Wijilan Yogyakarta belum begitu ramai, seorang perempuan renta terlihat duduk menggelar dagangannya. Tangan rentanya mengoleskan balsem di kepala sembari memijat ringan. Cuaca yang kurang bersahabat belakangan ini membuat badan Mbah Karto, demikian namanya kurang sehat.

Ya, saban hari Mbah Karto mencoba peruntungan dengan menjual buah-buahan mulai dari salak, pisang, dan jeruk. Setiap buah yang dia jual yang dihargai Rp 15.000 sampai Rp 35.000.

Miris memang diusia senja ini seharusnya Mbah Karto hidup sejahtera. Di mana mereka akan menikmati masa tua dengan anak dan para cucu. Namun tampaknya kata sejahtera tak ada di masa tua tak dapat dialami oleh Mbah Karto Pawiro.

Nenek 84 tahun ini sehari-hari bekerja sebagai penjual buah di daerah Wijilan, Yogyakarta untuk membiayai hidupnya."Bayar becaknya Rp 35.000 sementara untuk buah yang saya jual saya hanya ambil untung Rp 1.000," cerita Mbah Karto pada brilio.net Selasa (1/9).

Sebenarnya Mbah Karto masih memiliki dua orang anak. Namun keduanya merantau dan jarang datang menjenguk. "Anak saya dua, dua-duanya di Palembang tapi jarang pulang ke sini dan jarang kirim uang. Jadi ya si mbah harus jualan gini," cerita Mbah Karto.

Loading...

Suami Mbah Karto sudah lama meninggal jadi mau tidak mau dia harus mengerjakan semuanya sendiri. Tak peduli beban buah yang harus digendongnya setiap hari, Mbah Karto terus melangkah dengan baju tradisional yang dipakainya.  Mbah Karto tetap harus melakukan pekerjaan ini untuk menyambung hidup. Semoga anak-anakmu cepat datang Mbah.