Brilio.net - Kepedulian Hijrah Purnama Putra dengan persoalan sampah memanggilnya untuk berbuat sesuatu demi pengelolaan sampah yang lebih baik.

Upaya dosen Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) itu dimulai pada April 2008. Ketika itu Hijrah sedang menjalani studi Strata-2-nya di Universitas Gadjah Mada. Dia membawa serta seorang teman S-2-nya dan 2 orang mahasiswa S-1.

Tinggal di sekitar kos-kosan dirasa amat berpotensi menghasilkan sampah. Banyak warung makan: burjo, angkringan, kantin. "Kita datang ke burjo langganan kita, minta mereka menyimpan sampah. Awalnya mereka keberatan karena dirasa sampahnya mengganggu. Begitu dikumpulkan bersemut. Untuk menghargai mereka kita beli sampahnya, setiap Sabtu dan Minggu diambil," ujar Hijrah kepada brilio.net, Selasa (16/6).

Pembayaran tidak langsung dilakukan waktu pengambilan. Sampah yang diambil dicuci bersih lalu dijemur, barulah dihitung. Dari sana kemudian sampah dihargai, ada yang Rp 20.000 ada yang Rp 30.000 pada waktu itu. Awalnya tak ada niat apa pun, hanya mengumpulkan sampah.

Ternyata sistem seperti itu membuat para pengusaha burjo tertarik mengumpulkan sampah. Mereka pun berbondong-bondong mengumpulkan sampahnya dikarenakan mereka tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk petugas sampah yang biasa keliling mengambil sampah di warung mereka, malah dengan mengumpulkan sampah mereka ke bank sampah yang diprakarsai Hijrah ini mereka malah mendapatkan uang.

Loading...

Sempat selama satu tahun hanya mengumpulkan sampah tanpa diolah, ditambah makin banyak warung burjo yang mengumpulkan sampah ini akhirnya Hijrah dkk memutuskan harus mengolahnya menjadi suatu produk.

Menyadari di antara mereka tak ada yang mampu mengolah menjadi suatu produk, mereka mengorderkan kepada ibu-ibu rumah tangga yang bisa mengolahnya. Orderan pertama kali adalah tas sebanyak 250 buah untuk suatu seminar di UGM. Selepas dari itu mereka menjadi semakin semangat dan memberanikan diri untuk membuat produk lainnya.  

Hijrah Purnama Putra, penggagas bank sampah Jogja

Istilah bank sampah ini baru muncul pada 2010. Sekarang sudah ada 180 kelompok. Per kelompok berisi 50-100 orang. Awalnya menerima pribadi, namun agar lebih besar dibuatlah per kelompok. Perkiraan kami sekarang sudah ada sekitar 800 orang.

Sistem pembayaran sampah tidak tunai. Sampah dihitung di tempat pengumpulan sampah oleh petugas bank sampah, bukan oleh nasabah. Sampah dihitung untuk dihargai berapa, kemudian dibayarkan nanti setelah sampah sudah diolah jadi produk dan laku.

Sampah yang biasa diolah menjadi produk adalah plastik sachet yang ada lapisan aluminiumnya. Sampah dihitung per lembar bukan per kilo. Per sachet ada yang Rp 10 sampai Rp 75 sesuai ukuran. "Jadi kami ingin sangat menghargai setiap usaha mereka mengumpulkan sampah," ungkap Hijrah. Tidak perlu dicuci yang penting dipotong rapi. Rata-rata per bulan bisa menerima 50.000 bungkus.

Pemasukan per bulan tidak tentu, sesuai orderan. "Kami tidak menghitung secara pasti karena orientasinya bukan murni bisnis, tapi sosial enterpeneur. Jadi mau berapapun kita tetap jalan". Yang jelas, cukup untuk membiayai 12 orang pegawai sesuai UMK ditambah THR dan untuk sewa outlet.

Hijrah Purnama Putra, penggagas bank sampah Jogja

"Kita pernah membuat kelompok namanya pejuang sampah yang bertugas memberi pemahaman kepada masyarakat seputar sampah. Anggotanya sebanyak 50 orang. Tapi sayang nggak bertahan lama. Setiap bulan minimal 2 tempat yang didatangi, atau sesuai permintaan," ungkap hijrah.

Membakar memang cara yang terlihat paling simpel. Namun sebenarnya itu hanya memindahkan yang tampak menjadi tidak nampak. Yang padat berubah jadi gas setelah dibakar, dan justru ini lebih berbahaya karena bisa dihirup manusia.

"Jadi di desa-desa kita sosialisasikan agar tidak membakar sampah. Sampah harus dipilah dari awal," kata Hijrah.

Di bank sampah Project B ini sampah diklasifikasi menjadi empat:

- Sampah organik (bisa dikomposkan)

- Sampah layak kreasi (plastik berlapis aluminium foil)

- Sampah layak jual (kertas, plastik, logam, kaca, kaleng, botol)

- Sampah layak buang (yang sudah tidak bisa diolah)

Kamu bisa mengundang tim Project B untuk mengadakan sosialisasi di tempatmu dengan menghubungi facebook Project B Indonesia, Instagram Project B Indonesia, atau twitter @projectb_indo.