Brilio.net - Di usianya yang senja, Suhartono, kakek usia 83 tahun itu masih gigih mencari nafkah dengan keringat sendiri berjualan karung di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Meski dengan keadaannya sudah tidak mampu berdiri tegap lagi, Mbah Tono, sapaan akrab mbah Suhartono, lebih memilih menguras keringat berjualan dari pada harus meminta-minta mengharapkan belas kasihan orang.

Kakek kelahiran 1932 itu mengaku sudah lebih dari 60 tahun lalu berjualan karung, sejak zaman penjajahan Belanda hingga Romusa. “Zaman penjajahan dulu, karung banyak dijadikan untuk wadah penyimpanan makanan hingga bantal tidur,” tuturnya kepada brilio.net, beberapa waktu lalu.

 

Kerja keras kakek ini semestinya menginspirasimu....


Tak bisa dipungkiri, keadaan zaman yang semakin modern yang serba plastik, membuat Mbah Tono hanya bisa pasrah ditinggal banyak pelanggannya. “Dagangan iku kayak orang mancing, ora mesti oleh,” ungkapnya.

Meski tak berpenghasilan tetap, bagi Mbah Tono, hal tersebut tidaklah masalah, yang terpenting baginya selama masih bisa berjalan, selama itu pula dirinya akan berjualan.

 

Kerja keras kakek ini semestinya menginspirasimu....


Semasa sehatnya dulu, Mbah Tono biasa membawa dagangannya dengan dipanggul, namun karena keadaanya yang semakin renta, kini Mbah Tono hanya mampu membawa dagangannya dengan cara ditarik, dengan bantuan papan roda di bawahnya.

Setiap hari sejak jam 06.00 wib, Mbah Tono sudah datang di pintu masuk pasar Beringharjo. Dirinya mengaku senang ketika masa penerimaan mahasiswa baru datang, pasalnya tidak jarang banyak anak muda yang membutuhkan karung dan membelinya pada mbah tono, “Menawi pas ospek mahasiswa baru, pernah 200 karung telas (kalau masa ospek, karung saya bisa habis 200)," ujarnya.