Brilio.net - April Lalu, guru mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Muhammad Zulham (37) terpilih mewakili Indonesia di ajang Global Educator Exchange yang digelar perusahaan raksasa teknologi informasi Microsoft di markasnya di Washington, Amerika Serikat (AS). Ia terpilih berkat inovasi metode pengajaran abad 21 yang diterapkannya di kelas.

Ditemui di ruang kerjanya, Zulham mengatakan, awalnya dia mengikuti kompetisi yang diselenggarakan Microsoft melalui situs educatornetwork.com “Saya memasukkan proposal, upload video tentang metode yang saya ajarkan di kelas. Itu sekitar bulan Oktober 2014 lalu,” ungkapnya membuka obrolan dengan brilio.net, Senin (11/5)

Setelah disaring menjadi 15 besar dari seluruh peserta, dia masuk 3 besar nasional dan berhak mewakili Indonesia. “Saya berangkat ke AS bersama dua peserta lain dari Jawa Timur. Pihak Microsoft menilai aplikasi yang saya terapkan memenuhi beberapa aspek yang disyaratkan mereka. Di AS saya mempresentasikan metode pembelajaran abad 21 di hadapan peserta dari seluruh dunia,” lanjutnya.

Apa sih metode pembelajaran abad 21? Menurut guru mata pelajaran IPA tersebut, pembelajaran abad 21 harus membuat siswa aktif berkomunikasi, berbasis Information Communication Technology (ITC), salah satu medianya adalah dengan smartphone. “Kenapa smartphone, karena tidak semua siswa di sini punya laptop, kalau smartphone hampir semua punya,” tegasnya

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Dengan metodenya itu, ia melihat siswa menjadi lebih aktif dan lebih berani tanya jawab tak hanya dengan sesama siswa tapi dengan guru. “Bukan karena siswa tidak bisa. Seringnya mereka bisa menjawab pertanyaan dengan cara ditulis di buku, tapi kalau sudah disuruh menjawab atau menerangkan secara lisan agak kesulitan."

Ia menambahkan, metode pembelajarannya tersebut juga berhasil membuat prestasi akademik siswa mengalami kenaikan karena siswa sering bertukar informasi dan berkolaborasi dengan kelompok kelompok siswa lain juga dengan guru mata pelajaran. “Ke depannya saya berharap bisa mengembangkan untuk bertukar informasi dengan sekolah-sekolah lain, bahkan dengan sekolah rekan-rekan saya selama mengikuti Global Educator Exchange di luar negeri,” tutupnya mantap.

(brl/swh)