Brilio.net - Roda kehidupan manusia terus berputar. Ada masa seseorang berada di saat bahagia ada pula saatnya seseorang itu terpuruk. Hidup Er, perempuan berusia 25 tahun ini tidaklah mulus. Lika-liku kehidupan dilaluinya.

Kondisi ekonomi yang sulit dan kebutuhan yang semakin banyak membuat Er kecil harus tinggal bersama neneknya.  Ayah dan ibu Er berada di luar kota untuk bekerja. Tinggal di rumah nenek inilah menjadi awal cerita kelam masa lalu ER. ER yang ketika itu masih berusia 10 tahun  mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak pamannya sendiri.

"Pelecehan seksual itu menimpa saya saat duduk di bangku kelas 2 dan kelas 4 SD, saya mendapatkan pelecehan sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh anak pamanku, saya ingin marah saat itu tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, saya pun depresi" cerita anak pertama dari empat bersaudara ini kepada brilio.net melalui layanan telpon bebas pulsa, Jumat (9/10).

Masuk usia remaja, ER kemudian mengenal pergaulan bebas dengan melampiaskan rasa kesepiannya dengan mengkonsumsi narkoba. Dia menganggap narkoba adalah pelarian yang bisa menyenangkan, meski akan membuatnya terjebak dalam hal-hal negatif lainnya.

"Dulu saya ingin merasakan kebebasan dan akhirnya saya salah pergaulan dengan mengkonsumsi narkoba, mencuri untuk beli obat sampai dikeluarkan dari sekolah, namun itu semua tidak membuat orang tua saya menjadi lebih peduli kepada saya," lanjut wanita asal Tangerang ini.

Loading...

Akhirnya demi mengontrol kenakalan yang dilakukan oleh ER, orang tuanya pun memutuskan untuk memasukkan ER ke pesantren. Namun ternyata pesantren belum dapat membuat ER berubah. Meski telah tinggal di pesantren dengan nuansa agama yang kental, ER tetap menjadi pecandu dan sempat mengalami overdosis.

ER masih merasa orang tuanya tidak peduli dengan kondisinya. Beberapa tahun berlalu akhirnya ER hanya menyelesaikan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan tidak lagi melanjutkan pendidikannya.

Mencoba bertahan hidup dan tidak lagi terjebak dengan hal-hal negatif ER bertemu dengan seorang pria yang baik yang kemudian melamarnya. ER memiliki suami yang benar-benar menyayanginya dan tidak pernah mempermasalahkan masa lalu yang pernah dijalani oleh ER. Hidup bahagia bersama suami yang menerimanya apa adanya membuat ER merasa bersalah, suami yang begitu baik dan setia terhadapnya malah menimbulkan rasa bersalah yang mendalam pada dirinya.

"Suami saya tahu semua tentang masa lalu saya dan dia tidak pernah mengungkit apapun tentang masa lalu saya, cuma hal itu yang membuat saya merasa bersalah dan tidak pantas untuknya yang sangat baik," cerita ibu dari 3 orang anak ini.

Merasa tidak pantas mendapatkan suami yang begitu baik, ER berpikir untuk berpisah dari suami. Hal itu dilakukan supaya suami bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada dirinya. ER pun tergoda untuk selingkuh demi membuat suami bisa menceraikannya. Keinginannya sempat terkabul. Suaminya dua kali menjatuhkan talak.

"Saya sudah 2 kali menikah dengan dia setelah jatuhnya talak, namun suamiku masih saja memaafkan semua yang saya lakukan dan kembali menerimaku dengan baik," lanjut ER.

Kebaikan suami yang senantiasa memaafkan ER dan menerima segala kondisi ER yang kemudian membuat ER bertekad menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Dia tidak akan membiarkan anak-anaknya kekurangan kasih sayang sedikitpun seperti yang telah dialaminya semasa kecil.

Cerita ini disampaikan oleh Er melalui telepon bebas pulsa Brilio.net di nomor 0-800-1-555-999. Semua orang punya cerita. Ya, siapapun termasuk kamu punya kisah tersembunyi baik cerita sukses, lucu, sedih, inspiratif, misteri, petualangan menyaksikan keindahan alam, ketidakberuntungan, atau perjuangan hidup yang selama ini hanya kamu simpan sendiri. Kamu tentu juga punya cerita menarik untuk dibagikan kepada kami. Telepon kami, bagikan ceritamu.