Brilio.net - Event Artweek yang dilangsungkan di Pusat Kebudayaan Koesnandi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (PKKH UGM), Yogyakarta, beberapa waktu lalu masih menyisakan cerita.

Salah satunya karya berjudul "Evolusi si Alas Kaki". Karya tersebut merupakan karya dari Salima Hakim. "Evolusi si Alas Kaki" berupa sepatu yang memiliki evolusi model dari waktu ke waktu. Jika orang melihat secara sekilas, mungkin terlihat biasa saja. Namun, karya wanita kelahiran 27 Desember tersebut menyimpan makna yang begitu besar.

"Latar belakangnya berangkat dari kegelisahan saya, saat jalan di belakang orang yang sedang pegang gadget, sedikit sekali orang yang bisa lepas dari penggunaan gadget dan berbagai bentuk teknologi lain," ujar Salima kepada brilio.net, Selasa (23/6)

Karya seni yang mempertanyakan penting mana, gadget atau alas kaki?

"Kita punya kecenderungan untuk selalu menunduk seolah sesuatu yang ada di gadget menjadi lebih menarik dibandingkan yang sejajar dengan mata, saya kemudian berpikir untuk membuat karya yang ada di bawah, bukan di posisi eye-level," imbuhnya.

Loading...

Wanita lulusan Desain Komunikasi visual Universitas Pelita Harapan tersebut sudah mulai aktif mengikuti berbagai pameran sejak dua tahun terakhir. Selain berprofesi sebagai seniman, Salima juga merupakan tenaga pengajar di Universitas Multimedia Nusantara dan Universitas Pelita Harapan. Karyanya banyak dikagumi orang sebab memiliki ciri khas yang unik serta berbeda.

Karya seni yang mempertanyakan penting mana, gadget atau alas kaki?

"Sebagian besar aspek pembuatan sepatu-sepatu yang kemudian bisa digunakan oleh pengunjung tersebut, saya kerjakan sendiri. Baik dari proses perancangan bentuk sepatu, pembuatan pola, penjahitan, sampai assembling bagian2 menjadi sebuah sepatu utuh," jelas Salima.

Bahan dasar dari sepatu-sepatu tersebut adalah kain flanel, dakron, benang dan berbagai material yang biasanya digunakan untuk membuat boneka. Pembuatannya sendiri membutuhkan waktu 3 minggu.

"Harapannya mungkin untuk bisa lebih banyak bertemu dengan seniman-seniman lain untuk lebih banyak belajar soal proses berkesenian dan saya selalu terbuka dengan berbagai input, masukkan dan kritik dari siapapun yang melemparkan pendapatnya tentang karya yang saya buat," tandas Salima.