Brilio.net - Sebuah studi oleh Aarhus University, Denmark merilis penampakan peta bumi jika keberadaan umat manusia benar-benar tidak ada. Dalam peta tersebut, tampak persebaran binatang, khususnya mamalia lebih merata di Amerika Selatan dan Utara.

Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu penyebab kepunahan hewan adalah karena eksistensi dari manusia. Bahkan, para peneliti menyebut manusia sebagai predator paling efisien. Manusia juga mampu mengeksploitasi binatang melebihi makhluk apapun.

Ini penampakan bumi jika tanpa manusia dan hanya dihuni binatang

Dalam peta di atas, tampak keanekaragaman binatang lebih merata. Namun setelah adanya manusia, hampir seluruh bagian bumi berwarna biru yang artinya terdapat penurunan drastis pada keanekaragaman binatang, khususnya mamalia.

"Eropa Utara bukanlah satu-satunya tempat di mana manusia telah banyak mengurangi keragaman mamalia, namun itu menjadi fenomena di seluruh belahan dunia," kata Profesor Jens-Kristen yang dilansir brilio.net dari Daily Mail, Senin (24/8).

Loading...

Peta bumi saat ini juga menunjukkan di wilayah Afrika keragaman binatang masih terjaga. "Kebanyakan kebun binatang sekarang berada di Afrika, tetapi dalam keadaan alami, tentu akan banyak binatang besar yang hidup di tempat lain," kata tim peneliti, Dr Soren Faurby.

Mereka menambahkan keberadaan banyak spesies mamalia di Afrika bukan karena iklim dan kondisi lingkungan yang optimal, tetapi karena itu adalah satu-satunya tempat yang belum dijamah oleh manusia.

"Keanekaragaman hayati yang masih tinggi di daerah pegunungan disebabkan oleh kenyataan bahwa pegunungan menjadi tempat perlindungan bagi spesies yang aman dari perburuan dan perusakan habitat, bukan karena kehendak binatang," imbuh Faurby.

Sementara itu, dalam sebuah studi lain disebutkan bahwa manusia 14 kali lebih agresif dalam berburu ikan dibandingkan predator laut seperti hiu dan paus. "Teknologi pembunuh paling efisien, sistem ekonomi global dan manajemen sumber daya yang mengutamakan keuntungan jangka pendek menjadikan manusia sebagai predator super," kata Profesor Chris Darimont dari University of Victoria, Kanada.

"Dampak manusia terhadap lingkungan dan planet bumi sangatlah ekstrem dan membuat kita menjadi predator yang paling dominan," pungkasnya.